Tiap Hari, 3.000 Hektar Sawah Lenyap

Di Bekasi, 8.000 hektar sawah beririgasi segera beralih fungsi. Jutaan petani menganggur dan produksi beras nasional kian merosot. Krisis pangan yang kini melanda dunia merupakan warning..

Oleh : Raja Huta

SEBAGIAN kehidupan kita memang sudah bersifat virtual, tetapi beras yang kita makan masih berasal dari padi, dan padi masih harus ditanam di sawah. Tahukah Anda? Sawah beririgasi di Indonesia cuma 7,4 juta hektar, dan setiap hari jumlah itu menyusut rata-rata 3.000 hektar —dikonversi jadi areal industri dan perumahan.

Inilah bukti bahwa kita memang bangsa yang dungu, bermental budak dan penghianat. Setiap orang yang mendapat keuntungan pribadi dari proses pengalihan fungsi sawah-sawah beririgasi dan subur itu; kemungkinan akan merasa dirinya cukup pintar dan mujur. Mendapat uang dengan gampang dan cepat, lalu menikmati kemewahan, itu terlanjur dianggap hebat.

Padahal, kemujuran yang sama bisa juga dirayakan oleh orang yang sukses menjual ibunya, isterinya dan anak perempuannya sekaligus. Apa bedanya ?

Sawah-sawah beririgasi itu adalah sumber kehidupan yang vital, bukan hanya buat petaninya, tapi juga bagi puluhan juta orang yang bekerja di luar sektor pertanian. Tidak hanya orang kota yang membutuhkan beras hasil sawah-sawah itu; tapi juga para nelayan dan peternak di pedesaan, yang tidak memproduksi padi karena tanah mereka kurang subur atau tidak ada irigasi.

Kini, ketika seluruh dunia sedang dihantui krisis pangan– bahkan di beberapa negara sudah menjurus kelaparan; para petani dan pemerintah harus mengamankan sawah dan lahan pertanian. Soalnya, kalau sudah terjadi krisis pangan; percuma saja punya uang sebanyak apa pun, karena uang tidak bisa menumbuhkan padi dan bahan pangan lainnya.

Pendek kata, sawah beririgasi dan subur yang sebagian besar terdapat di Pulau Jawa adalah tanah emas dan pilar kehidupan bangsa yang harus dipelihara dan dijaga. Itu harus kita keramatkan sebagai holyland— tanah pemberian Tuhan yang tak ternilai harganya. Dan itu jaringan irigasi yang sangat bagus, adalah karya besar bangsa kita; hasil perjuangan dan pengorbanan selama berabad-abad.Pokoknya, NOT FOR SALE.

Kesalahan kita yang terbesar dalam hal ini—dan itu membuktikan Indonesia memang bangsa yang tolol, kita memperlakukan modal (sawah beririgasi dan subur) sebagai komoditi. Padahal kita tahu betul, sekali berubah menjadi areal pabrik atau perumahan, padi tidak akan tumbuh lagi di situ.

Dan sekali si petani kehilangan sawahnya yang subur, dia dan keturunannya bakal kehilangan itu selamanya. Lingkungan sekitar pun ikut merugi, karena perubahan fungsi lahan biasanya dilakukan secara parsial; maka aliran air akan menjadi kacau dan menimbulkan banjir.

Pengalaman kerabat Soeharto di Inggris

Sebagai perbandingan , Inggris yang merupakan negara kelahiran industri, sampai saat ini masih melindungi dengan ketat daerah-daerah pertaniannya yang subur. Kalau Anda naik kereta api dari London ke Nottingham atau kota-kota lain di pedalaman (Midland), Anda akan menyaksikan hamparan luas daerah pertanian yang tertata baik, dan terpisah dari kawasan industri.

Tampak rumah-rumah petani mengelompok di kawasan hunian yang telah ditentukan dengan jelas. Undang-undang Inggris memang tidak mengizinkan perubahan fungsi lahan, sekalipun oleh pemilik tanah sendiri.

Di London pun berlaku ketentuan yang sangat ketat, mencakup luas tanah, bentuk arsitektur dan batas ketinggian bagunan. Salah seorang kerabat Soeharto pernah menguji kesaktian aturan itu dan mendapat malu. Duitnya yang bejibun ternyata tidak ada artinya di hadapan hukum yang berjalan tegak. Niatnya membeli tanah melebihi ketentuan, mendapat ganjaran ceramah panjang lebar dari petugas agraria setempat. Itu kejadian tahun 90-an.

Lenyap 3.000 hektar per hari

Pada tahun 2005, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah mencanangkan bahwa pada 2025 akan ada lahan abadi sawah seluas 15 juta hektar. Itu luar biasa. Tapi faktanya, luas sawah irigasi yang ada malah menyusut terus dengan kecepatan yang luar biasa, yaitu rata-rata 110.000 hektar per tahun. Atau rata-rata 3.000 hektar per hari.

Luas sawah beririgasi di Indonesia sekarang ini cuma sekitar 7,4 juta hektar. Dalam periode singkat dari tahun 1999 ke 2002 saja, sawah beririgasi yang beralih fungsi seluas 423.857 hektar.

Di daerah Jabar, yang sedari dulu merupakan lumbung padi nasional, laju konversi sawah irigasi rata-rata 5.000-7.000 per tahun. Menurut Ketua Himpunan Kerukunan Tani (HKTI) Jabar Rudi Gunawan, dari jumlah itu sekitar 4.500 hektar adalah lahan produktif dan subur.

Sawah-sawah yang berubah fungsi itu terdapat di Karawang, Bandung, Garut dan Cianjur, kata Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Barat Oo Sutisna kepada harian Kompas (18/3). Dalam tahun ini, sekitar 8.000 hektar sawah beririgasi di Bekasi (Jabar) akan berubah fungsi menjadi lokasi industri dan perumahan.

Di Sumatera Selatan, yang saat ini memiliki lahan persawahan seluas 727.441 hektar, kecepatan lenyapnya sawah subur rata-rata 8 % per tahun. Padahal sudah ada upaya pemda setempat mencetak sawah baru dengan pertumbuhan 4-5 % per tahun, namun sia-sia saja karena sawah yang berubah fungsi jauh lebih luas.

Sistem irigasi Subak di Bali terancam punah

Di Bali lebih memprihatinkan lagi. Meskipun alih fungsi sawah beririgasi “hanya” sekitar 700-1000 hektar per tahun, namun sawah-sawah yang lenyap itu adalah bagian dari sistem irigasi subak yang dibangun sejak abad ke-8. Pada 1997, di Pulau Dewata masih terdapat 3000 unit subak, mencakup 87.850 hektar sawah. Namun saat ini tinggal 1.612 unit subak, dengan areal sawah seluas 82.095.

Kebanyakan sawah beririgasi di Bali dialihfungsikan menjadi areal pemukiman, usaha jasa perdagangan dan pariwisata. Di kawasan wisata Kuta, konversi lahan besar-besaran terjadi pada 1999, sekitar 487 hektar sawah disulap menjadi areal hotel, pemukiman, usaha pariwisata dan jalan raya.

Subak adalah warisan kearifan lokal yang luar biasa. Pada intinya, sistem ini merupakan manajemen terpadu yang sangat efektif mengatur pendistribusian air ke sawah-sawah penduduk. Namun selain fungsi dasarnya sebagaimanajemen irigasi, Subak adalah bagian integral dari way of life masyarakat Bali.

(http://www.ayomerdeka.wordpress.com)

Tag: , , , , , , , , , , , , , , ,

7 Tanggapan to “Tiap Hari, 3.000 Hektar Sawah Lenyap”

  1. sawali tuhusetya Says:

    sungguh mengerikan betul! bukan lagi sebuah ironi, melainkan tragedi. negeri agraris, tetapi begitu biadab memperlakukan lahan pertanian yang seharusnya menjadi lumbung padi. sekali lagi membuktikan bahwa negeri ini memamng dihuni oleh sengkuni2 baru yang memuja materialisme dan hedonisme dg mengorbankan para varia.

  2. Robert Manurung Says:

    @ sawali tuhusetya

    Memang mengerikan Pak, dan lebih kita sadari lagi sekarang; ketika seluruh dunia terancam krisis pangan. Dalam keadaan krisis ini, negara-negara besar sudah mulai menimbun beras; terutama Cina dan India; sementara negara-negara kecil seperti Haiti sudah mulai dilanda kerusuhan karena harga yang membubung dan persediaan langka.

    Yang bikin kita mengelus dada–dari gemas sampai geram; tanah-tanah subur itu kok dijadikan barang dagangan. Kok gampang sekali diubah jadi pabrik. Sawah-sawah beririgasi yang subur itu adalah bagian dari investasi besar bangsa kita; bukan hanya uang, tapi juga pengorbanan kolektif leluluhur kita mencetak dan merawat sawah-sawah itu.

    Keseimbangan ideal taanah-tanah subur itu tak mungkin bisa dibuat; itu proses. Sehingga, kalaupun pemerintah mencetak sawah-sawah baru ada kemungkinan rentan hama.

    Mestinya pemerintah melindungi sawah-sawah emas itu; misalnya mewajibkan petani menjualnya kepada pemerintah, jika memang terpaksa menjualnya. Atau memberikan pinjaman jangka panjang, dengan agunan sawah; sehingga sawah-sawah itu tak mungkin berubah fungsi.

    Salam.

  3. tomyarjunanto Says:

    Persenjatai Buruh Tani!!! hancurkan Kapitalis Birokrat dan Tuan Tanah Keparat.

  4. Siallagan Says:

    ….Padahal, kemujuran yang sama bisa juga dirayakan oleh orang yang sukses menjual ibunya, isterinya dan anak perempuannya sekaligus. Apa bedanya ?….

    Sengaja kukutip kalimat ini. Aku lebih tertarik merenungkan kadar emosi yang memancar dari tulisan ini. Tapi akan adakah jalan dari amarah dan kesedihan menanggapi data dan fakta????

  5. Okta Sihotang Says:

    mengerikan sekali….
    so, gimana pengatasannya ??

  6. Menggugat Mualaf Says:

    di dunia masa kini, manusia memang perlahan menjelma menjadi kanibal. memilih memberi makan besi-besi ciptaannya dan membiarkan sesamanya mati kelaparan. konversi bahan pangan menjadi bahan bakar -biofeul-, memang sudah menunjukkan gejala kanibalisme ini.
    sungguh, indonesia telah menjadi satu diantaranya..

    kesadaran ini harusnya bisa membukakan mata kita bersama. sebagai umat manusia kita masih bisa memilih, memberi kehidupan pada mesin atau memberi kehidupan pada manusia?
    berat memang, tapi ini harus segera dihentikan!
    pemerintah dan seluruh pengusaha harus bertemu tuk sungguh-sungguh membahas ini..

  7. ikhwanabd Says:

    saat masa panen tiba,justru petani tak mampu mendapat untung dengan layak.
    saat harga produksi CPO Rp.3800/L kemudian dijual kembali menjadi Rp.12.000 sebuah keanehan. saat komoditas di lempar ke pasar,justru hukum ekonomi supply-demand-price tak berlaku.

    sudah pasti ada konspirasi disini,dan konspirasi dilakukan pada sektor strategis. strategis untuk mensejahterakan rakyat dan juga memecah bangsa.

    konspirasi?mungkin….

    dimana para “konspirator” bukan menjual beras, tapi “bermain” beras
    bukan “berjualan” minyak tapi “bermain” minyak
    “bermain” istilah yang kerap dipakai di lingkungan bursa saham, dan seringkali terdapat perilaku “bermain keterlaluan”. membeli dengan rendah, menjual dengan harga tinggi. dan harga inilah yang sampai ke pasar.

    lalu siapa yang bermain?
    zaman kini kapitalisme kerap dihembuskan sebagai isu utama.
    lalu siapa konspirator itu?entahlah,mungkin pemilik kapital terbesar di dunia yang kekayaannya berpuluh kali lipat gabungan GDP negara seluruh dunia dalam setahun lah pelakunya. total 516 triliun US$ dipermainkan disana (http://www.ekasih.com/index.php?option=com_content&task=view&id=261&Itemid=1)

    wallahua’lam

    -mahasiswa kacang hijau-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: