Indonesia Butuh Pemimpin Berjiwa Negarawan

Keberagaman, kata tokoh muda NU itu, adalah takdir yang tidak bisa lagi diubah. Maraknya gejolak yang dipicu egosentris agama atau suku lantaran tidak paham soal takdir tersebut.

BANGSA dan negara ini membutuhkan guru bangsa, yang tidak sekadar pemimpin, melainkan juga memiliki visi kenegarawanan yang bisa memahami keragaman budaya dan menjadikannya potensi. Ia juga dapat memperlakukan minoritas sebagai bagian elemen kekuatan bangsa.

Itulah kesimpulan dari beragam pendapat yang tercetus dalam Diskusi Budaya Menguak Tabir Multikulturisme. Diadakan di Keuskupan Agung Bandung, Sabtu malam (26/4), dengan para pembicara Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono (HB) X, budayawan Jakob Sumardjo, seniman Garin Nugroho dan Franky Sahilatua, aktivis Nahdlatul Ulama (NU) Asep Saeful Muhtadi, dan Wakil Ketua DPR Papua Komaruddin Watubun.

Garin Nugroho mengatakan, negara ini lama kehilangan sosok negarawan seperti Soekarno dan Mohammad Hatta. Kedua tokoh itu berani menentang hegemoni mayoritas demi sebuah visi besar : keberagaman.

“Saat ini yang terjadi sebaliknya. Yang ada politik massa, yang cenderung materialistik. Pluralisme tidak berjalan dalam warna kebijakan,”katanya.

Pemimpin ideal di negara multikultur macam Indonesia, kata Garin, adalah yang berjiwa kenegarawanan. Yang berani tidak populer, dan tak terkooptasi suara mayoritas, demi kenyataan pluralisme.

“Di berbagai negara, semua sedang hangat membicarakan soal multikultural yang makin nyata dibutuhkan di era global ini,”kata sutradara dan pemikir budaya itu.

Butuh sosok Guru Bangsa

Paralel dengan pandangan Garin, tokoh muda NU Asep Saeful Muhtadi mengungkapkan kerinduan akan sosok guru bangsa. Dia bilang, negara ini membutuhkan guru bangsa yang bisa memahami secara utuh konteks keberagaman kultur, etnis, dan agama secara nyata.

“Kita perlu sosok yang bisa merajut kembali keberagaman “siswa” yang tersebar di Nusantara ini dan menjadikannya kekuatan,”ujar Asep.

Keberagaman, kata tokoh muda NU itu, adalah takdir yang tidak bisa lagi diubah. Maraknya gejolak yang dipicu egosentris agama atau suku lantaran tidak paham soal takdir tersebut.

“Kenyataannya jika selama ini tidak berjalan indah, karena mereka tidak memahami kondisinya, termasuk agamanya. Tak ada agama menghalalkan pemaksaan,”ujarnya.

Ika untuk bhinneka

Menurut Sultan HB X, bangsa ini semestinya memiliki pola pikir yang pluralis. Menjadikan keikaan sebagai bhinneka. Tidak sekadar bhinneka demi tunggal ika.

“Jika masyarakat terbiasa berpikir pluralis, mereka tidak akan mementingkan lagi dari mana asal-usulnya,mana bagian barat dan timur republik ini, atau presiden non-Jawa atau Jawa,”kata Sultan.

Di banyak negara, kata Sultan, pluralitas menjadi modal untuk membangun bangsa. Subkultur, keakuan, dan kekamian dapat dijadikan modal kekitaan. “Di Indonesia tidak. Keakuan ya untuk kami, golongan. Belum ada kekitaan yang menonjol.”

Sebelumnya, saat berbicara dalam Dies Natalis dan Wisuda Universitas Jambi, Sabtu, Sultan HB X juga mengingatkan, bangsa Indonesia harus berani memikirkan dan mempertajam kembali kebijakan pembangunan untuk menyelamatkan negeri ini, dengan lebih menitikberatkan pada nilai dan budaya. Perlu dilaksanakan evaluasi tentang kebangsaan dan tentang apa yang diharapkan demi masa depan Indonesia yang lebih baik.

Sultan HB X mengibaratkan keberagaman di Indonesia seperti bintang di langit, terlihat tenang, tertib; seolah tak terjadi persoalan apa pun. Namun, kalau kini terjadi konflik, berarti ada yang salah dengan bangsa ini.

Kompas, Senin 28 April 2008

================================================================================== . http://www.ayomerdeka.wordpress.com

Iklan

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

15 Tanggapan to “Indonesia Butuh Pemimpin Berjiwa Negarawan”

  1. hanggadamai Says:

    kita memang sangat merindukannya

  2. FraterTelo Says:

    bagaimana kalau Indonesia dipegang/dipimpin oleh seorang yang awalnya dikatakan sebagai Negarawan? akan seperti apa jadinya Indonesia? atau akan seperti apa jadinya Negarawan itu ketika sudah jadi pemimpin dan masuk dalam politik praktis? apakah masih akan jadi Negarawan? ataukah akan jadi pecundang seperti kebanyakan orang yang awalnya (mengaku-ngaku) Negarawan? Piye iki boss?

    NB:
    aku pesen artikel tentang Ramos Horta dan Desi Anwar, ada tidak?

  3. Robert Manurung Says:

    @ hanggadamai

    kayak nunggu Ratu Adil aja ya.

    @ Frater Telo

    Nggak usah nyindirlah Frater. Langsung sebut saja nama Pak SBY. Aku juga kecewa pada tokoh kita ini karena membuang begitu saja peluang untuk membangun kembali Indonesia.

    Sayang sekali, baru beberapa bulan menjadi presiden, SBY sudah terkooptasi oleh politik dagang sapi di kalangan partai dan pion-pionnya di DPR. Padahal, dukungan rakyat sangat kuat.

    Mudah-mudahan saja akan muncul tokoh pemimpin yang lebih tangguh dan memiliki integritas tinggi.

    Mengenai artikel Ramos Horta vs Desi Anwar, aku masih menunggu sedikit lagi perkembangannya. Kesanku sementara ini, Ramos menembak secara liar dan Desi terkena peluru nyasar.

    Sekadar catatan : Desi sangat dekat dengan LSM kita yang mendukung proses kemerdekaan Timor Leste; salah satu yang menonjol adalah Solidamor yang digerakkan oleh aktivis-aktivis perempuan seperti Yenny Rosa Damayanti dan Maria Pakpahan. Mereka ini sobatnya Desi.

    Tapi akan kuterbitkan dalam satu dua hari ini, Frater. Mohon sabar,

    Horas.

  4. alex Says:

    benar sekali kawan..kita butuh pemimpin yg bisa menjadi gurubangsa, dan melihatkan contoh yg baik buat rakyatnya.

    salam kenal kawan

  5. FraterTelo Says:

    bagaimana kalau dipimpin enterpreuner? artinya orang yang memiliki kreativitas, inovatif, menggunakan segala daya untuk kesejahteraan bersama.

    atau mau dipimpin oleh tentara? ih jangan jangan lagi ya!

  6. Sawali Tuhusetya Says:

    ketika kita bicara multikulturalisme kita jadi sedih dan prihatin menyaksikan aksi2 vandalisme yang terpicu oleh perbedaan. keberagaman yang seharusnya menjadi pemicu utk membangkitkan semangat nasionalisme telah beralih rupa menjadi perilaku anarkhis dan chauvinisme sempit. sungguh naif hanya lantaran perbedaan aliran dalam sebuah agama lantas jadi ajang bakar2an rumah ibadah. dalam kondisi semacam itu, saya sangat setuju jika negeri ini dipimpin oleh sosok negarawan yang mampu menjadikan keberagaman sebagai modal sosial utk membangun negeri ini. sayangnya, hingga saat ini sosok negarawan (hampir) mustahil bisa ditemukan seperti ketika kita mencari jarum di dalam tumpukan jerami. tokoh2 yang muncul sebagian besar sudh diusung oleh partai2 politik yang naif dan berwawasan picik. yang dihitung hanya kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. lantas, kelompok lain yang berbeda apa mesti dianggap sebagai musuh yang mesti disingkirkan? *waduh, repot, repot, hanya bisa menunggu kehadiran sang semar dalam hati nurani para elite negeri ini*

  7. serdadu95 Says:

    Jadi menurut Mas… kira2 yg pantas jadi presiden indonesia siapa ??

  8. batuhapur Says:

    Ibarat orang yang berjalan di gurun pasir yang berharap tukang es cendol lewat.waw…rasa haus itu pasti terpuaskan….

    Itulah yang terjadi di negeri tercinta kita ini… berharap akan muncul pemimpin besar yang mau dan mampu menyingkirkan ketidakadilan itu. selalu berharap,mulut para mahasiwsa berkoar dan sampai berbusa menyerukan apa yang terjadi di negeri ini.

    apa yang terjadi…!! harapan tinggal harapan, janji tinggal janji. rakyat udah bosan dan putus asa….

    Banyak orang terpelajar dan pintar di Indonesia ini…. tp pemimipin yang jujur tidak ada.

    Horas

  9. Robert Manurung Says:

    @ alex

    salam kenal juga pren. mari kita saling kunjung dan berbagi.

    Salam Merdeka!

    @ Frater Telo
    @ serdadu95

    Entrepreneur untuk memimpin negara ? Dari latar belakang profesi atau bidang keahlian apa saja boleh dong; yang penting bobot kecerdasan dan integritasnya; terutama harus punya visi jauh dan punya nyali untuk melakukan pembongkaran.

    Dari Militer ? Aku sih nggak alergi dan tidak kuatir bakal mengembalikan rezim militer seperti di era Soeharto. Kalau dikatakan tokoh militer termasuk tangan besi, kita sudah lihat contoh yang fancy; bahkan sedang mau mengeluarkan album rekaman yang kedua.

    Siapa saja kandaidat yang layak ?

    Untuk babak penyisihan aku mengusulkan nama-nama berikut :

    1. Meuthia Hatta (Menteri Urusan Perempuan)
    2. Siti Fadilah (Menkes)
    3.Sudhamek (Garudafood)
    4.Jaya Suprana (Jamu Cap Cago)
    5. Anies Rasyid Baswedan (akedemisi)
    6. T.Sembiring (Presiden PKS)
    7.Juwono Sudarsono (Menteri Pertahanan)
    8………..silakan teman-teman tambahkan.

    NB: Anis Rasyid Baswedan adalah rektor termuda di Indonesia, usianya baru 39 tahun; dan baru-baru ini masuk dalam daftar 100 intelektual terbaik dunia.

  10. serdadu95 Says:

    Sistem pemilihan presiden di negeri ini yg mengharuskan para kandidatnya dicalonkan dari partai2 yg lolos dalam pemilu membuat pilihan semakin terbatas. Dari 7 org yg masuk dalam daftar kandidat yg Mas susun… mungkin cuman T.Sembiring yg agaknya ada kemungkinan untuk menjadi kandidat yg diusung oleh partai peserta pemilu… sedangkan yg lainnya sayangnya sangat kecil kemungkinannya…

    Sebenarnya… apa yg dilakukan sebuah “partai lama” yg dulu sempat mengadakan “konvensi” dalam menetapkan calon yg akan diusung oleh partainya…adalah sebuah trobosan yg patut diacungi jempol bila dilakukan dgn fair dan gak ada skenario dibalik layar… cuman sayangnya ide bagus tsbt kelihatannya cuman sandiwara belaka jadinya ya… msh belum menghasilkan seorang calon yg layak. So… ada baiknya klo cara ini dikembangkan oleh partai2 lainnya untuk mewadahi tokoh2 independen/kaum cerdik-cendekiawan/Entrepreneur yg gak punya partai sehingga bisa masuk bursa pemilihan.

    Karena sampe sekarang serdadu seperti saya belum punya hak pilih… jadi maaf klo saya juga gak bisa menambahkan nama dalam daftar urutan yg Mas bikin…. Bagi saya… sapapun pemimpinya saya akan tetap dukung demi persatuan dan kesatuan bangsa (*hhhalllahhh…*).

  11. tomyarjunanto Says:

    Para penguasa, birokrat dan aparat tidak pernah bisa memahami untuk apa kita “mendirikan negara”? jika mereka paham bahwa kita mendirikan negara untuk kesejahteraan, kemakmuran, keadilan, kedamaian dan keamanan seluruh rakyat, mereka pasti tidak akan pernah menelantarkan rakyatnya, mereka pasti tidak akan menindas rakyat, mereka akan bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa mencuri apa yang menjadi hak-hak rakyat. Apakah kita akan terus membiarkan ulah mereka, yang menginjak-injak hak-hak rakyat atas nama negara?
    MARI KITA BERONTAK !!!!! SEKARANG!!!!!!!!!!

  12. nindityo Says:

    bang.. aku jadi mikir ..ada gak sih info yang kita gak tau, yang bikin orang macam SBY jadi kendor semangatnya ketika jadi pimpinan puncak. Amien Rais (meski aku gak suka dia) yg suka ngomong besar jadi melempem ketika jadi ketua MPR, ato Gus Dur yang juga gak efektif ketika jadi Presiden ?
    Mungkinkah ada semacam Presidential Black Book (Buku Putih Presiden) yg menjelaskan tentang Indonesia sebener-benernya?
    Ato mereka jadi gegar otak seperti Kwik Kian Gie yang langsung mengkeret ketika jadi menteri setelah tau data Keuangan Indonesia?
    ato karena melihat begitu banyak peluang dan begitu banyak kepentingan setelah diatas? seperti kata bos ku dulu, “kamu itu seperti berada di tengah bukit yang cuma melihat ujung bukit, sedang saya di puncak bukit yang bisa melihat seluruh bukit bahkan bukit-bukit yang lain.” meski jujur saya gak suka sama bos ku yang itu.
    cuma sekedar pikiran yang mengganjal.. soalnya gak yakin orang-orang besar itu jadi goblog setelah menduduki jabatan puncak.

  13. ajie Says:

    betul, aku setuju pemikiran Nindityo. Pasti ada sesuatu di seitar posisi tsb yang spertinya orang2 yg sampai kesana tidak kuat mengembannya. Ada baiknya alumni2 presiden kita bisa sharing mengenai pengalaman2-nya. Tapi susahnya, hubungan satu dengan yang lain sepertinya gak akur. Gimana nih?

  14. Nyante Aza Lae Says:

    Seperti beberapa pendapat rekan2 diatas, (calon) pemimpin awalnya eksis dan komit menuju perubahan, setelah masuk dalam “lingkaran kekuasaan” semua pupus begitu saja…mengapa itu terjadi? Bs jadi yg mereka lakukan pada saat pra memimpin adalah “penampakan semu”. Mungkin selain dibuat fit n proper test, debat publik dll, perlu juga dipersyaratkan bagi (calon) pemimpin untuk di cek melalui “lie detector”. Cmana lae?

    Horas!

  15. E. Hafazhah Says:

    Ass, kang !!
    Kapungkur pisan urang sasarengan di BPKM-MPKM IAIN SGD, abdi mah nu ti Serang.
    Abdi wiat salam ka kang syihab dina seminar dinten ieu. Sukses ya, kang !
    Qt sering cerita2 sareng kang Muslihadi Hamdani & bang Yulius Caesar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: