Tongam Sirait, Preman Yang Religius

Tongam adalah manusia self-made, membentuk diri sendiri lewat pergulatan hidup yang berliku, dari proses panjang petualangannya di rantau. Terlahir di sebuah lapo di Parapat, di bawah bimbingan ayah yang tangannya dihiasi tato– Tuan Bos Sirait namanya, Tongam tumbuh di antara dunia keras para preman dan senandung melankolis biduan-biduan kampung.

Oleh : Robert Manurung

DUNIA memang sudah terbalik-balik. Ketika sesama pendeta HKBP masih terus berkelahi rebutan jubah dan altar, sebagian bahkan sudah bertindak seperti preman, tiba-tiba muncul seorang preman asli lalu “berkotbah” mengenai kasih, persatuan dan kepedulian.

Siboan dame do ompunta si Nommensen, dipodahon tu hita haulion. Siboan dame do ompunta si Nommensen, tapaturema tongtong parrohaonta i.”

Inilah salah satu petikan “kotbah” preman tersebut.Terjemahan bebasnya : Nommensen itu pembawa damai. Dia mengajarkan kebaikan kepada suku batak. Karena itu marilah perbaiki sikap dan perilaku kita.

Sungguh mengejutkan, bahwa pesan itu disampaikan oleh seorang preman, yang umumnya tak peduli kegelisahan batin masyarakat di sekelilingnya. Lebih dari itu, preman yang satu ini cukup jenius dan cerdik. Dia mampu merekam jeritan batin mayoritas yang bungkam (silent majority) di kalangan warga HKBP, sekaligus mengimbau para pendeta HKBP untuk introspeksi, tanpa secara langsung mengatakannya. Dia hanya mengingatkan dedikasi dan pengorbanan Nommensen yang luar biasa, bagi masyarakat Batak.

“Kotbah” preman tersebut disampaikan lewat lagu ballada, judulnya Nommensen, yang dia ciptakan dan nyanyikan sendiri. Secara lirik maupun musikal, refrain lagu ini paling kuat merefleksikan duka yang tak terkatakan, rasa frustrasi yang terpendam dan sekaligus harapan jemaat HKBP.

Nommensen sangat dihormati oleh masyarakat batak, kurang lebih seperti para wali di Jawa. Sebagai tanda penghormatan tertinggi, Nommensen yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Tano Batak, diberikan gelar Ompu i. Pasalnya, orang Eropa ini dianggap sangat berjasa menghentikan sindrom “bunuh diri” yang merasuki Bangso Batak sekitar satu setengah abad silam, berupa perang antar marga dan antarkampung serta perbudakan.

Dengan mengingatkan kembali dedikasi dan pengorbanan Nommensen, secara tidak langsung, preman tadi menyindir para pendeta dan jemaat HKBP yang konon sedang dilanda krisis spiritual. Namun dia cukup bijak, tidak menuding siapa pun, melainkan mengajak semuanya untuk introspeksi dan memperbaiki perilaku.

Preman itu bernama Tongam Sirait. Domisilinya di Parapat, tepatnya di Tiga Raja. Sehari-hari dia kerja serabutan untuk menghidupi isteri dan empat anaknya. Mengangkat batu dari danau Toba ke pantai atau menjadi calo kapal danau. Kalau sedang musim turis, seperti pada lebaran kemarin, Tongam beralih profesi menyewakan tikar bagi wisatawan.

“Tapi sekarang tak ada lagi turis datang, Wak,”ujarnya dengan logat Medan yang kental, ketika bertemu di kafe TobaDream di kawasan Manggarai, Jakarta, akhir pekan lalu. Dia makin lesu ketika diberitahu, Danau Toba tidak termasuk obyek wisata unggulan dalam kampanye Visit Indonesia Year 2008.

Tobadreamer

Harus diakui, Tongam dan Viky telah menguak takdir baru musik batak, dengan lagu dan aransemen bernapas musik dunia. Mereka berhasil mengawinkan kekayaan warisan musik batak dengan kejayaan musik moderen. Mula-mula memang ada rasa terkejut, janggal dan menolak, mendengar hasil “perselingkuhan” uning-uningan dengan rock n roll, sarunai dengan biola , hasapi dengan gitar elektrik. Namun setelah mendengar dua tiga lagu, terutama lagu Nommensen dan Mengkel Nama Ahu, dijamin Anda akan mulai terbawa irama dan spiritnya.

Tongam selalu tampil prima sebagai penghibur profesional, membawakan lagu-lagu ciptaannya sendiri –termasuk lagu Nommensen yang kontemplatif itu. Maka tak usah heran, para tobadreamer kini mengidolakan Tongam dan Viky. Tobadreamer adalah istilah baru di kalangan perantau batak di Jakarta, sebutan bagi orang atau kelompok yang mencintai budaya batak dengan paradigma baru, bahwa budaya batak itu keren dan kelas dunia.

Kabarnya lagu “Nommensen” kini sangat populer di kalangan anak muda di Tapanuli. Tembang tersebut dirilis dalam album solo Tongam dengan judul yang sama, beserta sembilan lagu lain yang juga sangat digemari para pecinta musik, khususnya generasi muda. Di Jakarta, lagu-lagu Tongam yang paling populer adalah Taringot Ahu, Mengkel Nama Ahu, Nommensen, Ingotma dan Tapature.

Viky Sianipar mengaku sangat mengagumi talenta dan ketrampilan musikal Tongam. “Memang, waktu pertama kali diperkenalkan dengan Tongam aku ogah-ogahan. Tapi setelah dia memainkan gitarnya, kemudian menyanyikan Come To Lake Toba, wah aku jadi kagum sambil malu hati,”tutur Viky sembari memuji rekannya itu,”Kualitas musiknya kelas dunia. Dia punya talenta yang luar biasa.”

Preman yang religius

Sosok Tongam adalah gabungan dari kontradiksi-kontradiksi, talenta musik yang extraordinary (luar biasa) dan integritas yang kokoh di balik sikapnya yang bersahaja. Ada kalanya dia bertindak sangat naif, nekad merantau hanya untuk mempromosikan obyek wisata Parapat –yang indah namun sepi tanpa turis, lalu meminta Serevina boru Pasaribu menjadi isterinya, padahal baru kenal beberapa jam.

Tongam adalah manusia self-made, membentuk diri sendiri lewat pergulatan hidup yang berliku, dari proses panjang petualangannya di rantau. Terlahir di sebuah lapo di Parapat, di bawah bimbingan ayah yang tangannya dihiasi tato– Tuan Bos Sirait namanya, Tongam tumbuh di antara dunia keras para preman dan senandung melankolis biduan-biduan kampung.

“Bapakku preman habis. Tapi dia juga suka main gitar dan menyanyi. Untuk membuat orang betah di lapo, bapak sengaja membeli dua gitar,”tutur Tongam sembari menjelaskan, dengan millieu dan spirit lingkungan semacam itu, dia sudah mahir memainkan gitar pada usia delapan tahun. Semuanya terjadi begitu saja. Lihat, tiru lalu mainkan.

Tongam tak pernah bermimpi bakal meraih sukses seperti sekarang. Bakat bukanlah apa-apa kalau tidak ada kesempatan mengaktualisasikan. Itulah yang disadarinya dengan rasa pahit, ketika terpaksa menyerah di perantauan, Bali dan Jakarta, lalu pulang ke kampungnya, di tepian Danau Toba yang sangat dicintainya.

“Waktu aku mau merantau ke Jakarta, ibuku sudah mengingatkan, tak mungkinlah kau Tongam berhasil di perantauan, kalau cuma mengandalkan bakatmu bernyanyi,”tutur Tongam mengenang. Tak berapa lama setelah Tongam pulang, ibunya meninggal. Saat itulah dia melihat seorang gadis yang belum dikenalnya. Lalu dengan spontan dia melamarnya. Esoknya boru Pasaribu itu sudah menjadi isterinya.

“Sebenarnya aku sangat ingin upacara perkawinan dengan naik kuda. Begitulah adat batak yang benar. Tapi waktu itu aku tak punya uang. Mudah-mudahan nanti impian dari masa kecilku ini bisa terlaksana, untuk memberi contoh pada generasi muda batak,”ujarnya.

Talenta yang luar biasa

Dengan cara hidup yang mengarus, mengikuti kata hati, preman Parapat ini seperti tak pernah merencanakan apapun dalam hidupnya. Mengalir saja mengikuti situasi, terbawa gejolak jiwa seninya. Menurut pengakuannya, kebanyakan lagunya tercipta secara instan, artinya ide muncul seketika lalu dia nyanyikan dengan iringan gitar.

Lagu Nommensen lahir lewat proses seperti itu. Ketika mendengar orang bercerita mengenai kelakuan sinting sekelompok pemeluk sekte kristen, yang belakangan makin gencar dan demonstratif membakar ulos, jiwa Tongam berontak dan geram. Seketika itu juga terciptalah lagu Nommensen.

Dikaitkan dengan latar belakang hidupnya yang keras, lagu-lagu Tongam terkesan kontradiktif. Tema umum lagu ciptaan alumni SMA I Parapat ini adalah tentang kasih, persahabatan dan kepeduliaan. Sebagian lagi bahkan sangat jenaka, meskipun liriknya mengisahkan orang-orang yang tak beruntung, seperti pada lagu O Doli Doli dan Mengkel Nama Au. “Itulah hebatnya Tongam, bahkan lagu sedihpun dia nyanyikan dengan macho,”kata Viky.

Kemudian, bagaimana menjelaskan ini, seorang pemusik kampung dari Parapat tiba-tiba tampil dengan lagu-lagu ciptaan sendiri yang liriknya kontekstual dan musiknya berirama rock, country dan jazz ? Kesannya seperti ahistoris dan tanpa akar. Namun jika ditelusuri perjalanan hidupnya, agaknya petualangannya di Bali berpengaruh paling besar. Disanalah dia “terkoneksi” dengan musik dunia.

Ada yang meramalkan, Tongam bakal menyamai kehebatan pencipta lagu batak legendaris, Nahum Situmorang. Namun yang pasti, pemusik otodidak yang bangga dengan seni budaya batak ini akan selalu merasa bagian dari HKBP. Jangan heran, tembang ciptaannya yang pertama adalah lagu koor, saat dia baru berusia 15 tahun.

Itulah sepenggal kisah Tongam Sirait, preman yang religius.

====================================================================

Catatan : artikel ini sudah pernah dimuat di harian Batak Post, edisi 24 November 2007.

====================================================================

http://www.ayomerdeka.wordpress.com

Iklan

Tag: , , , , , , , , ,

9 Tanggapan to “Tongam Sirait, Preman Yang Religius”

  1. Sawali Tuhusetya Says:

    “Nommensen”, wah ternyata ada juga ya yang mirip para wali di Jawa tempo dulu, sebagai sumber pencerahan kayak sunan kalijaga. btw, saya malah lebih salut sama preman berhati jujur dan religius ketimbang orang yang berpenampilan religius tapi berhati preman.

  2. hanna Says:

    Wah, salut habis sama Tongam Sirait. Tidak semua preman itu buruk. Aku malah lebih menghormati seorang preman daripada mereka yang berpakaian rapi tapi munafik. Sungguh!

  3. realylife Says:

    semoga semakin banyak orang2 yang seperti dia ya pak
    o iya saya ada rencana kopdar
    silahkan kalo mau berpartisipasi

  4. alisyah Says:

    salut buat Pak Tongam

  5. Ikhwan Says:

    memang manusia itu mirip barang tambang.saat di dasar bumi ia tak terlihat dan tampak hina.saat terangkat ia menjadi barang langka dan berharga.saat ada orang yang sangat buruk saat di dunia gelap,saat itu pula ia berpotensi menerangi dunia dengan kelangkaan dirinya

  6. zlyfly Says:

    Nomensen kan dibonceng penjajah apa ngga salah ?
    tapi yah ngga apalah satu agama x ya ama penjajah.

  7. yuni Says:

    sukses slalu ya pra

  8. levi frando girsang Says:

    Satu lagu yang sangat berkesan dari tulang siarait ini yaitu
    lagu taringot ahu….

    sukses terus preman parapat!!!!

    gbu

  9. nainggolan united Says:

    ……

    nomensen itu org Jerman.
    ga ada hubungan dengan Belanda.
    dia bekerja sendiri.
    sebelum dia, beberapa misionaris sudah banyak yg martyr di tanah batak..

    begitulah, penyebaran kekristenan yg selalu dilakukan per-individu dan dengan damai.

    tidak dengan perang antar-kerajaan
    tidak dengan invasi, seperti yg dilakukan
    orang2 padang ke tapanuli selatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: