Perempuan Pengendali Lorena Air : I Can Fly, Man

“Transportasi itu yang dijual safety, aman dan selamat,” kata Lorena. “I Can Fly Man…!” “Saya sudah sebulan enggak terbang. Harus ada penyegaran dulu,” kata Lorena sebelum take off menerbangkan Cessna dari Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta.

Oleh : FRANS SARTONO dan ARBAIN RAMBEY (Kompas)

LANGIT Jakarta cerah dan bersahabat pada Kamis pagi, 15 Maret lalu. Pesawat Cessna melintas langit dari Halim Perdana Kusuma menuju Pondok Cabe. Sang pilot seorang ibu, mengenakan blue jeans dan berjaket kulit. Dia adalah Eka Sari Lorena, presiden direktur perusahaan penerbangan Lorena Air yang pada Mei mendatang (mundur menjadi 6 Juni 2008 ) akan resmi beroperasi.

“Lorena itu arah atau jalan yang baik,” kata Eka Sari Lorena Soerbakti (37) menjelaskan arti nama yang diambil dari bahasa Batak Karo itu. Entah mengapa orangtua Lorena, pasangan Gusti Terkelin Soerbakti dan Kariany Kumpul Sembiring, memberi nama anak pertama dari tiga anaknya itu dengan nama yang artinya arah atau jalan yang baik.

Yang pasti, Soerbakti kemudian berprofesi di bidang yang berkait dengan arah dan jalan, yaitu transportasi. Nama Lorena di jagat angkutan darat negeri ini mengingatkan orang pada bus antarkota. Usaha angkutan penumpang yang dirintis Soerbakti sejak tahun 1973 itu berkembang. Tahun ini Lorena merambah ke moda transportasi udara lewat PT Eka Sari Lorena Airlines. Dan, Lorena adalah komandannya.

* * *

LORENA tumbuh dari kultur kerja keras dan ulet usaha pengangkutan penumpang rintisan ayahnya. Perempuan kelahiran Jakarta, 3 Juni 1969, itu tumbuh di tengah deru bus. Ia tahu benar tetek bengek seputar bus, mulai dari piston, AC Thermo King paling mutakhir, ban Michelin, sampai mesin bubut. Ia masih hafal harga-harga ban dari Rp 900.000 per unit lalu melonjak drastis menjadi Rp 3 juta lebih setelah krisis ekonomi pada paruh kedua era 1990-an.

Suara klakson bus yang dahsyat menggema lewat kompresor itu terasa akrab di telinganya “Sampai hari ini saya masih suka denger bunyi klakson bus pom! pom…! Rasanya I’m home karena sejak kecil aku denger itu,” kata Lorena. “Karena sejak kecil kami diekspos tentang bis, masalah transportasi itu sudah seperti a cup of tea, minuman kami sehari-hari,” kenang Lorena, ibu dua anak itu.

“Aku suka tanya ini itu kepada para manajer di Lorena. Untung para manajer dan sopir itu mau jawab. Waktu itu mereka panggil aku Non,” kenang Lorena tentang masa kecilnya.

“Kalau makan malam di rumah, kita sharing, berbagi cerita tentang transportasi lagi. Waktu itu kami masih SD dan Papi bercerita kemajuan kereta api di Jerman atau di mana. Papi meminta pendapat kami. Jadi, kami juga
tertantang berpikir tentang transportasi.”

* * *

MENINGKAT dewasa, Lorena sering diajak ayahnya datang ke rapat-rapat seputar bisnis bis. Telinga Lorena mendengar para eksekutif perusahaan bus bicara tentang karoseri terbaru, soal pergantian rute, dan segala hal ihwal bisnis angkutan penumpang darat.

“Aku cuma duduk terkantuk-kantuk ndegerin oom-oom bicara.” Lorena diam-diam seperti telah duduk di “universitas” pertransportasian. Tahun 1989, ketika masuk kuliah, ia justru tidak memilih bidang transportasi. Ia kuliah di Jurusan Administrasi Bisnis di Wright State University, Dayton, Ohio, Amerika Serikat.

“Akan bosen kalau aku kuliah di transportasi. Aku pilih pengetahuan yang bisa mendukung apa yang telah kami ketahui,” kata Lorena yang meraih gelar Sarjana Administrasi Bisnis pada tahun 1992. Sopir Papi Sambil melanjutkan program master di Salve Regina University, Rhode Island, AS, Lorena menyambi bekerja di bagian pemasaran di Hotel Westin International, San Francisco.

Orangtua Lorena memang mempunyai prinsip untuk tidak memperbolehkan anak-anaknya langsung bergabung dengan bisnis keluarga. “Kami perlu belajar merasakan jadi karyawan di tempat lain agar kami mempunyai empati dan pemahaman yang lebih baik tentang orang lain. ”

Tahun 1995, ia pulang ke Indonesia dan mulai masuk ke bisnis keluarga. Ia belum memegang jabatan. “Aku cuma cantu bawain tas Papi dan sopirin dia ke mana pergi he-he….”

* * *

DARI sekadar sebagai pembawa tas itu, ia belajar bahwa menjadi seorang entrepreneur itu harus mampu membangun jejaring kerja yang baik. Ia harus bias menjalin hubungan baik dengan orang dari berbagai bidang profesi, terutama yang berkait langsung dengan bisnisnya. “Kami kan tidak kerja sendirian,” katanya.

Masa-masa sebagai “sopir” Papi itu juga merupakan masa adaptasi Lorena pada etos dan kultur kerja di sekitarnya yang menurut dia cukup membuatnya kaget. Di perusahaan keluarga, Lorena mulai bekerja sebagai tenaga pemasaran kemudian naik menjadi Manajer Operasi Lorena Transport & Tour.

Tahun 1997, Lorena menjabat sebagai Direktur Eka Sari Lorena (ESL) Express, salah satu suku usaha grup Lorena yang bergerak di angkutan kargo. Ia juga menjabat direktur pada dua suku usaha Lorena yang lain untuk kemudian menduduki posisi sebagai Senior Vice-President Lorena Group pada 2000-2004.

Kini Lorena adalah President Director perusahaan penerbangan Lorena Air.

Dengan sekitar 300 armada bus yang menjangkau 52 rute, Lorena merasa mencapai tataran kematangan yang mapan di bisnis transportasi.

“Kami ini orang strategi. Kami tidak suka comfort zones. Itu bikin otak kita tak berkembang.Kalau mau enak-enak, kami bisa saja diem di situ. Tapi Kami tertantang untuk melakukan sesuatu yang baru.”

* * * * *

Akhirnya Lorena berani berpindah ke moda angkutan lain, yaitu pesawat terbang lewat Lorena Air. Ini jenis penerbangan premium dengan pelayanan penuh—bukan penerbangan biaya rendah. Dari semula mengurus bis Mercedez Benz, kini Lorena berurusan dengan Boeing 737-400. Bis atau pesawat prinsip Lorena sama.

“Transportasi itu yang dijual safety, aman dan selamat,” kata Lorena. “I Can Fly Man…!” “Saya sudah sebulan enggak terbang. Harus ada penyegaran dulu,” kata Lorena sebelum take off menerbangkan Cessna dari Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta.

Langit Jakarta yang cerah menjadikan penerbangan 15 menit dari Halim ke Pondok Cabe menjadi menyenangkan. Di bawah tampak jelas kawasan Kalibata, bangunan runcing Universitas Indonesia, lalu melintasi udara di atas jalan tol Pondok Indah menuju lapangan terbang Pondok Cabe. Lorena belajar terbang ketika hendak mengurus perizinan Lorena Air. Ini merupakan bagian dari caranya memahami seluk beluk bisnis penerbangan.

“Agar aku mempunyai pemahaman yang lebih baik tentang dunia penerbangan,” kata Lorena yang juga bisa membawa bis itu. “Selain itu, ini juga bisa buat cerita ke cucu kita nanti. ’Eh, dulu grandma itu ok juga lho.’ I can fly man!”

====================================================================

Dikutip dari harian Kompas terbitan 18 Maret 2007.

————————————————————————————

http://www.ayomerdeka.wordpress.com

Tag: , , , , , , , , , ,

8 Tanggapan to “Perempuan Pengendali Lorena Air : I Can Fly, Man”

  1. SALNGAM Says:

    Mudah-mudahan tidak berakhir seperti Adam Air. Sekedar saran untuk Mbak Lorena, karena ini adalah Family Business, biasanya culturenya adalah Leadershipnya tend to Diactatorial-godly behaved, sombong nggak ketulungan (wajar karena mereka ini adalah pemilik dan price maker inside-no democracy), bad administration, subordinate tend to “licking good” alias penjilat.
    Satu hal lain agak banyak berdoa kerena mengangkut orang yang any minute bisa celaka dan “boom and vanished’ tanpa jejak. Selamat berbisnis, Tuhan menyertaimu sampai akhir jaman.

  2. andygoblin Says:


    AYO LAH LIAT SITUS: Axxyc.com
    (Komunitas Indo, ga perlu register)

  3. rumahkayubekas Says:

    Semoga usaha dan perjuangannya mengilhami kita- kita semua.

  4. Karnan Haryono Says:

    Semoga menjadikan satu kejayaan diantara sekian perusahaan penerbangan di Indonesia.
    Jayalah LORENA

  5. okta Says:

    maju trus ,

    bujur

  6. Busuk Says:

    Bubarkan penerbangan Indonesia !!!!!!!!! Pesawat nya busuk2…. !!!

  7. bagus Says:

    Saya adala pelanggan bus Lorena mulai saya sekolah orang tua saya selalu menggunakan bus lorena karena sudah diakui saftynya, sekarang jika lorena sudah menyentuh langit mungkin bisa dipikirkan untuk membuka rute Jakarta – Sampit, supaya saya bisa pulang ke Jakarta dengan menggunakan Lorena lagi,

    untuk Info Sampit sekarang sudah didarati oleh Kartika Air dengan Boeing 737 -200, tapi harganya masih tinggi, mungkin jika Lorena masuk bisa memberikan harga yang OK.

  8. k haryono Says:

    Kapan nih koq gak terbang perdana
    Apa jenis pesawat anda

    Kalau bisa sekali perdana dengan pesawat baru dong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: