Kisah Anwar Ibrahim Mirip Film India

Sulit untuk mengatakan siapa yang cocok sebagai sosok tuan Takur dalam konteks ini. Namun yang jelas, gaya Anwar tidak begitu mirip dengan peran-peran jagoan yang dimainkan Amitabh Bachan, yang sangat macho, dan seksi.

Menurutku, Anwar lebih mirip dengan sosok jagoan kung fu yang diperankan David Carradine. Tidak terlalu banyak adegan perkelahian, tapi si penjahat berhasil diringkus, dan kemudian diampuni setelah diberikan wejangan yang sarat filosofi.

Oleh : Robert Manurung

SELEPAS pemilu 8 Maret lalu, rakyat Malaysia seperti disuguhi “sekuel” jilid II kisah tragedi-komedi di panggung politik negara jiran itu. Kalau dalam pementasan babak pertama, dulu, rakyat Malaysia menyaksikan betapa teganya Mahathir menghancurkan “anak emasnya” Anwar Ibrahim; sekarang giliran “muridnya” yang lain yaitu Abdullah Badawi “ditelanjangi” didepan umum dan dirongrong oleh Mahathir.

Bayangkan saja, hanya beberapa jam setelah rakyat Malaysia memberikan suara dalam pemilu tanggal 8 Maret lalu, Mahathir langsung mengeluarkan pernyataan keras bahwa Badawi telah menghancurkan UMNO.

UMNO adalah partai utama dan berkuasa di Malaysia sejak negara itu mendapat kemerdekaan dari Inggris setengah abad silam. Tapi dalam pemilu kemarin, “Golkarnya Malaysia” ini gagal meraih kemenangan dua pertiga suara. Perolehan dua pertiga suara, dalam sistem pemerintahan parlementer gaya Malaysia, adalah isyarat dukungan kuat buat pemerintahan yang akan dibangun oleh partai atau koalisi pemenang pemilu.

Sebaliknya, Barisan Alternatif atau kubu oposisi yang dipimpin Anwar, secara mengejutkan berhasil memenangkan 82 dari 222 kursi parlemen, dan merebut kendali pemerintahan di lima negara bagian.

Memang, hasil yang gilang-gemilang ini belum cukup untuk mengantar Anwar—mantan Wakil Perdana Menteri di masa Mahathir menjabat PM—untuk menjadi orang nomor satu di negara jiran itu.

Namun sebaliknya pula, kemenangan tipis yang diperoleh Barisan Nasional– secara psiko-politik—merupakan sinyal yang tegas bahwa rakyat Malaysia tak lagi menghendaki Badawi kembali menjadi PM.

Nyatanya, Badawi tetap ngotot dan akhirnya dilantik menjadi PM. Sejak itu, perang kata antara Mahathir dan Badawi sudah menjadi “menu” sehari-hari di media massa Malaysia. Tiada hari tanpa polemik antara keduanya, dan bahkan berkembang menjadi permusuhan pribadi secara terbuka dan makin memanas.

* * *

RONGRONGAN terhadap Badawi tidak hanya dilakukan oleh Mahathir, tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah Malaysia; tapi mulai datang dari dalam kubu pendukung Badawi sendiri. Perpecahan internal pun merebak di dalam tubuh UMNO, kemudian menjalar ke Barisan Nasional.

Dalam situasi kubu saingannya mulai limbung, Anwar dan Barisan Alternatif dengan sabar menonton di pinggir gelanggang; menanti saat paling tepat untuk melancarkan pukulan pamungkas yang akan memastikan pemerintahan PM Badawi runtuh.

Dan anehnya, sejak menjelang pemilu sampai hari ini–dengan terus-menerus menyerang Badawi; secara tidak langsung atau mungkin memang disengaja, Mahathir telah “menolong” Anwar untuk lebih cepat duduk di kursi PM menggantikan Badawi. Inilah uniknya drama politik dua babak yang dimainkan “Little Soekarno”, julukan Mahathir; yang membuktikan kelihaiannya sebagai politisi ulung.

Tentu tidak boleh disalahkan, seandainya muncul pertanyaan : apakah ini suatu cara yang elegan untuk “menebus dosa”, tanpa harus membuat pengakuan dosa ? Dan bukan hal yang mustahil, dengan segala “bantuan” yang tak disangka-sangka itu, Anwar bakal enggan “membalas dendam” jika sudah menjadi PM.

* * *

PEKAN lalu, Mahathir melancarkan pukulan telak yang sangat mematikan terhadap Badawi, melalui pernyataan yang sangat blak-blakan dan mengejutkan. Bahwa, sangat mungkin dalam waktu dekat ini, Anwar Ibrahim bakal merebut kekuasaan!

Pasalnya, kata Mahathir, kini semakin banyak anggota parlemen Barisan Nasional yang siap menyeberang ke kubu Anwar. Konsekuensinya, jumlah anggota parlemen pendukung Anwar bakal lebih banyak dibanding pendukung Badawi. Dalam keadaan seperti itu, sebuah mosi tidak percaya di parlemen akan secara otomatis menjatuhkan pemerintah, lalu dilanjutkan dengan peralihan kekuasaan.

Seperti gayung bersambut, tonjokan keras yang dilancarkan Mahathir terhadap Badawi kemudian direspon oleh Anwar Ibrahim dengan membuat pernyataan : paling lambat September mendatang dia sudah menjadi Perdana Menteri Malaysia. Ini jelas bukan sekadar gertak sambal, karena Anwar bukan politisi yang suka ngomong besar.

Pernyataan itu dilontarkan Anwar dalam wawancara dengan Koran Tempo di Jakarta., Rabu kemarin (15/5). Dari kutipan wawancara itu tergambar jelas, tingkat rasa percaya diri Anwar sebagai pemimpin Malaysia kini telah pulih seutuhnya. Cara dia bicara adalah cara seorang pemenang pemilu yang pekan depan akan dilantik sebagai perdana menteri.

Bagian yang paling aku sukai dari seluruh pernyataan Anwar adalah,”Misi saya bukan menggulingkan siapa pun. Misi saya meletakkan agenda supaya Malaysia dapat terangkat sebagai negara maju. Abdullah saya anggap seorang teman dan pribadinya baik.”

* * *

SELURUH lakon ini tentu akan membuat kita teringat pengalaman menonton film India. Tokoh jagoan selalu babak belur dulu sejak awal sampai pertengahan film, namun kemudian bangkit dan mengalahkan semua penjahat.

Sulit untuk mengatakan siapa yang cocok sebagai sosok tuan Takur dalam konteks ini. Namun yang jelas, gaya Anwar tidak begitu mirip dengan peran-peran jagoan yang dimainkan Amitabh Bachan, yang sangat macho, dan seksi.

Menurutku, Anwar lebih mirip dengan sosok jagoan kung fu yang diperankan David Carradine. Tidak terlalu banyak adegan perkelahian, tapi si penjahat berhasil diringkus, dan kemudian diampuni setelah diberikan wejangan yang sarat filosofi.

Begitulah tabiat politik sedari dulu. Tidak ada kawan abadi, hanya kepentingan yang abadi.

Dalam situasi begini, bagi tokoh tertentu, pasti sangat menjengkelkan mendengar nyanyian supporter Liverpool : You’ll Never Walk Alone……

———————————————————————————

http://www.ayomerdeka.wordpress.com

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

8 Tanggapan to “Kisah Anwar Ibrahim Mirip Film India”

  1. Jennifer Lancey Says:

    Hello there. I was sent a link to your blog by a friend a while ago. I have been reading a long for a while now. Just wanted to say HI. Thanks for putting in all the hard work.

    Jennifer Lancey

  2. danalingga Says:

    Mungkin kita tunggu dulu apa benar Anwar Ibrahim bakal menjadi Perdana Mentri. Jika ternyata benar maka memang sangat mirip film India. Dan ternyata film India bukan sekedar fiksi.

  3. Anwar : Misi saya bukan menggulingkan siapa pun « halwa romantis Says:

    […] bukan menggulingkan siapa pun Mei 17, 2008 Ada suatu kesegaran bila membaca nukilan persepsi Robert Manurung, rakyat Indonesia, mengenai politik semasa Malaysia. Terima kasih kerana menunjukkan link wawancara […]

  4. SifuPTS Says:

    Kami tidak sabar-sabar mahukan Anwar menjadi perdana menteri!

  5. nindityo Says:

    menurutku bukan film india karena aku belum melihat Anwar menari berputar putar bergandeng tangan dengan Mahathir. dari pendapat penyair malaysia yang kemaren di TIM nampaknya rakyat malaysia masih berkeinginan mahathir naik, terbukti dengan kalimat “rakyet pasti nak memilih mahathir jika mencalonkan diri lagi, tapi saye yakin mahathir akan melakukan yang terbaik. die demokrat sejati.”
    ya moga kehidupan di malaysia kembali marak setelah selama ini hidup serasa di bawah jam malam (mengutip mantan dubes USA untuk malaysia)

  6. Zubli Zainordin Says:

    Cantik sekali tulisan anda. Inilah pemain utama dalam babak lakonan drama benar politik di Malaysia. Mahathir Mohamad, Abdullah Ahmad Badawi, dan Anwar Ibrahim. Yang kini duduk di kerusi Perdana Menteri Malaysia ialah Abdullah Ahmad Badawi. Mahathir Mohamad dan Anwar Ibrahim di luar. Bezanya, Mahathir Mohamad telahpun menjadi Perdana Menteri, untuk kembali duduk di atasnya jauh benar kemungkinannya. Sedangkan Anwar Ibrahim belum pernah merasainya yakni duduk di kerusi tersebut, lalu bersiap-sedia untuk duduk di situ. Abdullah Ahmad Badawi pula akan menyusuli Mahathir Mohamad, dan menjadi mantan Perdana Menteri. Lantaran tidak lagi duduk di kerusi itu. Jadi, jika di pentas sedang rancak pukul-memukul kata di antara Mahathir Mohamad dan Abdullah Ahmad Badawi, apa perlunya Anwar Ibrahim turut berlaga kata. Tunggu sahaja seperti kata anda di luar gelanggang. Namun apakah perlu bagi seorang Mahathir Mohamad berpencakan dengan Abdullah Ahmad Badawi? Ternyata, laluannya untuk Malaysia maju, sudah melencong, dan tiada isyarat dari Abdullah Ahmad Badawi, pemulihan akan beerlaku. Dengan demikian, jab jab dan baru sebentar tadi, libasan ke perut. Mahathir Mohamad keluar UMNO. Jadi, kalah ataupun menang di antara kedua-duanya, Anwar Ibrahim pulalah yang perlu tepat melangkah, tidak kira dia semacam Amithab Bachan mahupun David Caradine. Andai terpelicuk, nescaya tiadalah dia merasa duduk di kerusi Perdana Menteri itu, selepas ini, kerana Mahathir Mohamad berpencakan dengan Abdullah Ahmad Badawi, bersedia menepis Anwar Ibrahim, dan membuka laluan untuk seorang yang lain. Siapa? Jika bukan Mohd Najib Abdul Razak, barangkali Muhyiddin Yassin, jika pun tidak Razaliegh Hamzah. InsyaAllah, sama-sama kita saksikan babak seterusnya.

  7. ahlifiQir Says:

    Terima kasih diatas komen membina dari tuan di laman saya. Tulisan yang sangat bagus serta terperinci disini.

    Tahniah dan terima kasih kerana sudi memerhatikan pergerakkan politik di Malaysia.

  8. Anwar : Misi saya bukan menggulingkan siapa pun | Muzik Melayu Says:

    […] suatu kesegaran bila membaca nukilan persepsi Robert Manurung, rakyat Indonesia, mengenai politik semasa Malaysia. Terima kasih kerana menunjukkan link wawancara […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: