Hatta : SI Tonggak Sejarah Kebangkitan Nasional

Pandangan itu dikemukakan Cides karena pergerakan Budi Utomo dinilai bersifat terlalu lokal dan terbatas pada kalangan priyayi Jawa, serta mengambil sikap kooperatif dengan pemerintah kolonial.

Sedangkan sejak awal terbentuknya, SI sudah merangkul semua lapisan rakyat dan tersebar di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi serta melawan politik penghisapan penjajah.

MENTERI Sekretaris Negara (Mensesneg) Hatta Radjasa menegaskan pencanangan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) pada 20 Mei bukan berarti menghilangkan jasa Sarekat Islam (SI) yang sudah lebih dulu berjuang sejak 1905.

Pernyataan itu disampaikan Mensesneg pada sambutannya dalam acara diskusi yang digelar Center for Information and Development Studies (Cides) bertema “SI versus Budi Utomo, Mencari Kompromi Tonggak Sejarah Kebangkitan Nasional”, di Jakarta, Kamis (22/5).

“Kita tentu tidak ingin menghabiskan energi untuk hanya menyikapi perbedaan kedua pandangan ini. Tugas sejarawanlah yang harus menelusuri ini,” ujarnya.

Yang lebih penting dalam konteks Kebangkitan Nasional, lanjut dia, bagaimana memahami penggalan-penggalan sejarah perjalanan yang membentuk Bangsa Indonesia sampai saat ini.

“Jangan memisahkan Sarekat Islam sebagai bagian dari perjalanan sejarah untuk tonggak kebangkitan nasional,” katanya.

Dalam sambutannya, Hatta membawakan tema mencari kompromi tonggak sejarah Kebangkitan Nasional. Ia mengutip Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) SI yang sudah terbentuk pada 1905, bahwa tujuan organisasi itu adalah untuk mengangkat derajat rakyat agar makmur, sejahtera untuk kepentingan negeri.

“Sudah ada kata negeri disitu, kebangsaan. Ada bibit nasionalisme di situ,” ujarnya.

Hatta juga mengutip AD/ART Budi Utomo yang dibentuk pada 20 Mei 1908 bahwa organisasi itu dimaksudkan guna memajukan kehidupan bangsa. “Jadi, dua organisasi ini mempunyai andil dan peranan besar untuk Indonesia merdeka,” katanya.

Di luar perbedaan pandangan bahwa Kebangkitan Nasional harus dicanangkan pada terbentuknya SI atau Budi Utomo, Mensesneg mengatakan, yang harus diambil oleh generasi selanjutnya adalah modalitas yang telah disumbangkan oleh dua organisasi itu untuk perkembangan peradaban Indonesia di masa depan.

Renungkan kembali

Direktur Eksekutif Cides, Syahganda Nainggolan, mengatakan, Indonesia harus merenungi kembali pencanangan Budi Utomo sebagai tonggak kebangkitan nasional.

Pandangan itu dikemukakan Cides karena pergerakan Budi Utomo dinilai bersifat terlalu lokal dan terbatas pada kalangan priyayi Jawa, serta mengambil sikap kooperatif dengan pemerintah kolonial.

Sedangkan sejak awal terbentuknya, SI sudah merangkul semua lapisan rakyat dan tersebar di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi serta melawan politik penghisapan penjajah.

Syahganda juga mengatakan, pemuda Indonesia saat ini telah kehilangan panutan dari tokoh-tokoh pahlawan seperti HOS Tjokroaminoto dan M Natsir, yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah.

Sebuah bangsa, lanjut dia, harus berhati-hati memilih tokoh pahlawannya agar dapat menyemaikan semangat yang dibawa oleh tokoh tersebut kepada generasi selanjutnya. antara/is

dikutip dari :

http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=334773&kat_id=23

Judul asli : Harkitnas tak Hilangkan Perjuangan Sarekat Islam

————————————————————————————–

http://www.ayomerdeka.wordpress.com

5 Tanggapan to “Hatta : SI Tonggak Sejarah Kebangkitan Nasional”

  1. SALNGAM Says:

    Setiap pihak yang merasa siapa paling berjasa atas apa biasanya ada apa-apanya. Ada vested -nya!. Nasionalisme Indonesia menurut saya masih dipersimpangan jalan hingga sekarang ini. SI apakah nasionalis atau Budi Utomo apakah nasionalis. Yang jelas sudah teruji adalah Sukarno karena secara lahiriahpun Sukarno sudah Mixed Jawa-Bali, Muslim-Hindu, Kaya-miskin. Merdeka

  2. Aryo Bandoro Says:

    Dalam Sejarah historik bangsa Indonesia, pecundang menjadi pahlawan dan pahlawan menjadi pecundang, semua orang melupakan jasa yang dilakukan oleh kelompok gerakan komunis dalam melawan kolonialisme di negeri ini.

  3. dennycharter Says:

    Setuju kata bung Bandoro.. Negara ini sesat sejarah

  4. ujik Says:

    Hatta : SI Tonggak Sejarah Kebangkitan Nasional

    Pandangan itu dikemukakan Cides karena pergerakan Budi Utomo dinilai bersifat terlalu lokal dan terbatas pada kalangan priyayi Jawa, serta mengambil sikap kooperatif dengan pemerintah kolonial.

    Sedangkan sejak awal terbentuknya, SI sudah merangkul semua lapisan rakyat dan tersebar di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi serta melawan politik penghisapan penjajah.

    MENTERI Sekretaris Negara (Mensesneg) Hatta Radjasa menegaskan pencanangan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) pada 20 Mei bukan berarti menghilangkan jasa Sarekat Islam (SI) yang sudah lebih dulu berjuang sejak 1905.

    Pernyataan itu disampaikan Mensesneg pada sambutannya dalam acara diskusi yang digelar Center for Information and Development Studies (Cides) bertema “SI versus Budi Utomo, Mencari Kompromi Tonggak Sejarah Kebangkitan Nasional”, di Jakarta, Kamis (22/5).

    “Kita tentu tidak ingin menghabiskan energi untuk hanya menyikapi perbedaan kedua pandangan ini. Tugas sejarawanlah yang harus menelusuri ini,” ujarnya.

    Yang lebih penting dalam konteks Kebangkitan Nasional, lanjut dia, bagaimana memahami penggalan-penggalan sejarah perjalanan yang membentuk Bangsa Indonesia sampai saat ini.

    “Jangan memisahkan Sarekat Islam sebagai bagian dari perjalanan sejarah untuk tonggak kebangkitan nasional,” katanya.

    Dalam sambutannya, Hatta membawakan tema mencari kompromi tonggak sejarah Kebangkitan Nasional. Ia mengutip Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) SI yang sudah terbentuk pada 1905, bahwa tujuan organisasi itu adalah untuk mengangkat derajat rakyat agar makmur, sejahtera untuk kepentingan negeri.

    “Sudah ada kata negeri disitu, kebangsaan. Ada bibit nasionalisme di situ,” ujarnya.

    Hatta juga mengutip AD/ART Budi Utomo yang dibentuk pada 20 Mei 1908 bahwa organisasi itu dimaksudkan guna memajukan kehidupan bangsa. “Jadi, dua organisasi ini mempunyai andil dan peranan besar untuk Indonesia merdeka,” katanya.

    Di luar perbedaan pandangan bahwa Kebangkitan Nasional harus dicanangkan pada terbentuknya SI atau Budi Utomo, Mensesneg mengatakan, yang harus diambil oleh generasi selanjutnya adalah modalitas yang telah disumbangkan oleh dua organisasi itu untuk perkembangan peradaban Indonesia di masa depan.

    Renungkan kembali

    Direktur Eksekutif Cides, Syahganda Nainggolan, mengatakan, Indonesia harus merenungi kembali pencanangan Budi Utomo sebagai tonggak kebangkitan nasional.

    Pandangan itu dikemukakan Cides karena pergerakan Budi Utomo dinilai bersifat terlalu lokal dan terbatas pada kalangan priyayi Jawa, serta mengambil sikap kooperatif dengan pemerintah kolonial.

    Sedangkan sejak awal terbentuknya, SI sudah merangkul semua lapisan rakyat dan tersebar di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi serta melawan politik penghisapan penjajah.

    Syahganda juga mengatakan, pemuda Indonesia saat ini telah kehilangan panutan dari tokoh-tokoh pahlawan seperti HOS Tjokroaminoto dan M Natsir, yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah.

    Sebuah bangsa, lanjut dia, harus berhati-hati memilih tokoh pahlawannya agar dapat menyemaikan semangat yang dibawa oleh tokoh tersebut kepada generasi selanjutnya. antara/is

    dikutip dari :

    http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=334773&kat_id=23

    Judul asli : Harkitnas tak Hilangkan Perjuangan Sarekat Islam

    ————————————————————————————–

    http://www.ayomerdeka.wordpress.com

    Tulisan ini dikirim pada pada

  5. ujik Says:

    Hatta : SI Tonggak Sejarah Kebangkitan Nasional

    Pandangan itu dikemukakan Cides karena pergerakan Budi Utomo dinilai bersifat terlalu lokal dan terbatas pada kalangan priyayi Jawa, serta mengambil sikap kooperatif dengan pemerintah kolonial.

    Sedangkan sejak awal terbentuknya, SI sudah merangkul semua lapisan rakyat dan tersebar di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi serta melawan politik penghisapan penjajah.

    MENTERI Sekretaris Negara (Mensesneg) Hatta Radjasa menegaskan pencanangan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) pada 20 Mei bukan berarti menghilangkan jasa Sarekat Islam (SI) yang sudah lebih dulu berjuang sejak 1905.

    Pernyataan itu disampaikan Mensesneg pada sambutannya dalam acara diskusi yang digelar Center for Information and Development Studies (Cides) bertema “SI versus Budi Utomo, Mencari Kompromi Tonggak Sejarah Kebangkitan Nasional”, di Jakarta, Kamis (22/5).

    “Kita tentu tidak ingin menghabiskan energi untuk hanya menyikapi perbedaan kedua pandangan ini. Tugas sejarawanlah yang harus menelusuri ini,” ujarnya.

    Yang lebih penting dalam konteks Kebangkitan Nasional, lanjut dia, bagaimana memahami penggalan-penggalan sejarah perjalanan yang membentuk Bangsa Indonesia sampai saat ini.

    “Jangan memisahkan Sarekat Islam sebagai bagian dari perjalanan sejarah untuk tonggak kebangkitan nasional,” katanya.

    Dalam sambutannya, Hatta membawakan tema mencari kompromi tonggak sejarah Kebangkitan Nasional. Ia mengutip Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) SI yang sudah terbentuk pada 1905, bahwa tujuan organisasi itu adalah untuk mengangkat derajat rakyat agar makmur, sejahtera untuk kepentingan negeri.

    “Sudah ada kata negeri disitu, kebangsaan. Ada bibit nasionalisme di situ,” ujarnya.

    Hatta juga mengutip AD/ART Budi Utomo yang dibentuk pada 20 Mei 1908 bahwa organisasi itu dimaksudkan guna memajukan kehidupan bangsa. “Jadi, dua organisasi ini mempunyai andil dan peranan besar untuk Indonesia merdeka,” katanya.

    Di luar perbedaan pandangan bahwa Kebangkitan Nasional harus dicanangkan pada terbentuknya SI atau Budi Utomo, Mensesneg mengatakan, yang harus diambil oleh generasi selanjutnya adalah modalitas yang telah disumbangkan oleh dua organisasi itu untuk perkembangan peradaban Indonesia di masa depan.

    Renungkan kembali

    Direktur Eksekutif Cides, Syahganda Nainggolan, mengatakan, Indonesia harus merenungi kembali pencanangan Budi Utomo sebagai tonggak kebangkitan nasional.

    Pandangan itu dikemukakan Cides karena pergerakan Budi Utomo dinilai bersifat terlalu lokal dan terbatas pada kalangan priyayi Jawa, serta mengambil sikap kooperatif dengan pemerintah kolonial.

    Sedangkan sejak awal terbentuknya, SI sudah merangkul semua lapisan rakyat dan tersebar di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi serta melawan politik penghisapan penjajah.

    Syahganda juga mengatakan, pemuda Indonesia saat ini telah kehilangan panutan dari tokoh-tokoh pahlawan seperti HOS Tjokroaminoto dan M Natsir, yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah.

    Sebuah bangsa, lanjut dia, harus berhati-hati memilih tokoh pahlawannya agar dapat menyemaikan semangat yang dibawa oleh tokoh tersebut kepada generasi selanjutnya. antara/is

    dikutip dari :

    http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=334773&kat_id=23

    Judul asli : Harkitnas tak Hilangkan Perjuangan Sarekat Islam

    ————————————————————————————–

    http://www.ayomerdeka.wordpress.com

    Tulisan ini dikirim pada pada 24 Mei, 2008 5:19 am dan di isikan dibawah merdeka. Anda dapat meneruskan melihat respon dari tulisan ini melalui RSS 2.0 feed. Anda dapat merespon, or trackback dari website anda.
    3 Tanggapan ke “Hatta : SI Tonggak Sejarah Kebangkitan Nasional”

    1. SALNGAM Berkata:
    24 Mei, 2008 pukul 4:13 pm

    Setiap pihak yang merasa siapa paling berjasa atas apa biasanya ada apa-apanya. Ada vested -nya!. Nasionalisme Indonesia menurut saya masih dipersimpangan jalan hingga sekarang ini. SI apakah nasionalis atau Budi Utomo apakah nasionalis. Yang jelas sudah teruji adalah Sukarno karena secara lahiriahpun Sukarno sudah Mixed Jawa-Bali, Muslim-Hindu, Kaya-miskin. Merdeka
    2. Aryo Bandoro Berkata:
    28 Mei, 2008 pukul 2:33 am

    Dalam Sejarah historik bangsa Indonesia, pecundang menjadi pahlawan dan pahlawan menjadi pecundang, semua orang melupakan jasa yang dilakukan oleh kelompok gerakan komunis dalam melawan kolonialisme di negeri ini.
    3. dennycharter Berkata:
    3 Juni, 2008 pukul 8:52 am

    Setuju kata bung Bandoro.. Negara ini sesat sejarah
    4. ujik Berkata: Komentar anda sedang menunggu moderasi.
    8 September, 2008 pukul 4:56 pm

    Hatta : SI Tonggak Sejarah Kebangkitan Nasional

    Pandangan itu dikemukakan Cides karena pergerakan Budi Utomo dinilai bersifat terlalu lokal dan terbatas pada kalangan priyayi Jawa, serta mengambil sikap kooperatif dengan pemerintah kolonial.

    Sedangkan sejak awal terbentuknya, SI sudah merangkul semua lapisan rakyat dan tersebar di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi serta melawan politik penghisapan penjajah.

    MENTERI Sekretaris Negara (Mensesneg) Hatta Radjasa menegaskan pencanangan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) pada 20 Mei bukan berarti menghilangkan jasa Sarekat Islam (SI) yang sudah lebih dulu berjuang sejak 1905.

    Pernyataan itu disampaikan Mensesneg pada sambutannya dalam acara diskusi yang digelar Center for Information and Development Studies (Cides) bertema “SI versus Budi Utomo, Mencari Kompromi Tonggak Sejarah Kebangkitan Nasional”, di Jakarta, Kamis (22/5).

    “Kita tentu tidak ingin menghabiskan energi untuk hanya menyikapi perbedaan kedua pandangan ini. Tugas sejarawanlah yang harus menelusuri ini,” ujarnya.

    Yang lebih penting dalam konteks Kebangkitan Nasional, lanjut dia, bagaimana memahami penggalan-penggalan sejarah perjalanan yang membentuk Bangsa Indonesia sampai saat ini.

    “Jangan memisahkan Sarekat Islam sebagai bagian dari perjalanan sejarah untuk tonggak kebangkitan nasional,” katanya.

    Dalam sambutannya, Hatta membawakan tema mencari kompromi tonggak sejarah Kebangkitan Nasional. Ia mengutip Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) SI yang sudah terbentuk pada 1905, bahwa tujuan organisasi itu adalah untuk mengangkat derajat rakyat agar makmur, sejahtera untuk kepentingan negeri.

    “Sudah ada kata negeri disitu, kebangsaan. Ada bibit nasionalisme di situ,” ujarnya.

    Hatta juga mengutip AD/ART Budi Utomo yang dibentuk pada 20 Mei 1908 bahwa organisasi itu dimaksudkan guna memajukan kehidupan bangsa. “Jadi, dua organisasi ini mempunyai andil dan peranan besar untuk Indonesia merdeka,” katanya.

    Di luar perbedaan pandangan bahwa Kebangkitan Nasional harus dicanangkan pada terbentuknya SI atau Budi Utomo, Mensesneg mengatakan, yang harus diambil oleh generasi selanjutnya adalah modalitas yang telah disumbangkan oleh dua organisasi itu untuk perkembangan peradaban Indonesia di masa depan.

    Renungkan kembali

    Direktur Eksekutif Cides, Syahganda Nainggolan, mengatakan, Indonesia harus merenungi kembali pencanangan Budi Utomo sebagai tonggak kebangkitan nasional.

    Pandangan itu dikemukakan Cides karena pergerakan Budi Utomo dinilai bersifat terlalu lokal dan terbatas pada kalangan priyayi Jawa, serta mengambil sikap kooperatif dengan pemerintah kolonial.

    Sedangkan sejak awal terbentuknya, SI sudah merangkul semua lapisan rakyat dan tersebar di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi serta melawan politik penghisapan penjajah.

    Syahganda juga mengatakan, pemuda Indonesia saat ini telah kehilangan panutan dari tokoh-tokoh pahlawan seperti HOS Tjokroaminoto dan M Natsir, yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah.

    Sebuah bangsa, lanjut dia, harus berhati-hati memilih tokoh pahlawannya agar dapat menyemaikan semangat yang dibawa oleh tokoh tersebut kepada generasi selanjutnya. antara/is

    dikutip dari :

    http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=334773&kat_id=23

    Judul asli : Harkitnas tak Hilangkan Perjuangan Sarekat Islam

    ————————————————————————————–

    http://www.ayomerdeka.wordpress.com

    Tulisan ini dikirim pada pada
    onal

    Pandangan itu dikemukakan Cides karena pergerakan Budi Utomo dinilai bersifat terlalu lokal dan terbatas pada kalangan priyayi Jawa, serta mengambil sikap kooperatif dengan pemerintah kolonial.

    Sedangkan sejak awal terbentuknya, SI sudah merangkul semua lapisan rakyat dan tersebar di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi serta melawan politik penghisapan penjajah.

    MENTERI Sekretaris Negara (Mensesneg) Hatta Radjasa menegaskan pencanangan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) pada 20 Mei bukan berarti menghilangkan jasa Sarekat Islam (SI) yang sudah lebih dulu berjuang sejak 1905.

    Pernyataan itu disampaikan Mensesneg pada sambutannya dalam acara diskusi yang digelar Center for Information and Development Studies (Cides) bertema “SI versus Budi Utomo, Mencari Kompromi Tonggak Sejarah Kebangkitan Nasional”, di Jakarta, Kamis (22/5).

    “Kita tentu tidak ingin menghabiskan energi untuk hanya menyikapi perbedaan kedua pandangan ini. Tugas sejarawanlah yang harus menelusuri ini,” ujarnya.

    Yang lebih penting dalam konteks Kebangkitan Nasional, lanjut dia, bagaimana memahami penggalan-penggalan sejarah perjalanan yang membentuk Bangsa Indonesia sampai saat ini.

    “Jangan memisahkan Sarekat Islam sebagai bagian dari perjalanan sejarah untuk tonggak kebangkitan nasional,” katanya.

    Dalam sambutannya, Hatta membawakan tema mencari kompromi tonggak sejarah Kebangkitan Nasional. Ia mengutip Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) SI yang sudah terbentuk pada 1905, bahwa tujuan organisasi itu adalah untuk mengangkat derajat rakyat agar makmur, sejahtera untuk kepentingan negeri.

    “Sudah ada kata negeri disitu, kebangsaan. Ada bibit nasionalisme di situ,” ujarnya.

    Hatta juga mengutip AD/ART Budi Utomo yang dibentuk pada 20 Mei 1908 bahwa organisasi itu dimaksudkan guna memajukan kehidupan bangsa. “Jadi, dua organisasi ini mempunyai andil dan peranan besar untuk Indonesia merdeka,” katanya.

    Di luar perbedaan pandangan bahwa Kebangkitan Nasional harus dicanangkan pada terbentuknya SI atau Budi Utomo, Mensesneg mengatakan, yang harus diambil oleh generasi selanjutnya adalah modalitas yang telah disumbangkan oleh dua organisasi itu untuk perkembangan peradaban Indonesia di masa depan.

    Renungkan kembali

    Direktur Eksekutif Cides, Syahganda Nainggolan, mengatakan, Indonesia harus merenungi kembali pencanangan Budi Utomo sebagai tonggak kebangkitan nasional.

    Pandangan itu dikemukakan Cides karena pergerakan Budi Utomo dinilai bersifat terlalu lokal dan terbatas pada kalangan priyayi Jawa, serta mengambil sikap kooperatif dengan pemerintah kolonial.

    Sedangkan sejak awal terbentuknya, SI sudah merangkul semua lapisan rakyat dan tersebar di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi serta melawan politik penghisapan penjajah.

    Syahganda juga mengatakan, pemuda Indonesia saat ini telah kehilangan panutan dari tokoh-tokoh pahlawan seperti HOS Tjokroaminoto dan M Natsir, yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah.

    Sebuah bangsa, lanjut dia, harus berhati-hati memilih tokoh pahlawannya agar dapat menyemaikan semangat yang dibawa oleh tokoh tersebut kepada generasi selanjutnya. antara/is

    dikutip dari :

    http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=334773&kat_id=23

    Judul asli : Harkitnas tak Hilangkan Perjuangan Sarekat Islam

    ————————————————————————————–

    http://www.ayomerdeka.wordpress.com

    Tulisan ini dikirim pada pada 24 Mei, 2008 5:19 am dan di isikan dibawah merdeka. Anda dapat meneruskan melihat respon dari tulisan ini melalui RSS 2.0 feed. Anda dapat merespon, or trackback dari website anda.
    3 Tanggapan ke “Hatta : SI Tonggak Sejarah Kebangkitan Nasional”

    1. SALNGAM Berkata:
    24 Mei, 2008 pukul 4:13 pm

    Setiap pihak yang merasa siapa paling berjasa atas apa biasanya ada apa-apanya. Ada vested -nya!. Nasionalisme Indonesia menurut saya masih dipersimpangan jalan hingga sekarang ini. SI apakah nasionalis atau Budi Utomo apakah nasionalis. Yang jelas sudah teruji adalah Sukarno karena secara lahiriahpun Sukarno sudah Mixed Jawa-Bali, Muslim-Hindu, Kaya-miskin. Merdeka
    2. Aryo Bandoro Berkata:
    28 Mei, 2008 pukul 2:33 am

    Dalam Sejarah historik bangsa Indonesia, pecundang menjadi pahlawan dan pahlawan menjadi pecundang, semua orang melupakan jasa yang dilakukan oleh kelompok gerakan komunis dalam melawan kolonialisme di negeri ini.
    3. dennycharter Berkata:
    3 Juni, 2008 pukul 8:52 am

    Setuju kata bung Bandoro.. Negara ini sesat sejarah
    4. ujik Berkata: Komentar anda sedang menunggu moderasi.
    8 September, 2008 pukul 4:56 pm

    Hatta : SI Tonggak Sejarah Kebangkitan Nasional

    Pandangan itu dikemukakan Cides karena pergerakan Budi Utomo dinilai bersifat terlalu lokal dan terbatas pada kalangan priyayi Jawa, serta mengambil sikap kooperatif dengan pemerintah kolonial.

    Sedangkan sejak awal terbentuknya, SI sudah merangkul semua lapisan rakyat dan tersebar di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi serta melawan politik penghisapan penjajah.

    MENTERI Sekretaris Negara (Mensesneg) Hatta Radjasa menegaskan pencanangan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) pada 20 Mei bukan berarti menghilangkan jasa Sarekat Islam (SI) yang sudah lebih dulu berjuang sejak 1905.

    Pernyataan itu disampaikan Mensesneg pada sambutannya dalam acara diskusi yang digelar Center for Information and Development Studies (Cides) bertema “SI versus Budi Utomo, Mencari Kompromi Tonggak Sejarah Kebangkitan Nasional”, di Jakarta, Kamis (22/5).

    “Kita tentu tidak ingin menghabiskan energi untuk hanya menyikapi perbedaan kedua pandangan ini. Tugas sejarawanlah yang harus menelusuri ini,” ujarnya.

    Yang lebih penting dalam konteks Kebangkitan Nasional, lanjut dia, bagaimana memahami penggalan-penggalan sejarah perjalanan yang membentuk Bangsa Indonesia sampai saat ini.

    “Jangan memisahkan S

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: