Dua Tahun Bencana Lapindo & Pidato Presiden

Nasib malang yang menimpa para korban Lapindo adalah karena merosotnya komitmen berbangsa dan bernegara. Komitmen itulah yang tidak kita lihat setelah dua tahun bencana itu berlangsung, dan hingga kini nasib para korban masih terkatung-katung.

Oleh : Robert Manurung

COBALAH bayangkan ketika para korban Lumpur Panas Lapindo—terutama sekitar 2.000 orang yang kini terdampar tanpa masa depan di Pasar Baru Porong—menyimak pidato Presiden SBY pada Hari Kebangkitan Nasional, yang disiarkan secara serentak oleh semua stasiun televisi, Selasa lalu (20/5).

Sambil menggaruk bekas luka melepuh, dan berusaha lepas dari trauma yang membekas sangat dalam, mereka mungkin akan merasa berada di negara lain dan warga bangsa lain; ketika mendengar retorika yang hebat itu. Ya, para korban bencana Lapindo, boleh jadi akan mengalami dislokasi saat mendengar pidato Presiden SBY.

“…karena sejak 100 tahun yang lalu, sejak bangsa kita bangkit, kita telah menjadi bangsa yang berkemampuan, bangsa yang bisa,”ujar Presiden SBY.

Bisa apa ? Bagi para korban Lapindo, kata bisa lebih cocok diartikan racun; yang telah menewaskan sebagian sanak saudara, tetangga dan sahabat-sahabat mereka.

Lagipula, membayangkan sejarah yang merentang panjang selama 100 tahun sangatlah absurd buat orang-orang yang malang itu. Sejarah penderitaan mereka sendiri, yang dimulai tanggal 29 Mei dua tahun lalu, lebih nyata dan masih mencekam.

Lapindo Brantas Inc, didorong oleh proyeksi laba yang bisa diraupnya, telah mengorek bencana itu dari perut bumi Sidoarjo, tentu saja tanpa sengaja. Menghancurkan kehidupan orang-orang yang tak bakal diuntungkan, seandainya proyek itu mulus menghasilkan fulus. Itulah sejarah yang mereka kenal.

Sebelum Lapindo melakukan pemboran di sana, Sidoarjo adalah tempat kehidupan yang baik. Leluhur mereka telah berdiam di sana sejak berabad-abad silam. Dan Sidoarjo adalah tempat mereka lahir, mengalami akil balik, jatuh cinta serta membangun kehidupan sendiri.

* * *

“BISA mengubah nasib, bisa bersatu, bisa mengusir penjajah, bisa meraih dan mempertahankan kemerdekaan,”lanjut Presiden SBY dalam pidato bergaya allegori itu.

Nasib ? Bagi sekitar 2.000 korban bencana Lapindo yang masih bertahan di Pasar Baru Porong, nasib adalah lorong panjang yang gelap, tanpa secercah cahaya harapan. Nasib adalah rasa kalah, yang menjadi sahabat paling setia– sejak bencana itu datang dan hingga kini mereka terdampar di pasar itu.

Nasib adalah sejumlah prosedur administratif berbelit-belit; yang membuat ikatan abadi dengan tanah kelahiran mereka dipertanyakan legalitas formalnya. Dan bayangan resiko bakal tidak mendapat apa-apa, karena tak memiliki surat tanah, adalah nasib yang pasti.

“Hanya pemilik sertifikat yang bisa di-AJB (akta jual beli) kan, yang boleh memilih tunai 80 persen,”kata Yuniwati Teryana, Wakil Presiden Lapindo Brantas Inc.

Lapindo telah menjanjikan pencairan gelombang pertama 80 persen pada akhir Mei ini. Bukan ganti rugi namanya, tapi semacam jual beli, di mana lahan para korban dibayar dengan harga yang telah ditentukan pemerintah melalui Perpres Nomor 14 Tahun 2007..

Kalau mengacu pada aturan itu, keluarga Buali yang kini terdampar di Pasar Baru Porong sudah pasti tidak bakal dapat apa-apa. Dan hal itu sungguh membuat sedih para teman sekampungnya di Desa Renokenongo dulu. Desa itu telah lenyap dikubur lumpur.

Seperti dituturkan Qudori kepada Kompas, keluarga Buali sudah hidup turun temurun di desa itu; dan memiliki lahan, namun sertifikatnya hilang ketika menyelamatkan diri dari pagutan lumpur panas. Tapi, Yuniwati Teryana, Wakil Presiden Lapindo Brantas Inc, pasti tidak punya waktu mengurus yang beginian.

Kembali ke pidato Presiden SBY,”…bisa bersatu, bisa mengusir penjajah, bisa meraih dan mempertahankan kemerdekaan,” pasti ini terasa menyakitkan bagi para korban. Lebih dari sekadar terjajah, mereka sekalian terusir dari tanahnya, tanpa harapan untuk kembali kelak. Dan di sana, terkubur di bawah lautan lumpur itu, makam leluhur serta segala kenangan hidup mereka terpaksa ditinggalkan untuk selamanya.

Oleh karena itulah mereka memohon kepada pemerintah, agar solusi yang ditempuh adalah resettlement atau membangun perkampungan buat mereka. Pasalnya, setelah kehilangan segalanya, mereka berharap jangan pula kehilangan “harta mereka” yang paling berharga, yaitu kebersamaan.

Dulu, sebelum lumpur keparat itu menenggelamkan desa mereka; seperti dituturkan Qudori, mereka hidup bersama dengan ikatan yang kuat satu sama lain. Kini, mereka tercerai-berai, dan terpaksa hidup di Pasar Baru Porong tanpa jalinan sosial yang akrab; dan dikerumuni banyak calo yang menawarkan kemudahan mengurus “ganti rugi’.

Mereka tidak merasa merdeka sedikit pun, meski secara fisik bebas. Bahkan tak sedikit di antara korban yang rumah tangganya retak, karena tak kuat menahan tekanan dan godaan kehidupan “darurat” yang memporak-porandakan sistem nilai yang dulu mereka anut. Sebagian besar masih trauma, dan bahkan ada pula yang menderita gangguan jiwa.

* * *

KITA tidak tahu, apakah saat Presiden SBY berpidato–yang disiarkan seluruh stasiun televisi itu, dia ingat atau tidak kepada para korban Lapindo. Kalau ingat, pasti dia akan merasa malu.

Kenapa ?

Selain retorika yang telah disebutkan tadi, dalam pidato tersebut Presiden SBY juga menyodorkan tiga syarat fundamental agar Indonesia menjadi negara maju dan berhasil, yaitu menjaga dan memperkuat kemandirian, mempertinggi daya saing dan membangun peradaban bangsa.

Apa yang salah dengan pernyataan itu, dan kenapa Presiden SBY harus malu jika dikaitkan dengan derita para korban Lapindo ?

Nasib malang yang menimpa para korban Lapindo adalah karena merosotnya komitmen berbangsa dan bernegara. Komitmen itulah yang tidak kita lihat setelah dua tahun bencana itu berlangsung, dan hingga kini nasib para korban masih terkatung-katung.

Seandainya komitmen berbangsa dan bernegara cukup kuat, tidak akan ada lagi korban yang hidup di bangunan pasar. Seharusnya mereka sudah tinggal di pemukiman baru yang layak, dan mendapat pelayanan kesehatan yang memadai, termasuk terapi untuk trauma pasca bencana.

Komitmen itulah yang tidak digarisbawahi dalam pidato Presiden SBY, yang sebenarnya merupakan syarat fundamental paling penting agar bangsa dan negara ini tidak pecah berkeping-keping seperti Uni Soviet. Lagipula, revitalisasi komitmen berbangsa dan bernegara itulah sesungguhnya yang paling penting dikampanyekan; dalam konteks perayaan 100 Tahun Kebangkitan Nasional.

Komitmen berbangsa dan bernegara itu kita kenal dengan nama nasionalisme dan patriotisme; yang dalam prakteknya mengutamakan kepentingan bangsa dan negara melebihi kepentingan pribadi, kelompok dan golongan. Lawan katanya adalah penghianat bangsa. Dan inilah yang terjadi, terutama di kalangan pemimpin dan politisi; sehingga para korban bencana Lapindo dan puluhan juta rakyat Indonesia yang menjadi korban bencana lain dibiarkan saja menderita.

Korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, nepotisme dan kolusi, pada hakikatnya adalah tindakan menghianati bangsa dan negara. Itulah yang menyebabkan wilayah republik ini dengan mudah dijarah oleh para pencuri dari luar; dan juga oleh para pencoleng di antara sesama anak bangsa.

Alam rusak parah, kualitas lingkungan hidup merosot. Anak-anak mati karena kekurangan gizi, padahal laut kita melimpah dengan beragam ikan. Kaum terpelajar terpaksa menerima nasib menjadi kuli kontrak, dengan upah yang tak seberapa; sementara penghasilan petani dan nelayan semakin tidak mencukupi untuk hidup layak. Ditambah dengan pelayanan umum yang sangat buruk, dan cenderung dikomersilkan, sehingga mati pun bukan perkara yang murah di negara ini.

Itu terjadi karena penghianatan terhadap bangsa dan negara semakin merajalela. Tapi, anehnya, kebenaran itu tidak terungkap dalam pidato Presiden SBY.

Merdeka !

=================================================

http://www.ayomerdeka.wordpress.com

Iklan

Tag: , , , , , , , , , , , , , , ,

12 Tanggapan to “Dua Tahun Bencana Lapindo & Pidato Presiden”

  1. Sawali Tuhusetya Says:

    benar apa yang dikatakan sby itu, bung robert. bangsa kita memang serba bisa, hehehe 😆 bisa korupsi, bisa menyelundupkan, bisa menimbun meinyak tanah, bisa menaikkan BBM seenak perut, bisa nilap uang rakyat, bisa menjadi pembalak hutan, bisa memanipulasi data, bisa dengan mudah melupakan nasib saudara2nya yang tertimpa musibah, atu bisa berpesta pora ketika banyak orang lain sukses. sayang sekali, mereka tak bisa prihatin melihat nasib jutaan hidup rakyat miskin yang kesrakat dan terlunta-lunta.

  2. widyahapsari Says:

    gua cuma orang awam, tapi gua yakin pemerintah gak naikkin BBM seenak perut.
    pasti ada kalkulasi di belakangnya.
    di luar negeri BBM juga mahal.

  3. Robert Manurung Says:

    @Sawali Tuhusetya

    Cuma bisa prihatin Pak, tanpa ikut bermewah-mewah…karena nggak punya dan nggak tega,

    @ widyahapsari

    sorry Mbak Widya, tampaknya komentar ini out of context atau salah kamar hehehe…

    Salam.

  4. hh Says:

    Dulu saya tidak tau dengan jelas apa perbedaan antara boleh dan bisa. Setelah membaca komentar dari saudara Sawali di atas, saya dapat membedakannya dengan jelas, yaitu: 1. Untuk sesuatu yang tidak diperbolehkan melakukannya, bangsa kita bisa (punya kemampuan) untuk mekakukannya. 2. Untuk sesuatu yang kita bisa lakukan dan diperbolehkan untuk melakukannya, kita tidak bisa (bukan tidak punya kemampuan) melakukannya.

  5. widyahapsari Says:

    salah kamar ya?
    saya menyambung komentar dari saudara Sawali Tuhusetya, biar saya kutip:
    “…bisa korupsi, bisa menyelundupkan, bisa menimbun meinyak tanah, bisa menaikkan BBM seenak perut…” 🙂
    coba dibaca lagi..

  6. Robert Manurung Says:

    @ widyahapsari

    Maaf kalau begitu, Mbak.

    Next time, kalau ingin menambahkan atau mengomentari komentar yang lain, lebih baik tujukan langsung pada yang dimaksud. Soalnya, komentar di blog ini dimoderasi, sehingga urutan komentar sulit ditebak oleh pemberi komentar.

    Terima kasih.

  7. mulut Says:

    welgedewelbeh

    Menurutmu, apa hal real yang bisa kita lakukan untuk menyembuhkan bopeng keberpihakan kebijakan seperti ini kawan. Mahasiswa dan LSM di Jawa Timur tampaknya tidak tahu atau tidak mau tahu lagi nasib saudaranya setanah air yang sedang dijajah pemerintahnya sendiri yang sibuk membela menterinya yang bos besar lapindo. NU dan PKB sebagai ormas dan partai dimana sebagian besar korban adalah basis massa nya, hangat-hangat tai anjing saja dalam membela mereka.

    Ibu pertiwi menangis darah …. menyaksikan anak-anaknya dianiaya saudaranya sendiri.

  8. bangzenk Says:

    Halo Bang Robert,

    Memang miris betul ya peringatan hari kebangkitan nasional (kebangkitan nasional versi buku sejarah) yang dilakukan SBY ini, dalam kacamata saya malahan hanya sekedar unjuk wibawa, klo SBY masih jendral-nya TNI.

    Jika SBY lebih peduli, tentu bukan sekedar hingar bingar yang ditunjukkan. Tapi penanganan masalah yang berkepanjangan seperti korban luapan lumpur di Sidoarjo.

    Sudah saatnya SBY mengaca diri, atau mungkin diberikan kacamata biar bisa melihat lebih jelas, derita rakyat Indonesia.

    salamhangat.
    Zenk di Belanda

  9. enggar Says:

    Berlindung dibalik kebangkrutan diri. Nyatanya doi jadi orang terkaya di asia tenggara. Hebat.

  10. Clearing Says:

    Somehow i missed the point. Probably lost in translation 🙂 Anyway … nice blog to visit.

    cheers, Clearing!

  11. fauzansigma Says:

    bahkan saat pidato kemerdekaan pun, presiden masih berbunga2…. anehnya, pidato itu nihil interupsi pula!

  12. nazha Says:

    “Memang miris betul ya peringatan hari kebangkitan nasional (kebangkitan nasional versi buku sejarah) yang dilakukan SBY ini, dalam kacamata saya malahan hanya sekedar unjuk wibawa, klo SBY masih jendral-nya TNI.

    Jika SBY lebih peduli, tentu bukan sekedar hingar bingar yang ditunjukkan. Tapi penanganan masalah yang berkepanjangan seperti korban luapan lumpur di Sidoarjo.

    Sudah saatnya SBY mengaca diri, atau mungkin diberikan kacamata biar bisa melihat lebih jelas, derita rakyat Indonesia.”

    Betul bangzeng, hanya untuk deklarasi capres-cawapres pasangan sby-budiono menghabiskan bermilyar-milyar, dan dana kampanyenya saja sampai 200 milyar, uang siapa??? sedangkan rakyat, khususnya korban lapindo kepanasan, kehujanan, kelaparan kehidupannya tidak diperhatikan, tetapi uang bermilyar-milyar dibuang hanya untuk “kesenangan sesaat”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: