Kekuasaan Badawi Memasuki “Injury Time”

Seperti di Indonesia, Golkar justru berperan penting dalam menggulirkan Reformasi; dengan meminjam tangan oposisi yang dipimpin Megawati, Amin Rais dan Gus Dur. Tampaknya di Malaysia pun bakal demikian, UMNO akan berkonsolidasi dan kemudian memimpin Reformasi, dengan memanfaatkan kepercayaan rakyat terhadap Anwar.

Oleh : Robert Manurung

IBARAT kompetisi sepakbola, persaingan politik di Malaysia kini lebih menarik dan enak ditonton. Langkah dramatis pemain veteran Dr Mahathir Mohammad keluar dari UMNO, “klub” yang dibesarkannya selama dua dekade lebih, telah memaksa sang penguasa Abdullah Ahmad Badawi, harus bertanding lagi pada babak tambahan atau injury time. Dan kemungkinan besar, dia bakal terlibat “adu penalti” di parlemen, dengan tokoh oposisi Anwar Ibrahim.

Badawi adalah juara bertahan dalam musim kompetisi yang baru usai. Tim yang dipimpinnya, koalisi Barisan Nasional (gabungan UMNO dan puluhan partai lain), memenangkan pemilu bulan Maret lalu. Dan sesuai aturan, Badawi pun kembali menjabat sebagai PM Malaysia.

Di pihak lain, tim oposisi selaku underdog memang sensasional. Ibarat klub yang baru promosi, Barisan Alternatif (gabungan PKR, PAS, DAP) yang dipimpin Anwar Ibrahim langsung menjelma jadi ancaman buat UMNO dan Barisan Nasional, yang selama 50 tahun berjaya tanpa saingan.

Sampai di sini, seharusnya kompetisi sudah selesai untuk sementara, hingga datangnya pemilu lima tahun mendatang. Tapi, politik memang bukan sekadar memenangkan pemilu, apalagi Malaysia menganut sistem parlementer. Prestasi spektakuler oposisi adalah sebuah isyarat atau hukuman : rakyat Malaysia tak percaya lagi pada kepemimpinan Badawi.

Dan dalam sistem parlementer, ada yang namanya mosi tidak percaya. Itulah yang kini mengancam kedudukan Badawi. Tapi anehnya, kemungkinan itu bisa terjadi bukan karena kehebatan oposisi, tapi perpecahan di dalam tubuh UMNO sendiri. Dan kini, keluarnya Mahathir dari UMNO niscaya akan mempercepat kejatuhan Badawi.

* * *

MUNGKIN SAJA, perpecahan di kubu UMNO memang bersifat alamiah. Akibat kemerosotan dalam pemilu, lantas saling menyalahkan. Namun bisa juga lantaran terlalu lama berkuasa, lalu terjadi pembusukan di dalam. Atau bisa pula , ini bagian dari grand design sang maestro, Dr Mahathir.

Tapi yang sudah pasti, perpecahan itu kini bermakna tunggal : menuntut Badawi mundur. Dia disalahkan karena memaksakan diri menjadi PM, padahal kemunduran dalam pemilu adalah tanggungjawabnya sebagai komandan. Dan, Badawi dinilai tidak sensitif terhadap aspirasi rakyat Malaysia, yang dinyatakan lewat pemilu. Juga dinilai terlalu egois, mengorbankan kepentingan jangka panjang partai dan koalisi, asalkan dia tetap berkuasa.

Perkembangan terbaru, yaitu langkah gambit menteri yang dilancarkan Mahathir, tentu akan memberikan keberanian moril bagi para pengikutnya di UMNO untuk menyeberang ke kubu oposisi. Anwar sendiri sudah mengklaim, jumlah anggota parlemen Barisan nasional yang akan bergabung ke oposisi sudah mencukupi untuk menjatuhkan PM Badawi, melalui mosi tidak percaya. Dia bilang, sebelum September mendatang oposisi sudah bisa merebut kekuasaan.

Memang benar, jika mosi tidak percaya didukung mayoritas anggota parlemen, itu sama saja seperti keberhasilan MU menjuarai Champions League baru-baru ini, setelah menang adu penalti atas Chelsea. Artinya, Badawi harus meletakkan jabatan, dan Anwar menjadi PM. Tapi jangan lupa, politik bukan kereta api yang selalu berjalan di atas rel, dengan arah yang mudah diterka.

Lagipula, kalau pun Anwar menjadi PM, itu belum menjamin rakyat Malaysia akan menikmati demokrasi seperti di Indonesia. Soalnya, kubu oposisi sendiri adalah koalisi semu dan temporer; gabungan ideologi dan tujuan politik yang secara alamiah berlawanan.

* * *

PERTANYAAN paling menarik : apakah Mahathir sengaja memanfaatkan Anwar dan koalisi oposisinya yang rapuh itu untuk memaksa terjadinya “reformasi” di tubuh UMNO ? Apakah dia sengaja membuka jalan buat anak-anaknya dan para pendukung setianya untuk merebut kekuasaan di UMNO, dan untuk itu UMNO harus menderita dulu fall from the grace; seperti membakar hutan supaya tunas-tunas muda tumbuh ?

Pertanyaan ini bertolak dari asumsi : UMNO akan selalu berkuasa di Malaysia. Soalnya, UMNO adalah Malaysia, dan Malaysia adalah UMNO. Seperti di Indonesia, Golkar justru berperan penting dalam menggulirkan Reformasi; dengan meminjam tangan oposisi yang dipimpin Megawati, Amin Rais dan Gus Dur. Tampaknya di Malaysia pun bakal demikian, UMNO akan berkonsolidasi dan kemudian memimpin Reformasi, dengan memanfaatkan kepercayaan rakyat terhadap Anwar.

Jadi, mungkin saja memang, orang-orang UMNO yang “disusupkan” Mahathir ke kubu oposisi menggolkan Anwar menjadi PM. Dengan demikian UMNO “ikut berkuasa”, dan partai punya masa yang tenang untuk melakukan konsolidasi. Kemudian pada pemiu berikutnya UMNO akan tampil sebagai partai reformis, dengan kekuatan yang lebih dahsyat daripada sebelumnya. Dan, Anwar tidak lagi menjadi duri dalam daging.

* * *

INI SEKADAR “analisis” ringan dari penonton yang tidak hadir di stadion. Namanya juga penonton, suka-sukalah berkomentar; seperti orang-orang Malaysia mengomentari kejayaan Manchester United, atau sebaliknya meratapi nasib sial Chelsea baru-baru ini.

===================================================================

http://www.ayomerdeka.wordpress.com

Iklan

Tag: , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: