“Bencana Lapindo” Bisa Terjadi di Dairi

Dan celakanya lagi, lokasi bakal penambangan tersebut adalah kawasan hutan lindung, yaitu Register 66 Batu Ardan, Desa Sopokomil, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Menurut Direktur Eksekutif Walhi Sumatera Utara Job Rahmad Purba, hutan lindung tersebut adalah habitat harimau Sumatera, yang sudah sangat langka.

Oleh : Raja Huta

BENCANA mengerikan di Sidoarjo, Jawa Timur, masih berlangsung sampai sekarang. Lumpur panas terus menyembur dari perut bumi, dan ribuan penduduk terpaksa hidup sengsara di pengungsian; tanpa masa depan. Tragedi yang populer dengan sebutan ‘Bencana Lapindo” itu merupakan hukuman dan sekaligus pelajaran buat Indonesia : jangan pernah bermain-main dengan alam dan kehidupan!

Jangan pernah percaya begitu saja pada itikad baik perusahaan tambang. Dan kalau belum punya kemampuan mengontrol aktivitas penambangan, lebih baik jangan mengeluarkan izin. Bahan-bahan tambang itu tidak akan hilang atau berkurang nilainya. Justru sebaliknya, semakin lama dibiarkan di perut bumi, kuantitas dan kualitas bahan-bahan tambang itu akan terus meningkat.

Hal ini perlu diingatkan demi mencegah terulangnya tragedi yang sama, yang telah menghancurkan sebagian peluang bangsa ini untuk bangkit dari keterpurukan. Dan khusus bagi penduduk Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, serta jutaan orang Batak di seluruh dunia; hal ini perlu direnungkan dengan sungguh-sungguh, daripada menyesal nantinya.

Pasalnya, sebuah perusahaan tambang Australia yang berpatungan dengan perusahaan Indonesia, saat ini sedang menyiapkan penambangan besar-besaran di Dairi. Dan menariknya, atau mungkin lebih tepat disebut mengerikan, perusahaan yang akan melakukan penambangan di Dairi, yaitu PT Dairi Prima Mineral (DPM) ada kaitannya dengan PT.Lapindo Brantas. Keterkaitan itu berpusat pada Grup Bakrie, yang melalui anak perusahaannya PT Bumi Resources Tbk sedang berusaha menguasai saham Herald Resources Ltd di PT.DPM.

Dan celakanya lagi, lokasi bakal penambangan tersebut adalah kawasan hutan lindung, yaitu Register 66 Batu Ardan, Desa Sopokomil, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Menurut Direktur Eksekutif Walhi Sumatera Utara Job Rahmad Purba, hutan lindung tersebut adalah habitat harimau Sumatera, yang sudah sangat langka.

Alih fungsi hutan lindung saja sudah merupakan masalah besar. Pasalnya, selain habitat harimau, di sana tumbuh 20 jenis tanaman langka. Lebih penting daripada itu, hutan lindung di Sumatera Utara, khususnya kawasan yang terkait dengan Danau Toba, merupakan penjaga keseimbangan ekologi yang sangat vital. Tak bisa dibayangkan, entah neraka macam apa yang akan menjelma di Tano Batak, seandainya terjadi bencana di Dairi akibat pengeboran seperti di Sidoarjo.

Sayangnya, kontrak karya generasi VII yang diberikan pemerintah kepada Herald Resources Ltd pada tahun 1999, tidak mungkin dibatalkan begitu saja. Perusahaan Australia itu kini menguasai areal seluas 27.520 hektar di perbatasan hutan lindung Register 66 Batu Ardan, Kecamatan Silima Pungga-Pungga, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.

Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya perubahan alam di sana, jika areal perbukitan seluas itu diratakan dan dikeruk. Mungkin saja daerah Parongil dan sekitarnya akan berubah jadi jurang, lembah, danau, atau kubangan raksasa yang membara seperti di Sidoarjo.

* * *

MENURUT sejumlah hasil penelitian, hutan yang terdapat pada radius ratusan kilometer di seputar Danau Toba adalah catchment atau daerah tangkapan air. Catchment ini berfungsi menjaga keseimbangan ekologi. Caranya, akar pepohonan menahan air, sehingga tidak terjadi erosi, dan perbukitan di seputar danau itu tidak longsor. Air yang meresap ke tanah kemudian membentuk sungai-sungai bawah tanah, yang kesemuanya mengalir ke Danau Toba. Inilah yang membuat “gunung berapi tidur’ di dasar danau itu selalu dalam keadaan dingin, meskipun sedang kemarau.

Di samping itu, Tano Batak adalah kumpulan perbukitan yang ringkih dan dataran rendah yang terletak di atas patahan aktif di dasar bumi. Oleh karena itu, penambangan dan apalagi pengeboran harus dilakukan ekstra hati-hati; dengan perhitungan yang sangat matang dan holistik. Lebih bagus lagi, jangan lakukan penambangan atau pengeboran di sana!

Bagi yang mengenal alam Tapanuli, tidak akan sulit membayangkan; penambangan atau pengeboran di Dairi bisa saja berdampak terhadap wilayah tetangganya. Getaran mesin bor bertenaga besar di Dari, misalnya, dapat merontokkan perbukitan batu yang rapuh di sepanjang tepian Danau Toba, misalnya di Kabupaten Humbang Hasundutan. Ini seperti teori domino.

Bukannya aku berpretensi jadi ilmuwan atau sok tahu, tapi bersikap hati-hati adalah keharusan, agar Tapanuli terhindar dari tragedi seperti di Sidoarjo. Kehati-hatian ini bisa dijadikan norma umum di seluruh wilayah Tano Batak, baik menyangkut eksploitasi hutan dan aktivitas penambangan. Hal ini menjadi sangat penting, karena salah satu dampak dari pemekaran wilayah di Tapanuli adalah meningkatnya ancaman langsung terhadap kelestarian alam dan lingkungan hidup.

Kebijakan para pejabat publik di wilayah yang baru mekar di Tapanuli memang sangat mencemaskan. Di Kabupaten Samosir, hutan alam Tele dibabat untuk membangun kebun bunga, dan kita hanya bisa berdoa mudah-mudahan dampaknya terhadap lingkungan tidak terlalu destruktif. Salah satu yang terancam adalah pembangkit listrik tenaga air di wilayah itu, di samping resiko longsor.

Karena ambisi yang berlebihan untuk meningkatkan PAD, ada kecenderungan para bupati dan pejabat publik lainnya di Tapanuli mengabaikan standar-standar keselamatan lingkungan. Dan kita harus menyadari, analisis Amdal bukanlah jaminan bahwa eksploitasi hutan dan aktivitas penambangan bakal aman. Soalnya, selain faktor korupsi, ada juga kelemahan pengawasan pada saat eksploitasi. Buktinya : Tragedi Sidoarjo.

Bayangkanlah, kalau di daerah maju seperti Sidoarjo saja masih bisa terjadi “kesalahan prosedur” pengeboran—yang menyebabkan tragedi mengerikan; apalagi di Tapanuli yang sangat kekurangan tenaga ahli dan pejabat publik berintegritas tinggi. Siapa di Dairi yang punya pengetahuan, integritas keilmuan, hukum dan moral, untuk mengawasi dan menilai aktivitas penambangan yang dilakukan perusahaan Australia itu ?

* * *

DARI berbagai bahan publikasi dapat diketahui, eksplorasi tambang seng dan timah hitam sudah berlangsung di Dairi; sejak tahun 2005. Seperti pengakuan Manajer Pertambangan PT Dairi Prima Mineral, Tarmizie Ibrahim kepada wartawan pada akhir tahun lalu (30/10), dalam dua tahun ini perusahaan itu sudah melakukan pengeboran pada 270 titik di prospek Anjing Hitam, di kawasan hutan lindung Register 66 Batu Ardan.

Berikut ini laporan surat kabar Media Indonesia mengenai keadaan di seputar lokasi tambang :

Lokasi Anjing Hitam itu sekitar 500 meter dari kamp para penambang. Area Anjing Hitam itu masih memiliki penutup lahan berupa hutan dengan kemiringan lereng hampir mencapai 90 derajat. Kondisi hutan lebat dan topografi bergunung dengan kemiringan lereng terjal, sedikitnya membutuhkan waktu tempuh 1,5 jam dari kamp ke lokasi Anjing Hitam itu. Sedangkan kamp tersebut sedikitnya membutuhkan waktu tempuh dua jam jalan kaki dari pemukiman penduduk desa Longkotan.

Jalan dari pemukiman desa Longkotan ke kamp itu berliku dan menanjak dengan kemiringan lereng mulai dari 45 derajat hingga 70 derajat. Di kiri jalan pada bagian lembah terlihat hamparan sawah dan di kanan jalan terlihat kebun kopi dan sebagian kecil kelapa sawit.

Kamp penambang pun berada di area yang dikeliling kebun masyarakat yang ditanami pohon kulit manis dan tanaman-tanaman keras lainnya seperti jengkol dan petai. Semua areal kebun ini berada di kaki gunung daerah prospek Anjing Hitam, lokasi yang akan dijadikan tempat penambangan dan pabrik tambang.

* * *

AKTIVITAS penambangan selalu diiringi dengan berbagai resiko. Tidak satu pun aktivitas penambangan di dunia ini yang aman seratus persen. Semburan lumpur panas seperti di Sidoarjo, misalnya, adalah resiko yang lumrah; namun menjelma jadi bencana mengerikan karena lokasi penambangan dekat dengan pemukiman penduduk yang padat.

Lokasi penambangan PT Dairi Prima Mineral juga berada di dekat pemukiman penduduk, seperti digambarkan oleh Media Indonesia di atas. Biarpun begitu, tampaknya penambangan tetap akan dilaksanakan, meski PT. DMP harus melakukan pengeboran horisontal untuk “menjarah” bahan tambang di bawah hutan lindung Register 66 Batu Ardan.

Yang masih mungkin kita lakukan sekarang adalah mencegah keluarnya izin Menteri Kehutanan untuk alih fungsi hutan lindung Register 66, sambil mengawasi jangan-jangan PT Dairi Prima sudah menjarah hutan lindung itu. Kecurigaan ini mungkin terkesan tidak fair, tapi lebih baiklah kita sedikit kurang sopan demi menyelamatkan alam Dairi.

Seperti kata Nagabonar,”Berunding, berunding, Belanda masuk juga…”. Oleh karena itu kita tidak boleh kompromi, karena taruhannya adalah kelestarian Tano Batak dan keselamatan penduduknya.

PT DMP membutuhkan areal seluas 37 hektare di hutan lindung Register 66 Batu Ardan untuk membangun konstruksi tambang, base camp, dan pintu masuk ke tambang di dalam tanah. Masalahnya, sampai sekarang Departemen kehutanan belum mengeluarkan izin alih fungsi hutan lindung tersebut, karena terganjal oleh UU No 41 Tahun 1999 Tentang Hutan Lindung. Menurut informasi dari sebuah sumber, izin alih fungsi hutan lindung Register 66 akan diterbitkan oleh Departemen Kehutanan, Agustus mendatang.

Nah, masih adakah yang peduli ? Kalau memang masih ada yang peduli, ayo kita upayakan sesuatu, demi mendesak Departemen Kehutanan supaya izin alih fungsi hutan lindung itu jangan pernah diterbitkan. Apa yang harus kita lakukan ?

===================================================================

http://www.ayomerdeka.wordpress.com

Iklan

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , ,

7 Tanggapan to ““Bencana Lapindo” Bisa Terjadi di Dairi”

  1. Menggugat Mualaf Says:

    wah! pengusaha yang penguasa memang bikin repot nih!
    mana pemerintahnya ga punya nyali lagi…
    duh, gimana yaa nih bang??? hehehe, bikin gregetan deh.. 😀

  2. Robert Manurung Says:

    @ Menggugat Mualaf

    Anis yang baik, teman-teman sedang menggalang dukungan di blog TobaDreams; dengan rencana jangka pendek menekan menteri kehutanan supaya izin alih fungsi hutan lindung Register 66 Batu Ardan, Dairi, jangan diterbitkan.

    Dukungan dari seorang Anis sangat kami butuhkan, please. Terima kasih.

    Horas.

  3. pangulu Says:

    Bah …. masalah Lapindo belum beres, rakyat Sidoarjo masih menderita, malah mau ekspansi ke Dairi. Manusia apa itu ?

  4. yogaswara Says:

    Kasihan bangsa Indonesia (tak usahlah bicara suku-sukuan) selalu ketakutan dengan hal-hal yg ilmunya ngga tau….Pembangkit Listrik Nuklir Takut (jepang aja yg di bom nuklir, PLTnya pake nuklir), Hutan rusak takut…padahal kalo tau ilmunya siapa takut!!, Kenapa Cina, Jepang, Australia (USA) berani ambil resiko demi yg katanya timah hitam (batu Galena)? Tahukah kalian yg kerjanya Demo, protes tanpa belajar bahwa DIDALAM BATU GALENA PT DAIRI PRIMA TERDAPAT :
    1. Timah Hitam (Pb)
    2. Uranium (U)
    3. Tembaga (Cu)
    4. Seng (Zn)
    5. Argentum/Perak (Ag)
    6. Aurum/Emas (Au)
    7. Platina/Emas Putih (Pl)
    8. Rhadium (Ra)
    Cek lagi ilmu kimia kalian, lalu coba olah batu Galena Niscaya ketemu itu semua, sayangnya saya baru bisa hanya sebatas sampai Timah, emas dan perak saja. Yang muda2 belajarlah lebih giat Bukit Barisan dari Ujung Aceh sampai dengan Ujung Jawa Timur isinya TAMBANG itu semua. PIKIRKAN pada tahun 2000 SM manusia sudah bisa mengolah emas, perunggu, Kita hidup lebih maju tapi ngga bisa ngolah emas? NAH LO….begonya kita berarti tertinggal 4008 tahun.
    INDONESIA KAYA KALO SUMBER DAYA MANUSIANYA MAU BELAJAR BUKAN HANYA KETAKUTAN TERHADAP TEKNOLOGI, Untuk Investor Asing TUTUP SAJA KARENA KITA DIBOHONGI. (hati2 ada info bupati dairi bermain di PT DPM, ini konspirasi tingkat internasional) Masyarakat jangan dibodohi terus kalo mau bukti dlm tempo 3 jam Batu Galena bisa di ubah jadi Timah, emas, Perak.
    Informasi supaya mau belajar lagi bahan kimia yang digunakan utk mengolah Batu Galena adalah (Soda Api, Soda Ash, Sendawa, Borax, Waterglass, HNO3, Co3 / Kapur) silahkan ramu dan pelajari kembali melalu KIMIA dasar SMA. Semoga bermanfaat dalam memakmurkan Rakyat Indonesia khususnya SUMUT.

  5. Imel Says:

    Hmmm…ada salah satu caranya…
    Protes beramai-ramai..

    Bikin petisi ke Pemerintah Indonesia….

    lewat http://www.petitiononline.com..
    🙂

  6. ben Says:

    Menyimak tulisan pada artikel ini, terbersit beberapa pertanyaan pada diri saya dan mungkin juga pada diri Anda, yakni:
    1) Benarkah ini bisa terjadi?
    2) Apakah penulis sebelum membuat tulisannya, ia telah melakukan survey langsung ke lokasi, untuk melakukan cek dan ricek apakah bisa atau telah terjadi permasalahan lingkungan akibat kegiatan PT. Dairi Prima Mineral?
    3) Apabila permasalahan itu hasil temuan langsung penulis di lokasi pertambangan?
    4) Kalau bukan, lalu dari mana sumber isu itu berasal?
    5) Apakah masyarakat sekitar elah mengadukan permasalahan lingkungan hidup ini ke instansi terkait?
    6) Mampukah suatu lembaga atau organisasi dengan keterbatasan sumber daya (peralatannya maupun manusianya) dapat melakukan analisa serius untuk membuktikan dalam proses pelaksanaan kegiatan PT. DPM telah menimbulkan dampak kerusakan lingkungan?
    7) Bagaimana dengan mutu, tanggung jawab dan keseriusan penilaian terhadap dokumen AMDAL PT. DPM?

  7. Syahrul Hanafi Simanjuntak S.15 Says:

    WASPADA !

    Naiknya permukaan air Danau Toba yang hingga menimbulkan BANJIR di pemukiman warga sekitar merupakan fenomena alam yang baru karena selama ini Danau Toba TIDAK PERNAH meluap apalagi sampai menimbulkan banjir.

    (Liputan 6 Malam SCTV, 02/12/2008 22:56)

    Semoga bukan Alam mulai enggan bersahabat dengan kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: