Drama Penangkapan Jenderal Muchdi Pr

foto : Media Indonesia

GENGSI polisi kita kini mendadak naik tinggi. Tidak lagi hanya berani menganiaya mahasiswa atau menciduk maling kelas teri. Tapi ternyata, Polri punya nyali juga menangkap dan menyekap seorang jenderal TNI.

Tidak tanggung-tanggung, tangkapan besar itu adalah mantan Komandan Kopassus TNI Angkatan Darat, Mayor Jenderal (Purn) Muchdi Purwoprandjono. Namun ketika ditangkap oleh polisi, Kamis lalu (20/6), dakwaan terhadapnya tidak terkait dengan Kopassus.

Jenderal yang populer dengan nama Muhci Pr ini diciduk lantaran, saat menjabat Deputi Kepala Badan Intelijen Negara (Bakin) Bidang Penggalangan, dia diduga terlibat dalam “operasi” pembunuhan aktivis kemanusiaan Munir. Polisi langsung menjadikan Muchdi tersangka, dan ditahan.

Jauh-jauh hari sebelumnya, Polri memang sudah sesumbar akan segera menangkap tersangka baru dalam kasus pembunuhan Munir. Sesumbar tersebut kini telah dipenuhi, namun drama penangkapan jenderal purnawirawan itu menyiratkan satu hal, bahwa polisi sebenarnya hanya terima beres. Bahkan ada kesan, pihak polisi merasa “ngeri” menangkap dan menahan Muchdi.

Dengan kata lain, Muchdi Pr memang sudah “disiapkan” untuk ditangkap dan selanjutnya ditahan. Dan polisi tak bisa mengelak, “terpaksa” menjalankan kewajiban yang “ngeri-ngeri sedap” itu. Untuk membuktikan konklusi ini, mari kita simak drama penangkapan sang jenderal, yang berlangsung mulus, “adem ayem”, dan tampaknya sengaja disetting berlangsung malam hari.

Polisi sungkan dan grogi ?

SEPERTI dilaporkan berbagai media cetak dan televisi, Muchdi Pr dijemput oleh satu tim polisi pada Kamis malam, pukul 19.00 WIB, di sebuah apartemen di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat. Ketika polisi tiba, Muchdi sudah menunggu dengan kuasa hukumnya.

Pihak kepolisian tampaknya sadar betul, tangkapan besar ini adalah “orang kuat” yang masih disegani di jajaran Kopassus dan badan intelijen negara. Oleh karena itu, kendati Muchdi sudah purnawirawan, tim polisi yang menjemputnya terdiri atas sejumlah perwira tinggi, dan langsung dikomando dari Mabes Polri.

Beberapa di antaranya, Kepala Badan Reserse Kriminal Komisaris Jenderal Bambang Hendarso Danuri, dan Direktur Keamanan Transnasional Brigadir Jenderal Badrodin Haiti, serta Kepala Biro Analis sekaligus ketua penyelidik kasus Munir, Brigadir Jenderal Mathius Salempang. Sedangkan para penyidik hanya menunggu di tempat parkir.

“Dia menyerahkan diri dan langsung kami tetapkan sebagai tersangka,”ujar Inspektur Jenderal Abubakar Nataprawira, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri.

Tak lama berselang setelah menyerahkan diri, Muchdi Pr langsung “diangkut” ke Mabes Polri. Tersangka baru dalam kasus pembunuhan Munir itu dibawa dalam iring-iringan dua mobil dan satu sepeda motor. Muchdi berada dalam mobil paling depan, yaitu Kijang Innova warna perak bernomor polisi B 1349 TZ. Setibanya di pintu belakang gedung Bareskrim, dia langsung “digiring” oleh Mathias Salempang ke ruang pemeriksaan.

Sepuluh menit kemudian, dua mobil kijang dan sebuah sepeda motor tiba di pintu yang sama. Bambang Hendarso dan Badrodin Haiti turun dari Kijang Innova hitam, dan langsung masuk ke ruang pemeriksaan. Menyusul di belakang mereka 10 polisi berpakaian preman.

Sebelum dan sesudah “penangkapan” mantan komandan Kopasus itu, pihak Polri terlihat melakukan sejumlah “persiapan khusus”; termasuk pemasangan detektor di sejumlah titik strategis. Pokoknya, polisi bertindak ekstra hati-hati, dan bahkan terkesan grogi, mungkin karena segan dengan latar belakang Muchdi Pr yang memang cukup “sangar”, yaitu mantan komandan pasukan elit Angkatan Darat dan pejabat penting badan intelijen negara.

Esok harinya, tepatnya Sabtu pukul 13.45 WIB, Muchdi Pr telah dipindahkan ke Markas Brimob di Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Pemindahan tahanan kelas “berat” ini menggunakan tujuh mobil, dengan pengawalan super ketat.

Bikin partai dengan Prabowo Subianto

BANYAK hal menarik dan baru diketahui publik, terungkap setelah Muchdi Pr “ditangkap”, lalu dinyatakan sebagai tersangka dan ditahan. Misalnya, tampilnya mantan Wakil Ketua DPR Zaenal Ma’arif sebagai juru bicara tim pengacara Muchdi.

Sedangkan salah seorang pengacaranya adalah Mahendradatta, yang juga pengacaranya Ketua Umum FPI Rizieq Shihab. Mahendratta juga menjadi pengacara Munarman, kawan baik Munir selagi masih sama-sama di YLBHI, sebelum Munarman “putar haluan”.

Penunjukan Mahendradatta sebagai pengacaranya, tentu akan menimbulkan pertanyaan di masyarakat, meski memang ada kebebasan untuk memilih pengacara; dan pengacara sendiri tidak boleh menolak ketika diminta oleh siapa pun. Itu aturan normatifnya.

Daftar pertanyaan itu akan semakin panjang, sebab ternyata Muchdi Pr ikut bersama Prabowo Subianto mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya. Prabowo sebagai Ketua Umum, Muchdi Pr sebagai Wakil Ketua Umum.

Memerintahkan pembunuhan Munir

TAPI, daripada berspekulasi mengenai kaitan-kaitan yang masih kabur, lebih baik kita cari tahu mengenai keterlibatan Muchdi Pr dalam pembunuhan Munir. Aktivis kemanusiaan ini meninggal dunia karena racun arsenik di dalam pesawat Garuda GA-974, dalam penerbangan Jakarta-Amsterdam, 7 September 2004.

Awalnya penyelidikan kasus ini seperti menemui jalan buntu, dan bahkan membingungkan masyarakat, karena selama hampir empat tahun yang menjadi tersangka hanya Pollycarpus. Terlalu aneh bagi masyarakat untuk sekadar membayangkan, seorang pegawai Garuda macam dia bisa punya niat melakukan pembunuhan terencana terhadap Munir.

Dengan dinyatakannya figur sekaliber Muchdi Pr sebagai tersangka—terlepas bagaimana nantinya vonis hakim terhadapnya, membuat kasus pembunuhan Munir mulai terasa proporsional dan logis. Lebih meyakinkan lagi jika benar apa yang dikatakan Rachland Nashdik, penerus Munir sebagai direktur eksekutif di Imparsial,”Penangkapan Muchdi baru garis start.”

Dalam rapat kerja dengan Komisi Hukum DPR, Kamis pekan lalu , Komjen Bambang Hendarso mengatakan tersangka baru adalah orang yang menyuruh melakukan pembunuhan Munir. “Kami yakini bukti permulaan cukup untuk ditentukan dengan kerangkan yuridis Pasal 55 juncto 340 KUHP (pembunuhan berencana),”katanya.

================================================================

http://www.ayomerdeka.wordpress.com

Tag: , , , , , , , , , , , , , , ,

Satu Tanggapan to “Drama Penangkapan Jenderal Muchdi Pr”

  1. Penyidik Says:

    Terlalu sumir.. Fakta dikemudian hari ternyata berkata lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: