Munir Dibunuh Karena The X-Files ?

Oleh : Robert Manurung

SELAMA hampir empat tahun, sejak Munir dikabarkan meninggal dunia pada 7 September 2004, aku selalu berpendapat : pembunuhan itu tidak perlu. Dan aku benar-benar heran, kok ada orang atau kelompok yang merasa terancam dengan sepak terjang Munir sebagai aktivis HAM. Pasalnya keterbukaan pada era Reformasi, menurut pendapatku. telah melunturkan aura militan pada sosok Munir, sebab pemberani seperti dia bermunculan banyak sekali.

Pendek kata, menurut penilaianku, Munir bukanlah sosok yang membahayakan bagi siapa pun. Apalagi pada masa menjelang kematiannya yang mengejutkan dan tragis itu, pejuang HAM ini sudah mulai mengubah strategi perjuangannya, yang tadinya serba “anti-ABRI” menjadi pendorong reformasi di tubuh TNI.

Bahkan sebelum berangkat ke Belanda, Munir sudah mulai banyak “bermain” di wilayah politik. Aktivis yang tak kenal takut ini, saat itu, disebut-sebut media massa sebagai kandidat paling ideal untuk jabatan jaksa agung.

Tapi, setelah munculnya kesaksian-kesaksian baru, rasanya aku harus mengubah pendapat mengenai kasus pembunuhan Munir. Tokoh kemanusiaan ini dibunuh bukan oknum paranoid, tapi oleh sejumlah “orang kuat” yang menganalisis dengan dingin, bahwa Munir bisa membahayakan mereka dan karena itu harus dibunuh lewat sebuah operasi “bernuansa” sipil. Tapi kemudian ternyata, justru keterlibatan orang-orang sipil itulah yang membuat kasus ini bergerak ke jurusan lain, seperti pisau balik gagang.

Menurut testimoni Suripto, mantan staf Kepala Bakin yang kini menjabat Wakil Ketua Komisi Hukum DPR, motif pembunuhan Munir untuk mencegahnya menyerahkan bukti-bukti pelanggaran HAM ke pihak-pihak tertentu di Belanda. Asumsinya, jika X-Files tersebut sempat diserahkan Munir, akan membahayakan oknum tertentu yang saat itu menjadi petinggi Badan Intelijen Nasional (BIN).

Berikut ini penuturan Suripto yang aku sarikan dari media massa :

Pembunuhan terhadap Munir direncanakan dalam sebuah rapat yang dihadiri para petinggi BIN, pada tahun 2004. Mereka yang hadir untuk merancang kematian pejuang HAM itu antara lain, A.M Hendropriyono (Kepala BIN), As’ad Ali (Wakil Kepala BIN), Nurhadi Djazuli (Sekretaris Umum BIN), dan Manunggal Maladi (Deputi II BIN Bidang Pengamanan).

Mereka, kata Suripto, “Memutuskan untuk melenyapkan Munir.” Eksekutornya adalah Muchdi Pr.

Pernyataan Suripto dibantah oleh Manunggal Maladi. “Rapat seperti itu tidak pernah ada,”ujarnya kepa Tempo. Dia juga menegaskan, dalam rapat-rapat rutin di BIN tidak pernah ada pembicaraan untuk membunuh Munir.

The-X Files atau kesaksian Munir ?

Berdasarkan pemeriksaan dalam persidangan Pollycarpus, yang telah divonis hukuman penjara 20 tahun, ditemukan bukti percakapan antara telepon seluler milik Muchdi dengan Pollycarpus. Selain itu, Muchdi juga diduga berperan dalam terbitnya surat rahasia Wakil Kepala BIN M.As’ad kepada Indra Setiawan, Direktur Utama Garuda ketika itu. Surat itu memerintahkan supaya Pollycarpus bisa ikut dalam penerbangan yang sama dengan Munir.

Mana yang akan kita percaya ? Kita harus menunggu dengan sabar hasil penyelidikan kasus ini selanjutnya. Tapi untuk sementara ini, testimoni Suripto telah memberikan kita sebuah alasan yang masuk akal, sehingga keterlibatan orang-orang sipil macam Pollycarpus Budihari Priyanto dalam “operasi” pembunuhan Munir menjadi logis.

The X-Files yang dibawa Munir ke Belanda, menurut versi Suripto, telah “memaksa” sejumlah “orang kuat” untuk melenyapkannya. Tapi tampaknya bukan The X-Files itu yang paling penting, karena bisa saja dikirim lewat email atau dengan cara lain, melainkan keberadaan Munir di Belanda-lah yang paling ditakutkan oleh para oknum yang terlibat pelanggaran HAM berat.

Kalau sampai Munir tiba dalam keadaan hidup di Belanda, dia bisa memberikan kesaksian kepada Mahkamah Internasional, sebuah lembaga dunia yang berkedudukan di Belanda dan telah banyak menghukum para diktator dan petinggi militer dari berbagai negara yang melakukan kejahatan kemanusiaan.

Sampai sekarang, belum seorang pun yang divonis sebagai penjahat kemanusiaan oleh Mahkamah Internasional bisa lolos dari jerat hukum. Mungkin inilah yang ditakutkan oleh mereka, sehingga Munir dibunuh dalam perjalanan menuju Belanda.

Dengan makin meningkatnya “bobot” tokoh yang dijadikan tersangka, tampaknya kasus ini akan melebar ke mana-mana. Dan dilihat dari segi waktu, mungkin awal kasus ini bukanlah saat Munir ditemukan mati keracunan arsenik tahun 2004; tapi boleh jadi sudah direkayasa sejak tahun 1998.

Yang pasti, bagi peminat cerita spionase, kisah ini pasti sangat memikat. Dan sebagai pecandu cerita spionase sejati Anda perlu diingatkan, jangan terpaku hanya pada kasus pembunuhan Munir. Kematian aktivis ini, tampaknya hanyalah kasus kecil dibanding tragedi sosial yang terjadi di berbagai tempat di Indonesia dalam kurun waktu satu dekade ini, dari tahun 1998 sampai sekarang.

Use your illusion, kata Gun N Roses. Gunakan sel abu-abu di kepala Anda, kata Hercule Poirot. Ayo berpikir merdeka, kata provokator di blog ini, hehehehe…..

===================================================================================

http://www.ayomerdeka.wordpress.com

Tag: , , , , , , , , , , , , , , ,

8 Tanggapan to “Munir Dibunuh Karena The X-Files ?”

  1. daeng limpo Says:

    Sungguh ironis dan tragis, jika benar demikian yang terjadi, bangsa ini telah digadaikan demi menyelamatkan segelintir orang yang takut atas akibat perbuatannya sendiri dimasa lalu………….?.

  2. Menggugat Mualaf Says:

    padahal waktu tidak mungkin tutupi terus baunya..😀

  3. Garfield Says:

    Mustahil seorang kepala BIN tidak mengetahui operasi sepenting ini. Keterlibatan pejabat organisasi BIN seperti Wakil BIN, Deputi V, Deputi II dan Sekretaris BIN plus Agen Budi Santoso mengindikasikan Letjen (purn) Abdullah Mahmud Hendropriyono- Jenderal penuhnya cuma penghargaan kan?- terlibat atau setidaknya mengetahui rencana ini.

    Motifnya apa? Meredam Kasus Talangsari. Kasus Pelanggaran HAM di Lampung sewaktu Hendro jadi Danrem Garuda Hitam.

    Kesimpulan KontraS:

    Peristiwa Talangsari merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan yang termasuk dalam kategori pelanggaran HAM yang berat sesuai UU 26 / 2000 tentang Pengadilan HAM. Temuan tentang adanya dugaan terjadinya pelanggaran HAM berat hanya dapat dilakukan oleh Komnas HAM pada fungsi Komnas sebagai lembaga penyelidik dengan membentuk KPP HAM.

    Ini kutipan dari laporan kontras. http://www.kontras.org/data/KERTAS_POSISI_TALANGSARI_2006.pdf

    Pukul 18.30
    Danrem 043 Gatam, Kolonel Hendropriyono beserta pasukan tiba di Rajabasa Lama

    Pukul 20.30.
    11 orang jama’ah mencarter Bus Wasis untuk digunakan sebagai transportasi ke Metro. Didalam bus tersebut jama’ah menemukan Pratu budi Waluyo. Setelah terjadi dialog, Pratu Budi mengaku berasal dari Way Jepara. Karena dianggap termasuk orang yang menculik 5 orang jama’ah anggota TNI itu dibunuh. Mayatnya dibuang didaerah Wergen antara Panjang dan Sidorejo. Jema’ah juga mencederai supir dan kenek bus tersebut.

    Pukul 24.00, Riyanto melemparkan bom molotov ke kantor redaksi Lampung Pos yang memberitakan kasus secara tidak berimbang dan cenderung mendeskreditkan korban. Aksi tersebut juga memang diniatkan untuk mengalihkan perhatian aparat.

    Selasa, 7 Februari 1989
    Pukul 24.00
    Terdengar 2 kali suara tembakan dari arah Timur. Sugeng (jama’ah Jakarta) membalas sekali tembakan dengan pistol yang ditinggal tewas Kapt. Soetiman.

    Pukul 03.00
    Salim seorang jama’ah yang melakukan ronda di pos sebelah selatan memergoki 2 orang tentara yang ingin mendekat ke lokasi jama’ah. Karena dipergoki kedua orang tentara tersebut melarikan diri

    Pukul 05.30
    Danrem 043 Garuda Hitam Kol. Hendropriyono bersama lebih dari satu batalion pasukan infantri dibantu beberapa Kompi Brimob, CPM dan Polisi setempat mengepung dan menyerbu perkampungan Cihideung dengan posisi tapal kuda.
    Dari arah Utara (Pakuan Aji), Selatan (Kelahang) & timur (Kebon Coklat, Rajabasa Lama). Sementara arah barat yang ditumbuhi pohon singkong dan jagung dibiarkan terbuka.

    pasukan yang dilengkapi senjata modern M-16, bom pembakar (napalm), granat dan dua buah helikopter yang membentengi arah barat. Melihat penyerbuan terencana dan besar-besaran, dan tidak ada jalan keluar bagi jama’ah untuk meyelamatkan diri, jama’ah hanya bisa membentengi diri dengan membekali senjata seadanya. Tanpa ada dialog dan peringatan, penyerangan dimulai.

    Pukul 07.00
    Karena kekuatan yang tidak seimbang, pasukan yang dipimpin mantan menteri Transmigrasi berhasil menguasai perkampungan jama’ah dan memburu jama’ah. Dalam perburuan itu, aparat memaksa Ahmad (10 th) anak angkat Imam Bakri sebagai penunjuk tempat-tempat persembunyian dan orang yang disuruh masuk kedalam rumah-rumah yang dihuni oleh ratusan jema’ah yang kebanyakan terdiri dari wanita dan anak-anak. Setelah menggunakan Ahmad, aparat berhasil mengeluarkan paksa sekitar 20 orang ibu-ibu dan anak-anak dari pondok Jayus. Ibu Saudah, salah satu korban yang dikeluarkan paksa sudah melihat sekitar 80-an mayat yang bergelimpangan disana-sini hasil serangan aparat sejak pukul 05.30 tadi pagi.
    Setelah dikumpulkan ke-20-an ibu-ibu dan anak-anak dipukul dan ditarik jilbanya sambil dimaki-maki aparat “Ini istri-istri PKI”. Didepan jama’ah seorang tentara mengatakan “Perempuan dan anak-anak ini juga harus dihabisi, karena akan tumbuh lagi nantinya”.

    Pukul 07.30
    Tentara mulai membakar pondok-pondok yang berisi ratusan jama’ah dan anak-anak rumah panggung. dengan memaksa Ahmad menyiramkan bensin dan membakarnya. Dibawah ancaman senjata aparat, Ahmad berturut-turut diperintahkan untuk membakar rumah Jayus, Ibu Saudah, pondok pesantren dan bangunan-bangunan yang diduga berisi 80-100 orang terdiri dari bayi, anak-anak, ibu-ibu banyak diantaranya yang masih hamil, remaja dan orang tua dibakar disertai dengan tembakan-tembakan untuk meredam suara-suara teriakan lainnya.
    Sambil membakar rumah-rumah tersebut, Purwoko (10 th) dipaksa aparat untuk mengenali wajah Warsidi dan Imam Bakri diantara mayat-mayat jama’ah yang bergelimpangan. Mayat Pak War dan Imam Bakri ditemukan setelah Purwoko hampir membolak-balik 80-an mayat.

    Pukul 09.30
    Setelah ditemukan, kedua mayat tersebut kemudian diterlentangkan di pos jaga jama’ah dengan posisi kepala melewati tempat mayat tersebut diterlentangkan (mendenga’-leher terbuka-). Tak berapa lama, seorang tentara kemudian menggorok leher kedua mayat tersebut.

    Pukul 13.00
    Kedua puluhan ibu dan anak-anak tadi kemudian berjalan kaki sekitar 2 Km untuk dibawa ke Kodim 0411 Metro .

    Pukul 16.00
    Hendropriyono mengintrogasi ibu-ibu tersebut dengan pertanyaan-pertanyaan: Ikut pengajian apa? Apa yang diajarkan? Gurunya siapa? Dan menerangkan bahwa jama’ah Warsidi batil karena menentang Pancasila dan mengamalkan ajaran PKI.

    Pukul 17.00
    Jama’ah kemudian dimasukan kedalam penjara.
    Sementara di Sidorejo pada pagi harinya atas informasi, Sabrawi, supir bis Wasis, aparat bersama warga mengepung rumah Zamjuri. Bersama Zamzuri ada 8 orang jema’ah yaitu: Munjeni, Salman Suripto, Soni, Diono, Roni, Fahrudin, Isnan dan Mursalin Karena dituduh perampok oleh aparat, terjadilah bentrok dengan Polsek Sidorejo. Serma Sudargo (Polsek
    Sidorejo), Arifin Santoso (Kepala Desa Sidorejo) tewas. Dipihak jama’ah, Diono, Soni dan Mursalin tewas.sedangkan Roni terluka tembak.

    Kamis, 9 Februari 1989

    Pukul 08.40
    Jama’ah yang marah mendengar kebiadaban dan penahanan jama’ah di Kodim 0411 Metro tersebut menyerbu Kodim dan Yonif 143. Dalam penyerbuan itu, 6 orang jama’ah tewas. Sedangkan dipihak aparat pratu Supardi, Kopda Waryono, Kopda Bambang Irawan luka-luka terkena sabetan golok. 1 sepeda motor terbakar dan kaca depan mobil kijang pick up pecah.

    Dua minggu kemudian
    Tahanan ibu-ibu di Kodim dipindahkan ke Korem 043 Gatam. Di Korem, Hendropriyono memerintahkan anak buahnya untuk melepas paksa jilbab-jilbab ibu-ibu jama’ah sambil berkata “tarik saja, itu hanya kedok”.
    penangkapan sisa-sisa anggota jama’ah oleh aparat dibantu masyarakat oleh operasi yang disebut oleh Try Sutrisno Penumpasan hingga keakar-akarnya;
    Penangkapan para aktivis islam di Jakarta, Bandung, solo, Boyolali, mataram, Bima & dompu melalui operasi intelejen yang sistematis yang banyak diantaranya sama seklai tidak mengetahui kejadian.

    Data Korban hasil verifikasi investigasi Kontras
    2005
    Korban Penculikan : 5 orang
    Korban Pembunuhan di luar proses hukum : 27 orang
    Korban Penghilangan Paksa : 78 orang
    Korban Penangkapan Sewenang-wenang : 23 orang
    Korban Peradilan yang Tidak Jujur : 25 orang
    Korban Pengusiran (Ibu dan Anak) : 24 orang
    KontraS

  4. Robert Manurung Says:

    @ daeng limpo
    @ Menggugat Mualaf

    Persis seperti dikatakan daeng, begitulah bangsa dan negara ini dijadikan sekadar alas pemuas nafsu berkuasa dan keserakahan segelintir orang.

    @ Garfield

    Terima kasih untuk infonya. Itu sangat perlu supaya masyarakat kita tahu, sadar, dan bangun.

    Salam Merdeka!

  5. yadhi Says:

    apapun alasannya, kematian munir adalah sebuah konspirasi politik yg kotor

  6. arieff Says:

    Timing terbunuhnya munir munir adalah pemilu 2004. bisa jadi bukan karena tujuan munir yang mengarah ke belanda dan ketakutan akan pengadilan ham internasional disana. tapi persaingan berat pencalonan mantan TNI (SBY) dengan mantan pimpinannya yang dari PDIP (megawati). munir selalu berteriak jangan RI-1 dari TNI. maka antara dua; Munir dibunuh oleh orang-orangnya SBY, atau munir dibunuh oleh orang-orangnya megawati untuk mengarahkan tuduhan yang merugikan untuk SBY. atau atas pesanan pihak ketiga untuk mengadudomba keduanya.

  7. tyasno Says:

    “Timing terbunuhnya munir munir adalah pemilu 2004. bisa jadi bukan karena tujuan munir yang mengarah ke belanda dan ketakutan akan pengadilan ham internasional disana. tapi persaingan berat pencalonan mantan TNI (SBY) dengan mantan pimpinannya yang dari PDIP (megawati). munir selalu berteriak jangan RI-1 dari TNI. maka antara dua; Munir dibunuh oleh orang-orangnya SBY, atau munir dibunuh oleh orang-orangnya megawati untuk mengarahkan tuduhan yang merugikan untuk SBY. atau atas pesanan pihak ketiga untuk mengadudomba keduanya.”

    wew, sadis amat ya menu pesananya : “1 pembunuhan Munir & es teh manis !”……kolo guwa mending pesen sate padang ama Coke

  8. dilas Says:

    Urusan yang lebih penting untuk membela rakyat bukanlah urusan HAM belaka, urusan yang sangat urgent untuk rakyat adalah pembenahan kesejahteraan sesuai dengan kemakmuran negeri yang morat-marit di rampok bangsa asing. Munir terlalu jauh mengurusi hal yang bukan menjadi kemampuannya. Mana ada sih orang-orang mililitan yang setia tanah air mau hancurkan bangsa dan negaranya, kecuali dia para koruptor dan para wakil rakyat yang doyan kesenangan harta & wanita seperti yang telah terpampang, itulah perusak nergeri yang sesungguhnya yang harus diperbaiki. Kalau masalah HAM sih sangat berat perjuangannya karena prinsip & idealismenya masih belum sama, tergantung masing-masing pokok permasalahannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: