Krisis Listrik : Siapkan Infus Buat Ikan Hias…

infus manual saat listrik padam : prioritas sekunder

Oleh : Robert Manurung

BANGSA kita memang memiliki rasa humor yang ironis, bahkan tragis. Kartun di atas menggambarkannya dengan pas, dan nonjok!

Krisis listrik telah menimbulkan kepanikan nasional, bahkan sebagian investor asing dikabarkan sudah siap-siap hengkang. Tapi, seperti biasa, sense of crisis kita hanya aktif sejenak saat membaca, mendengar dan melihat berita tentang rencana PLN melakukan pemadaman bergilir di Jakarta & Tangerang. Dan kita baru akan benar-benar merespon krisis itu secara serius setelah listrik di rumah kita, tempat kerja, dan di berbagai fasilitas umum, di sekitar kita mendapat giliran dipadamkan.

Tapi, sebentar saja, kita semua sudah akan menjadi terbiasa, dan pasrah. Dan bisa dipastikan, krisis yang sama akan terulang lagi tahun depan, biarpun pemerintahan SBY-JK berhasil mewujudkan impian besar mereka untuk membangun pembangkit listrik baru yang bakal menghasilkan daya 10.000 MW. Itu belum termasuk blue energy.

Proyek pengadaan energi alternatif ini, didukung sepenuh hati oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Penemuan Joko Suprapto asal Nganjuk, Jawa Timur, ini bakal mengubah bencana banjir yang rutin mendera Jakarta, menjadi BBM yang melimpah ruah dan murah.

Mungkin inilah kelebihan bangsa kita, yaitu gabungan sikap pasrah dan masa bodoh, yang membuat kita mudah dan cepat beradaptasi ke dalam situasi krisis. Kita tentu akan menggerutu sebentar, namun pasti bakal segera temukan cara untuk menghibur diri, cuek, dan business as usual; sehingga belenggu penderitaan akan kita kalungkan di leher seperti tasbih atau rosario.

Dan, aneh tapi nyata, prioritas-priotas yang kontan kita pikirkan dalam menyongsong krisis besar ini adalah hal-hal sekunder. Terganggunya kegiatan bersifat rekreasi yang tergantung pada ketersediaan listrik. Bukan ancaman tersendatnya aktivitas yang produktif.

Bakalan nggak bisa main game, nonton sinetron, final idola cilik, ngeblog, chatting, dan kesenangan-kesenangan yang lain. Udara di rumah atau tempat kerja akan gerah, karena nggak bisa menghidupkan AC atau kipas angin. Huh…sebel!

* * *

AKU berani bertaruh, cuma sedikit di antara kita yang sempat kepikiran dan benar-benar peduli mengenai terganggunya aktivitas produksi, terutama di bidang manufaktur. Tapi Anda tak usah malu, karena pemerintah pun sami mawon.

Setelah setengah memaksa agar waktu kerja normal digeser satu dua hari ke Sabtu dan Minggu setiap pekannya, kemudian pemerintah meralat bahwa perubahan waktu kerja cukup satu dua hari dalam sebulan. Bukan saja plin-plan dan menunjukkan perencanaan yang amburadul, namun kebijakan pemerintah yang digagas sambil jalan itu telah menggoyahkan kepastian dan ketenangan berusaha di negeri ini.

Yang paling penting lagi : kebijakan pemerintah mengorbankan sektor industri sebagai tumbal demi penghematan listrik; setelah beberapa minggu lalu dicekik lewat kenaikan harga BBM; jelas merupakan langkah yang salah, dan bunuh diri! Pasalnya, perekonomian kita yang terintegrasi dan tunduk secara total pada sistem ekonomi global, sangat bergantung pada penerimaan ekspor, dan pajak dari sektor industri, untuk mencicil utang luar negeri dan membiayai APBN. So, kenapa itu yang dikorbankan ?

Kenapa pemerintah tidak berusaha melakukan penghematan di jajaran birokrasi, dari pusat hingga ke daerah ?

* * *

KITA semua tahu betapa lemahnya PLN, sejak dulu. Tidak sanggup menerapkan aturan yang semestinya terhadap lembaga-lembaga yang punya power besar, misalnya TNI, Polri dan lembaga-lembaga peradilan. Kenapa gerakan penghematan tidak dimulai di situ, termasuk industri jasa yang tidak produktif seperti stasiun televisi yang berjumlah lusinan dan memiliki puluhan ribu menara transmisi yang haus listrik. Apa pemerintah tidak berani membatasi jam siar stasiun televisi, misalnya sampai batas jam 00:00 ?

KITA sama-sama tahulah bahwa sejak tengah malam sampai pukul 6.00 pagi, adalah jam-jam tidak produktif, dan malah benar-benar pemborosan, bagi semua stasiun televisi di negeri ini. Mereka cuma gagah-gagahan saja siaran nontop 24 jam. Sebenarnya, jam-jam produktif televisi kita cuma sekitar 6 sampai 9 jam.

Di sini terlihat jelas, betapa rapuh dan buruknya leadership pemerintahan SBY-JK. Mereka malas mikir, bertindak reaktif dan instan, dan tidak mampu membuat perencanaan serta prioritas-prioritas biarpun hanya untuk enam bulan ke depan. Mereka baru heboh, ribut dan panik membahas penurunan pasokan listrik akibat kelangkaan batubara, melonjaknya harga solar, dan tidak berputarnya turbin pembangkit tenaga air (PLTA) akibat menurunnya debit air waduk lantaran kemarau.

Tapi ironisnya, sambil membenarkan pendapat bahwa penyebab merosotnya pasokan listrik dari ratusan PLTA adalah pembabatan hutan yang terjadi dalam skala besar dan serampangan; pada saat yang sama pemerintah masih terus mengeluarkan ijin pengalihan fungsi hutan lindung di berbagai daerah. Dan, tidak serius menyetop pembalakan liar dan penjarahan hutan, yang merajalela di semua daerah.

* * *

BICARA pembabatan hutan, sekarang ini identik sekali dengan korupsi, setelah sejumlah anggota DPR ditangkap tangan oleh KPK sedang menerima uang haram untuk jasa melegalkan penghancuran hutan. Sindiran kartun yang memplesetkan “Anti korupsi” menjadi “nAnti korupsi”, di bawah ini; terasa sangat kena, dan menohok.

Kita perlu memiliki kejernihan pandangan dan keberanian moril seperti bocah dalam kartun ini, sehingga tidak gampang lagi tertipu oleh retorika dan kemunafikan para politisi dan birokrat. Lembaga eksekutif dan legislatif harus didorong untuk menyusun cetak biru strategi energi nasional; yang didasarkan pada wawasan bahwa energi adalah unsur sangat vital dalam kedaulatan sebuah bangsa /negara. Selanjutnya dengan dasar itu PLN, Pertamina dan unit-unit usaha strategis lainnya, harus dibersihkan dari para benalu dan koruptor.

Jika tidak, krisis energi akan berlanjut dan makin parah, serta menjelma jadi sumber krisis politik dan sosial-ekonomi yang bisa meruntuhkan Indonesia.

Akhir kata, terima kasih buat Pak Tuntung (http://kartunmedan.wordpress.com/) atas karya-karya kartunnya yang “berteriak” tanpa kata. Soalnya aku sedang malas mengurai kata-kata. Tapi aku bisa ikut “:menjerit” hanya dengan menampilkan dua dari ratusan kartunnya yang menggabungkan ketajaman kritik dengan sindiran yang lugas, lucu bisa; dan tak jarang dilumuri semangat mengejek diri sendiri; sehingga kita bisa meringis, miris, dan mungkin juga menangis di dalam hati.

Merdeka!

===================================================================

ayomerdeka.wordpress.com

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

7 Tanggapan to “Krisis Listrik : Siapkan Infus Buat Ikan Hias…”

  1. Sawali Tuhusetya Says:

    kita memang sudah lama hidup di negeri yang penuh ironi, bung robert. pola dan sikap hidup yang biasa manja telah melumpuhkan kreativitas. baru terangsang berpikir secara kreatif ketika dipaksa oleh keadaan. mungkin perlu terus diciptakan situasi2 darurat agar bangsa ini terus terangsang pemikiran2 kreatifnya kali ya, bung, haks. kebijakan pemerintah di berbagai sektor pun, termasuk pln, sami mawon. pemerintah baru bergerak setelah dihadapkan pada situasi krisis. pantas saja kalau negeri lain sdh berhasil bangkit dari keterpurukan ekonomi, bangsa kita masih saja bersikutat di balik semak2. jika perlu dimanfaatkan utk cari2 kesempatn utk mengeruk keuntungan. wah, kartunnya bener2 kritis dan tajam. bahasa gambar sepertinya lebih bisa mewakili ilustrasi keadaan negeri ini yang sesungguhnya, bung robert ketimbang timbunan kata-kata. btw, sekarang sudah mulai update lagi ya bung setelah beberapa waktu mengalami kejenuhan. salam merdeka!

  2. Toga Says:

    serba susah ya… biar listrik ini beres, sepertinya harus diswastakan, bila perlu dibiarkan ada kompetisi perusahaan pelayanan listrik.
    persoalannya, uud kita mengamanahkan, yg seperti ini harus ditangani negara, sementara sudah terbukti, yg bisa ditangani “negara” cuma pemenuhan isi perut para pejabatnya.

  3. tomy Says:

    Dg adanya pemadaman bergilir banyak investor asing mengancam hengkang dari Indonesia
    Pemikiran saya : momentum yang baik untuk menasionalisasi industri, Cuma pertanyaannya : mampu & beranikah kita?

  4. hh Says:

    Hahhahha, maksud hati memberi infus buatan, karena posisi lebih rendah dari aquariumnya, malah air yang terbuang. Eh tau tau, air yang terbuang berobah jadi minyak tanah.
    Kalau yang lagi bersuara lantang ANTI korupsi di depan corong itu adalah kandidat pemimpin baru, maka plesetan yang mungkin lebih tepat adalah gaANTIan korupsi.
    Kartun luarbiasa.

  5. Giyanto Says:

    wah Indonesia runtuh! bisa jadi itu lebih baik bagi rakyat…tapi coba tebak siapa yg menjerit kalo indonesia runtuh. Pasti org2 yg punya kepentingan..

    Entah saya kok bisa hidup di zaman ketika org2 percaya sama negara, birokrasi, dan pemerintahan….. bahkan parahnya, membenci kapitalis….

    zaman ketika org rajin dibenci, dan parasit dibela adalah jaman ini….sangat2 aneh bin ajaib…

    semoga yg Kuasa selalu mamaafkan umat manusia,….dan para kapitalis diberi kesabaran dan keteguhan hati untuk selalu bekerja menciptakan nilai2 kehidupan…

    Saya hanya bisa menonton dan menunggu, sampai kapan sistem birokrasi becus untuk ngurusi listrik (hipotesis saya: hasilnya nol besar!!!)

    adakah dari kita sudah mempertanyakan falsafah organisasi?

  6. “Krisis Energsi” Yang Tak Kunjung Terselesaikan | Kampanye - Kampanye Says:

    […] Pemadaman listrik yang dilakukan PLN selama ini tidak akan cukup untuk mengatasi krisis energi, karena pemborosan bahan bakar minyak (BBM) di negeri ini terus terjadi di sektor transportasi. Bahkan menurut pengamat transportasi, Djoko Setyowarno di Semarang, sektor transportasi di Indonesia harus menjadi target utama pemerintah dalam pembenahan subsidi BBM, sebab hampir 60 % BBM dihabiskan untuk sektor ini (transportasi). Dari 60 % BBM yang digunakan bagi sektor transportasi itu rinciannya 45 % dikuras untuk kendaraan pribadi dan 15 % untuk transportasi darat, laut, udara, dan ASDP. Secara nasional kendaraan pribadi yang menghabiskan BBM sekitar 45 %, merupakan jumlah terbesar di dunia dalam hal penggunaan BBM untuk kendaraan pribadi.Menurut dosen Fakultas Teknik Unika Soegijapranata, untuk mengatasi penggunaan BBM, yang sangat boros dan membebani APBN setiap tahunnya, yang perlu dilakukan pemerintah adalah melaksanakan pembenahan di sektor transportasi. Pembenahan bisa dilaksanakan dengan cara mempercepat program angkutan umum massal antarkota dan dalam kota. Sehingga otomatis masyarakat akan lebih banyak menggunakan angkutan ini ketimbang menggunakan kendaraan pribadi. Pembenahan terhadap angkutan massal ini harus memperhitungkan aspek kenyamanan dan keamanan serta ketepatan waktu. Bila semuanya terpenuhi, penggunaan BBM bagi sektor transportasi dapat dikurangi cukup signifikan. Menurut Djoko Setyowarno, pemerintah harus berani membuat terobosan di sektor transportasi ini. Sebab, kalau sampai krisis BBM terus berlanjut tanpa ada solusinya, akibatnya bagi sektor transportasi bisa fatal. Karena sektor transportasi nantinya berdampak pada kehidupan perekonomian di negeri ini. (kompas.com) […]

  7. Liea Says:

    selamat lah buat para penghancur masa depan Indonesia…!!
    memanipulasi berbagai hal yang bersifat vital..
    nampaknya tak berapa lama lagi kehidupan yang akan datang berubah menjadi keculasan yang di manifesto oleh semua pihak!
    hebat……!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: