Setujukah Anda Kalau Koruptor Dihukum Mati ?

Bukan rahasia lagi bahwa tokoh yang paling dihormati dan disegani masyarakat kita bukanlah sosok yang bersih dan jujur, melainkan orang kaya—tanpa mempersoalkan bagaimana caranya orang itu menjadi kaya.

Oleh : Robert Manurung

MELIHAT gelagat bahwa hukuman penjara tidak menimbulkan efek jera, belakangan ini muncul desakan dari berbagai kalangan agar koruptor dihukum mati saja. Selain itu ada juga yang mengusulkan supaya para penjahat kerah putih itu dikucilkan dalam pergaulan sosial.

Menurut hukum yang berlaku di republik ini, memang ada pasal-pasal yang memungkinkan para koruptor dihukum mati. Namun ganjaran itu hanya berlaku bagi pelaku korupsi dalam situasi gawat darurat, misalnya bencana alam atau saat negara terlibat perang. Dan ternyata, pasal ini tidak diterapkan kepada para koruptor yang menilep dana bantuan bagi korban tsunami di Aceh.

Di antara beberapa negara yang serius dan keras dalam menjalankan program pemberantasan korupsi, baru Cina yang benar-benar menjalankan hukuman mati. Dari berbagai laporan mengenai pelaksanaan program tersebut dapat disimpulkan, penerapan hukuman mati telah berdampak menurunkan secara drastis tindak pidana korupsi di Cina.

Apakah Anda setuju kalau para koruptor di negeri ini dihukum mati ?

Bagaimana dengan hukuman pengucilan dalam pergaulan sosial ? Bisa dipastikan metode ini tidak akan jalan. Pasalnya, masyarakat bangsa ini sudah terlanjur dikuasai budaya materialisme, yang melahirkan sikap pragmatis di tengah-tengah masyarakat.

Bukan rahasia lagi bahwa tokoh yang paling dihormati dan disegani masyarakat kita bukanlah sosok yang bersih dan jujur, melainkan orang kaya—tanpa mempersoalkan bagaimana caranya orang itu menjadi kaya. Pendek kata, mayoritas warga bangsa ini sebenarnya tidak antikorupsi, tapi malah mendukungnya secara diam-diam. Orang-orang berteriak antikorupsi bukanlah karena menganggapnya perbuatan jahat, tapi karena tidak atau belum kebagian.

Yang paling menarik adalah usulan agar para koruptor dihukum dengan cara Soeharto mengucilkan orang-orang yang didakwa PKI, yaitu menerakan inisial ET (eks tapol) di KTP mereka. Para pengusul menyarankan agar pada KTP para koruptor diterakan inisial EK (eks koruptor). Apakah cara ini akan efektif kalau ternyata masuk penjara saja mereka tidak takut, dan tidak merasa malu aibnya dibeberkan secara telanjang oleh media massa ?

=======================================================================

http://www.ayomerdeka.wordpress.com

Tag: , , ,

9 Tanggapan to “Setujukah Anda Kalau Koruptor Dihukum Mati ?”

  1. Sawali Tuhusetya Says:

    wah, pemberian stigma ek, pada ktp, bukankah itu menggunakan cara2 orba yang ternyata tdk membawa kemaslahatan, bahkan merembet hingga ke anak cucu. kalau menurut hemat saya, harus ada pembersihan aparatnya. mereka ibarat sapu. kalau sapunya kotor mana mungkin bisa membersihkan lantai yang kotor, malah tambah makin parah kotornya. potong satu generasi! aparat hukum yang tdk bersih dan jujur harus menyingkir. utk memberikan efek jera kepada koruptor memang bukan hal yang mudah, sebab kultur bangsa ini yang telanjur masuk pada perangkap materialisme dan hedonisme. selama aparatnya masih gampang disogok, jangan harapkan para koruptor di republik maling ini bisa dikerangkeng, haks:mrgreen:

  2. masbadar Says:

    kalo soal hukum-menghukum, saya ndak setuju kalo koruptor di hukum mati..ah terlalu kejam. Korupsi harus dipelajari apa dan bagaimana sebabnya. Anda mungkin masih bisa berkoar-koar hukum mati para koruptor karena anda tidak merasakan kondisi dan kesempatan seperti apa mereka para koruptor itu berada. Mereka dulu juga mahasiswa yg getol berkoar-koar anti korupsi, pro rakyat, pro revolusi, pembaharu atau apalah namanya.., maka ketika waktu berjalan, dunia berputar, ada istri ada anak, ada beban keluarga, ada tanggungan ini, ada kesempatan itu dan ada celah ini ada celah itu? Maka yg namanya konsistensi akan mulai keropos ditelan kemunafikan. Nah, apa solusi anda agar konsistensi itu terjaga..?

    ah, ternyata pikiran anda belum merdeka dari yg namanya ketidak-objektivan…

    masbadar

  3. rijalabdullah Says:

    Kadang saya bingung antara setuju dan tak setuju hukuman mati ini, masalahnya dalam al Quran qisas hanya yang untuk yang membunuh atau hukum terberat bagi pezina. Tapi di sisi lain saya jadi setuju, karena kalau dilogikakan bahwa kalau seorang koruptor misalnya dengan jumlah yang fantastis sesungguhnya bisa dianggap telah membunuh mungkin lebih dari satu orang. contohnya begini: Akibat dari seorang korup atas HPH misalnya dia melakukan penebangan hutang seenak perutnya, akibatnya ketika musim hujan ada banjir, ada orang mati karena hanyut, toh penyebab tak langsungnya si koruptor tadi? Bagaimana kalau sekali kejadian itu ada 1 keluarga tewas?. Demikian juga bagi koruptor atas biaya pembangunan jalan, banyak orang tewas di jalan raya karena jalannya jelek/berlobang, Jadi biarlah hukum mati saja. Kalau bisa sudah diputuskan oleh upaya kasasi tingkat I saja langsung EKSEKUSI, sebab kalau dibiarkan hidup juga kan jadi tanggungan negara (rakyat) lagi.

  4. Menggugat Mualaf Says:

    ehmm, bang..
    jauh sebelum kita terapkan hukuman mati, satu deh pertanyaan saya :
    berani ga kita sita kembali semua aset si koruptor itu? mengembalikanya sebagai milik negara dan digunakan seluruhnya tuk kepentingan umum, seperti di lelang atau diuangkan tuk perbaikan jalan, jambatan, sekolah dsb misalnya.

    karena percuma bang dihukum mati, kalau yang sudah dia korupsi tetap tidak bisa diambil alih. atau tetap dinimati oleh keluarga dan kroninya.

    saya perhatikan nih sebagian koruptor dan keluarganya itu sudah mulai berani saling mengorbankan teman dan keluarga sesama koruptor..

    di sini kasanya menjadi.. biarlah dia mati, yang penting kita aman, nyaman dan kaya raya. hehehe. gitu ga sih bang?

    saya lebih setuju, kita kudu berani tarik asetnya bang. putihkan seperti zaman soeharto mutihan aset PKI, cina dsbnya dulu itu.
    jujur aja, kita sendiri juga gi butuh dana tuk memperbaiki banyak hal. ya ga?
    gimana?

  5. heruyaheru Says:

    saya sih ndak setuju hukuman mati. kemanusiaan itu harusnya tumbuh. penghumuman yang sifatnya barbar dan kuno sudah sepatutnya dihilangkan. kalau agama membolehkan hukuman mati, itu kan tidak mutlak, tidak harus diikuti sepanjang jaman. agama saja tidak melarang perbudakan, lalu apa kita mau ada perbudakan. lan nggak toh?
    jadi, saya setuju kalao duit koruptor dibalikin, kalu ndak bisa dia suruh kerja tanpa dibayar sepanjang hayatnya. gitu saja…

  6. sudhew Says:

    apa gunanya dengan pemberian inisial koruptor pada KTP jika aparat yang bertugas melaksanakannya belum terbebas dari korupsi,nantinya malah akan lahir tuhan-tuhan baru yang bertugas memberikan stempel baik buruk pada seseorang sedangkan tuhan baru itu pun belum tentu bisa bebas dari suap.Dikuatirkan hal seperti ini malah akan melahirkan koruptor-koruptor baru yang jauh lebih ganas dari koruptor yang ada saat ini.menurutku sebagai shock therapy hukuman mati jauh lebih efektif.salam

  7. tomy Says:

    saya sangat setuju dengan hukuman mati thd koruptor
    bangunan yang sudah rusak parah tak bisa hanya sekedar diperbaiki
    namun harus dibongkar ganti yang baru

  8. shanty Says:

    say setuju kalau para koruptor-koruptor itu dihukum mati. Tp, memang lebih penting utk ngembaliin aset2 yg sdh mereka curi krn percuma sj dihukum mati kalo gak ada yg bs dikembaliin.

    Hukuman pengucilan sosial, harus berlaku utk keluarga koruptor ini. Secara, mereka sdh numpang petantang petenteng dgn harta haram. Kalo perlu buat pulau khusus untuk keluarga2 koruptor yg dikucilkan.

  9. Ikhwanabd Says:

    potong tangan (kanan) dulu pun cukup….
    nanti suatu saat kalau para koruptor itu lebaran dan salam-salaman, anak cucu nya akan tahu kalau orangtua/kakek-neneknya adalah pencuri….

    belum jera juga?
    maka potong kaki kirinya
    masih ga kapok…
    tangan kirinya….
    masih tidak kapok….
    potong kaki kanannya
    tapi…

    dulu saat masa khalifah umar bin khattab pernah hukum potong tangan ini tidak diberlakukan saat ada seorang yangmencuri. kenapa? karena saat itu ia dalam kondisi kelaparan serta masa itu sedang dilanda krisis yang hebat. sehingga mencuri menjadi menjadi sesuatuyang dimaklumi saat kondisi tersebut. dan menjadi kritik bagi pemimpin untuk mensejahterakan rakyatnya kembali.

    sadis?
    wah…tunggu dulu…efek hukuman bisa menjadi pelajaran yang langsung dilihat semua orang dalam jangka waktu lebih panjang ketimbang eksekusi mati yang selalu disembunyikan prosesnya

    ringan dan membekas…

    sebuah pelajaran berharga..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: