Siapa Berani Memangkas Birokrasi ?

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dengan dukungan kuat dari rakyat, sudah terbukti tidak mau atau tidak berani melakukan itu.

Oleh : Robert Manurung

KALAU harus mendeskripsikan pegawai negeri dengan satu kata, aku akan memilih kata : parasit. Ya, begitulah pendapatku, pegawai negeri adalah parasit dalam pohon besar bernama Indonesia.

Pegawai negeri adalah pelaku utama korupsi di negeri ini. Dan tindak kejahatan korupsi yang mereka lakukan bukan lagi sekadar menilep uang dari kas negara; tapi sudah sampai merampas makanan dari mulut anak-anak miskin dan merusak lingkungan hidup. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan, pegawai negeri adalah sekumpulan penghianat yang tega merongrong dan menghancurkan bangsa dan negara ini.

Bersama-sama dengan politisi dan para komprador, pegawai negeri adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas merajalelanya kemiskinan di kalangan petani di pedesaan, dan di kalangan kaum marjinal di perkotaan. Kehancuran alam dan kemunduran kualitas lingkungan juga akibat ulah mereka, yang tega melanggar dan menginjak-injak berbagai aturan demi mendapatkan suap dan memperkaya diri.

Pendek kata, segala kebobrokan dan berbagai bencana di negeri ini adalah akibat ulah para pegawai negeri, yang belakangan ini lebih dikenal dengan istilah birokrat. Bahkan kematian mengenaskan para TKI di Malaysia dan Timur Tengah, serta merajalelanya orang asing yang berdagang narkoba di negeri ini adalah karena para pegawai negeri tidak melaksanakan tugasnya sebagaimana mestinya.

Para pegawai negeri di lembaga-lembaga perizinan dan institusi pengawasan seharusnya memiliki tanggung jawab yang besar, karena mereka bisa menjadi pembunuh yang kejam lewat penerbitan izin yang tak sesuai aturan dan prosedur.

Bangunan-bangunan yang menyalahi bestek telah menelan banyak korban jiwa. Kapal-kapal tenggelam karena kelebihan muatan atau tak layak lagi. Banyak rumah tangga hancur karena surat cerai dan surat nikah gampang dibeli. Malpraktek terjadi di hampir semua rumah sakit karena standar-standar medis diabaikan. Makanan kadalursa dijual secara bebas tapi aparat Depkes dan Polri membiarkan saja.

Ribuan rumah tenggelam di Sidoarjo karena penambangan tidak diawasi dengan benar, kemudian para korban ditelantarkan karena Pemerintah dan DPR malah berpihak pada pengusaha.

* * *

KALAU kita mengharapkan perubahan negara ini ke arah yang lebih baik, maka yang pertama dan terutama harus dibereskan adalah aparatur negara alias pegawai negeri–dari eselon teratas sampai jajaran terendah. Kunci keberhasilan reformasi terletak di sini, yaitu keberanian dan keteguhan hati kita untuk memangkas benalu-benalu itu.

Tidak cukup hanya melakukan tebang pilih dan menjebloskan segelintir birokrat papan atas ke dalam penjara, tapi harus dilakukan pemangkasan struktural secara radikal dan berkelanjutan. Ambil contoh institusi kejaksaan, yang sudah terbukti jadi sarang mafia peradilan; tidak bakal mungkin dapat dibersihkan jika para biang benalunya tidak dipangkas.

Copot saja semua kepala kejaksaan, dan grounded-kan semua jaksa senior; lalu naikkan para jaksa muda menggantikan mereka. Selain mendapatkan jaksa yang relatif lebih bersih, berdedikasi dan muda; metode ini juga akan menimbulkan efek jera, sehingga nantinya para jaksa tidak berani lagi mempermainkan hukum demi memperkaya diri.

* * *

KALAU metode pembersihan yang radikal seperti itu dilakukan dengan konsisten secara berkala, mungkin dalam 10 tahun lagi kita akan memiliki jaksa-jaksa yang lebih bersih dan berdedikasi. Metode yang sama dapat dilakukan di semua departemen, termasuk di lembaga Polri dan TNI.

Tapi, siapa berani dan mau melakukannya ?

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dengan dukungan kuat dari rakyat, sudah terbukti tidak mau atau tidak berani melakukan itu. Pemberantasan korupsi yang dilakukan SBY masih bersifat tebang pilih, tidak struktural, dan tanpa narasi yang kuat bahwa tindak korupsi adalah kejahatan kemanusiaan karena selalu mengorbankan orang miskin dan kaum marjinal.

==========================================================================

http://www.ayomerdeka.wordpress.com

Tag: , , , , , , ,

2 Tanggapan to “Siapa Berani Memangkas Birokrasi ?”

  1. nindityo Says:

    bang, kalo contoh reformasi birokrasi di departemen keuangan yang dijadikan contoh gimana?
    secara nyata dah banyak pujian dari temen-temen yang bersingungan dengan instansi tersebut, khususnya di pajak.
    penolakan dari orang dalam jelas ada tapi pelahan pasti menuju yang lebih baik. semoga.

  2. martabak Says:

    Pemangkasan Birokrasi bisa dilakukan dengan cepat, mungkin kurang dari 10 tahun kalau kita menerapkan sistem yang kaku dan mengikat, tanpa kompromi atau belas kasihan seperti mesin. Saya tidak setuju kalau pegawai negeri saja yang disebut sebagai parasit, karena bangsa ini memang kebanyakan begitu. Mentalitas masyarakat sudah sakit. Lihatlah sungai kita, jalanan kita, hutan kita, kampung kita, desa, kota… manusia seperti apa yang ada di sana?

    Tidak terkecuali politikus, pengusaha, pegawai swasta, buruh, petani, militer, sipil bersenjata, wartawan, bahkan mahasiswa yang ada di sekitar kita sudah banyak yang kehilangan acuan moral. Berapa banyak anda bisa menemukan orang yang benar-benar baik, membela moralitas tanpa tergoyahkan sedikitpun?

    Dalam banyak versi dan cerita kebanyakan orang yang berteriak tentang keadilan dan reformasi, anti korupsi dan semacamnya justru berbalik menghianati tujuan perjuangannya setelah berada di posisi strategis. Mereka lalu bermutasi jadi monster yang justru memakan rakyat yang dulu dibelanya. Kenapa mereka begitu? Tujuan pribadi adalah alasan utama. Sadar ataupun tidak. Kenapa bangsa ini terjebak pada lingkaran setan dari jaman-jaman feodal kerajaan sampai detik ini? Itu sifat manusia kita. Berharap pada kejujuran manusia adalah hal yang nihil, fatal, dan naif. Kita perlu sistem yang akurat dan presisi, sesuatu yang jelas dan tidak bisa berbohong. Memang ada orang jujur dan baik hati, tapi jumlah dan kapasitas mereka tidak signifikan.

    Menyalahkan manusia dalam tugasnya sebagai birokrat adalah hal yang sia-sia, tidak produktif. Bangsa ini terlalu sibuk saling menyalahkan. Birokrat adalah cerminan masyarakat, lahir dari masyarakat. Saya mengerti anda kecewa. Sepanjang sejarah, kehadiran orang suci dan terhormat bisa dihitung… diantara milyaran manusia. Kebanyakan manusia tidak bisa dipercaya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: