Ryan Bisa Timbulkan Wabah Sosial-Paranoid

Perbuatan kejam Very Idam Henyansyah alias Ryan tidak hanya memutus kehidupan 11 orang yang bernasib sial lantaran terlalu mudah mempercayainya. Pembunuhan berantai yang dilakukan guru mengaji itu, dan pemberitaan media massa yang memblow-up-nya secara berlebihan, juga bisa menimbulkan efek traumatis dan mengubah perilaku sebagian masyarakat menjadi paranoid.

Oleh : Robert Manurung

SAHABATKU Viky Sianipar, arranger yang populer lewat lagu Piso Surit, pernah tersesat di kaki gunung Pusuk Buhit, Samosir, saat hari sudah malam dan alam di sekelilingnya gelap pekat. Batak keren kelahiran Jakarta ini sangat kebingungan dan takut. Lalu tiba-tiba muncul seorang ibu setengah baya dari kegelapan, menyapa dengan keramahan orang desa, dan menanyakan tujuannya. Singkat cerita, Viky pun menginap di rumah ibu itu.

Viky masih hidup untuk menceritakan pengalaman mengesankan itu. Dan berkat pengalaman itu, pandangannya mengenai orang Batak berubah 360 derajad. Dia bilang,”Orang Batak di kampung-kampung di Tapanuli sana benar-benar baik, murni dan berhati mulia. Beautiful people.”

Pengalaman Viky hanyalah satu dari jutaan peristiwa di negeri ini, di mana orang-orang dengan spontan menyodorkan keramahan, persahabatan dan pertolongan kepada orang yang belum dikenal. Dan di daerah pedesaan, sampai sekarang, orang bisa membeli sawah, kerbau, beras dan lain-lain, hanya dengan dasar kepercayaan. Tanpa kuitansi, dan tanpa kontrak jual-beli.

Bahkan di kota-kota besar seperti Jakarta, kita masih terkadang menemukan keramahan dan kebaikan hati yang murni, dan spontan. Setidaknya kita bisa menyapa siapa saja di stasiun kereta api, di pasar, dan di mana saja. Dan tak jarang terjadi, perbincangan yang diawali basa-basi itu berlanjut, masuk ke ranah pribadi, dan tumbuh menjadi ikatan persahabatan.

Di kalangan komuter atau pekerja yang saban hari pulang pergi Bogor-Jakarta, sudah puluhan tahun terbentuk berbagai komunitas yang intim. Diawali dengan seringnya bertemu di gerbong KRL, menjadi akrab, dan akhirnya membentuk komunitas. Mereka saling mengunjungi rumah masing-masing, mengadakan kegiatan arisan dan wisata bersama.

* * *

BEATIFUL PEOPLE adalah penggambaran yang tepat mengenai sifat dasar orang Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Namun dalam sepuluh tahun terakhir gambaran itu telah tertutup oleh potret jelek, keras dan sangar; lantaran maraknya kerusuhan sosial di berbagai daerah, aksi terorisme, demonstrasi yang anarkis, pembunuhan sadis di mana-mana, dan sekarang Ryan.

Beruntunglah Viky Sianipar karena tidak bertemu manusia sadis macam dukun AS atau Ryan, sehingga spontanitasnya menerima tawaran menginap di rumah orang yang belum dikenalnya tidak berakibat fatal. Tidak seperti Ariel Somba Sitanggang dan 9 korban lainnya, yang terbujuk untuk menemui kematian di House of Death di Jombang.

Tapi sekarang, setelah 11 orang mati akibat terlalu mudah percaya kepada orang yang belum benar-benar dikenal yaitu Ryan; apakah Viky dan kita semua masih akan tetap mempertahankan sifat-sifal beautiful people yang sudah menjadi nature kita ? Ataukah kita lantas berubah menjadi ekstra hati-hati, serba menyelidik, curigaan, dan bahkan paranoid ?

* * *

DARI hasil pemeriksaan polisi terhadap Ryan dan saksi-saksi, bisa disimpulkan, faktor utama yang membuat Ariel dan 10 korban lainnya bisa diperdaya lalu dibunuh begitu gampangnya adalah lantaran mereka memiliki sifat beautiful people tadi; yaitu berbaik sangka dan mudah percaya kepada orang lain, termasuk yang baru dikenal.

Faktor kedua ialah sikap percaya diri berlebihan (over confident), serta sikap meremehkan resiko dan bahaya (under estimate). Mereka sangat pede bisa menjaga diri sendiri. Dan pembawaan Ryan yang kemayu adalah kedok sempurna yang sungguh menyesatkan, menyembunyikan sifat agresif, kemampuan membunuh, dan rasa tega seorang pembunuh berdarah dingin,

Sedangkan faktor ketiga ialah sikap ambisius, yang membuat mereka mudah tergiur untuk menjajaki prospek bisnis yang ditawarkan Ryan. Faktor ini tidak berlaku untuk Heri dan Grady, karena tampaknya daya tarik Ryan buat mereka adalah kenikmatan hubungan seksual sejenis. Itu tidak akan kita bahas di sini.

* * *

DENGAN empati yang tulus kepada para korban dan keluarganya, kita tidak mungkin mengelak dari dorongan untuk beranda-andai, setelah mengetahui bagaimana Ryan memperdaya para korban satu per satu dengan jurus yang sama sederhananya; yaitu gabungan sikap innocent , simpatik dan penuh atensi yang dibuat-buat, kesan bonafid yang direkayasa, dan iming-iming peluang bisnis yang menggiurkan.

Para korban adalah orang-orang berpendidikan tinggi dan memiliki pergaulan luas. Ariel lulusan Institut Pertanian Bogor, dan Heri Susanto alumni Universitas Indonesia. Tapi, kenapa begitu mudah mereka dirayu dan diperdaya oleh pria kemayu yang konon pernah jadi guru mengaji itu ? Kenapa orang-orang yang cerdas, kritis dan idealis itu bisa begitu gampang percaya kepada Ryan, yang nota bene tidak sophisticated ?

Seandainya waktu dapat diputar kembali ke saat-saat sebelum linggis yang dihantamkan Ryan membunuh Ariel dan sembilan korban lainnya; dan seandainya mereka sempat diberikan peringatan dan mau mengindahkannya : jangan percaya kepada Ryan karena dia itu tukang bohong dan pembunuh berdarah dingin; niscaya mereka masih hidup sampai sekarang. Ini berlaku pula bagi korban mutilasi Heri Susanto.

Seandainya para korban cukup berhati-hati, menilai berdasarkan pertimbangan rasional dan meminta rekomendasi dari orang-orang yang layak dipercaya; mereka tidak akan semudah itu kena rayu dan digiring ke rumah pembantaian di Jatiwates.

Dan seandainya para korban mau memberikan diri mereka waktu lebih banyak untuk mengenal gay yang konon jago merayu itu, niscaya mereka akan mendapatkan informasi mengenai siapa Ryan sebenarnya, dan menemukan sendiri keretakan dalam kepribadian pengangguran yang suka cara hidup mewah itu. Mereka akan menjauh dan selamat, sebagaimana halnya janda kaya berinisial SD yang megaku diporotin Ryan sampai puluhan juta rupiah, namun bersyukur masih hidup untuk menertawakan keluguannya..

* * *

MELIHAT intensitas liputan media massa yang sangat berlebihan terhadap kasus Ryan, sampai-sampai infotainment pun berlomba-lomba mengeksposnya, ada kemungkinan kasus ini akan berdampak terhadap kejiwaan dan perilaku masyarakat. Siapa sih yang tahan kalau terus-menerus–dari pagi, siang sampai malam, dibombardir dengan informasi tentang pembunuhan berantai yang mempermainkan nyawa manusia ini ?

Dampaknya tentu tidak sama pada setiap orang, tergantung tingkat pendidikan, wawasan dan kejiwaan masing-masing. Namun secara umum masyarakat akan menjadi terbiasa dengan pemberitaan ini. Artinya, kepekaan dan penolakan nurani masyarakat terhadap kekejaman yang dilakukan Ryan akan tergerus. Sebagian orang akan “lupa” bahwa inti dari drama ini adalah kejahatan yang kejam, lantaran mereka mulai melihatnya sebagai sensasi belaka dan “tontonan” yang seru.

Bukan tidak mungkin segelintir masyarakat akan “memaklumi” kejahatan yang dilakukan Ryan, lalu tanpa sadar mulai mengagumi “kehebatan” si pembunuh dalam merayu dan menggiring para korban ke rumah pembantaian di Jombang. Kemungkinan seperti ini sangat potensial terjadi pada kaum muda broken home, dan rebellion.

Sebaliknya, kemungkinan besar masyarakat akan lebih hati-hati dalam membuka diri, berkomunikasi dan menjalin hubungan sosial dengan orang yang tak dikenal. Kita akan mencurigai motif orang-orang tak dikenal yang bersikap ramah dan menyapa kita di tempat-tempat umum. Dan kita akan menolak ajakan bersifat spontan dari orang yang baru kita kenal.

Lalu para orang tua akan memberikan pendidikan preventif kepada anak-anaknya, dengan meniru nasehat standar di dunia barat : hati-hati terhadap orang yang tak dikenal, jangan bicara padanya, dan jangan menerima apapun darinya. Jangan sampai kau salah bergaul, dan kemudian mati konyol karena dibantai oleh pembunuh berdarah dingin berwajah kalem macam Ryan.

Dengan kata lain, perbuatan kejam Very Idam Henyansyah alias Ryan tidak hanya memutus kehidupan 11 orang yang bernasib sial lantaran terlalu mudah mempercayainya. Pembunuhan berantai yang dilakukan guru mengaji itu, dan pemberitaan media massa yang memblow-up-nya secara berlebihan, juga bisa menimbulkan efek traumatis dan mengubah perilaku sebagian masyarakat kita menjadi paranoid.

==================================================================

http://www.ayomerdeka.wordpress.com

Iklan

Tag: , , , , , , , , , ,

3 Tanggapan to “Ryan Bisa Timbulkan Wabah Sosial-Paranoid”

  1. Menggugat Mualaf Says:

    hmm…
    terlepas dari apapun bahkan yang bagaimanapun kasus-kasus di negeri ini, buat saya itu hanya seperti sensasi/riak-riak di permukaan.

    intinya, negeri ini memang seperti tidak ada yang ngurus bang. semua berjalan sendiri-sendiri..

    kita butuh pemimpin yang bisa mengintegrasikan semua ini. butuh masyarakat dan elemennya yang saling bisa saling menyadari porsi perannya satu sama lain. yang bisa saling mengisi, menggenapi dan membangun bersama..

    kita akan dan sudah keteteran tuk terus mengurusi riak-riak di permukaan yang banyak sekali bang, sudah harus bisa melihat jauh di kedalaman deh. gitu ga sih?

  2. sudhew Says:

    Jika memang suatu peristiwa yang diekspos secara berulang-ulang bisa membawa dampak yang besar di dalam masyarakat kenapa hal ini tidak kita pergunakan untuk menyembuhkan penyakit kronis negeri ini,yaitu korupsi.
    SSatu orang saja dijadikan martir dengan dijatuhi hukuman mati,lalu video eksekusinya disebarkan dengan alasan “tidak sengaja” aku rasa bisa memberikan shock therapy yang cukup efektif bagi masyarakat untuk meninggalkan budaya korupsi

  3. Parlobutala Says:

    Media berlomba-lomba mengekspos setiap aspek dari jagal Jombang itu, hanya sekedar untuk mengejar “rating”. Dengan rating tinggi, maka iklan tambah banyak yang masuk.

    Produser menekan reporter di lapangan untuk mencari “sudut” yang ekslusif. Lalu reporter mengejar “setoran berita” yang hot. tak perduli lagi paranoia massa. Yang penting sensasional. Urusan dampak kepada konsumen, bukan urusan reporter dan produser.
    Kalau sudah jadi “bola bulat”, seperti itu, urusannya tambah rumit. Siapa peduli orang lain, yang penting dead line terpenuhi. halaaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: