Begadang Dengan Once di TobaDream Café

aku mau mendampingi dirimu
aku mau cintai kekuranganmu
selalu bersedia bahagiakanmu
apapun terjadi
kujanjikan aku ada

Oleh : Robert Manurung

SEBENARNYA ini cerita yang sangat memalukan buat diriku. Waktu nongkrong di TobaDream Café, Jakarta, sekitar tiga minggu lalu, aku sangat terkesan dengan suara penyanyi pria yang sedang beraksi di panggung. Sebelumnya arranger Viky Sianipar memang sudah memberitahu hadirin, yang akan tampil adalah Once. Tapi, apa boleh buat harus kuakui, seumur-umur aku belum pernah tahu bahwa di jagat musik Indonesia ada penyanyi bernama Once.

Nah, pas dia menyanyikan salah satu lagu hits The Police, aku bertanya pada sahabatku Suhunan Situmorang,”Once ini siapa sih ?”. Dalam keremangan ruangan café, dan di sela-sela suara pengunjung yang histeris mengapresiasi penampilan si Once itu, aku sempat menangkap kilasan ekspresi keheranan pada wajah Suhunan. Tapi sekilas kemudian, dengan nada kalem yang membuat ketidaktahuanku jadi terasa wajar, Suhunan menjawab,”Dia itu personil Dewa 19. Sekarang dia sedang ngetop banget. Lagunya Aku Mau sedang hits.”

Alamaaaak..apa kata dunia ? Hare gene kok nggak tahu siapa Once. Aku malu. Benar-benar merasa malu dalam hati.

Pada detik-detik itu aku merasa mirip karakter suku terbelakang Afrika yang terdampar ke peradaban moderen, seperti cerita film The Gods Must Be Crazy. Tapi, dia masih mendingan, karena keterbelakangannya adalah suratan nasib. Sedangkan aku, menjadi suku terasing di jagat musik pop Indonesia, adalah lantaran terlanjur apriori bahwa penyanyi Indonesia umumnya adalah jadi-jadian, yang dibentuk oleh kekuatan modal major label.

* * *

SEBENARNYA aku jarang sekali mengidolakan artis. Hanya sedikit bintang film dan penyanyi Indonesia yang bisa menimbulkan rasa kagum dalam diriku. Beberapa di antaranya : Christine Hakim, Nurul Arifin (karena permainannya yang rancak dalam film Nagabonar), Dedy Mizwar, Broery Pesolima, Elvi Sukaesih, Leo Kristi, Bornok Hutauruk, Tetty Manurung, Ruth Sahanaya, dan Tongam Sirait.

Sebagian di antara mereka mungkin asing buat Anda. Leo Kristi, misalnya, adalah penyanyi dan pencipta lagu yang suka mengembara ke seluruh Indonesia; terutama Jawa dan Indonesia Timur. Pada masa keemasannya, tahun 80-an, kaset-kaset penyanyi trubador ini diproduksi secara indie; dan media massa yang sering meliputnya hanya harian Kompas.

Menurut seleraku, Once sebenarnya terlalu ngepop jika dibandingkan dengan Leo atau Bornok.. Satu-satunya kelebihan penyanyi berwajah imut ini adalah warna suaranya yang khas, yang jarang ditemui di antara penyanyi Indonesia.

* * *

ONCE ternyata teman ngobrol yang mengasyikkan. Biarpun sedang tenar-tenarnya; di mana saban jam lagu Aku Mau yang didendangkannya mengalun di ruang publik, namun sikapnya tidak seperti seorang pesohor atau selebritis yang sedang meroket. Biasa-biasa aja. Bahkan ternyata dia seorang pendengar yang baik, dan rasa ingin tahunya besar.

Kami ngobrol berlima : aku, Once, seorang kawannya, Viky dan Suhunan. Topiknya meloncat-loncat dan berubah-ubah dengan cepat, bahkan terkadang balik lagi ke topik semula. Secara umum topik-topik yang kami “bahas” adalah masalah budaya.

Viky Sianipar selaku tuan rumah–jabatan resminya music director di kafe milik ayahnya itu–dengan bersemangat menceritakan pada Once, bagaimana dia menemukan “jalan pulang” untuk kembali jadi orang Batak. Sempat menghilangkan marganya karena tak kuat menahankan malu, lantaran kebatakannya selalu diejek oleh teman-teman sepermainan; sekarang Viky malah jadi pembaharu musik Batak, dan pelopor gerakan penghijauan di Tapanuli.

Once memuji hasil kerja Viky yang berhasil menyulap lagu-lagu Batak lawas menjadi anyar dan segar. Sinanggar Tullo yang aslinya lagu dolanan yang jenaka, berubah radikal menjadi tembang rock yang penuh vitalitas dan mengglegar.

Kemudian Once membenarkan ucapan Suhunan mengenai mati surinya budaya Menado. “Benar, Bang. Budaya Menado memang sudah mandeg dan diambang kepunahan,” katanya sambil menambahkan,”Waktu aku mau menikah, keluarga mertuaku mengusulkan supaya diadakan secara adat Jawa dan Menado. Tapi akhirnya diadakan secara adat Jawa karena aku menolak adat Menado.”

Loh, kenapa ?

“Biarpun pesta perkawinan, orang Menado tetap menampilkan tari perang. Aku pikir kok nggak cocok banget pernikahan dengan tari perang,”ujarnya sambil tertawa ngakak.

Aduh, sayang banget. Coba kalau waktu itu Once sudah akrab dengan Viky, mungkin dia akan menyambut usulan mertuanyanya mengadakan ritual pernikahan gaya Menado. Pasti sangat bermanfaat bagi upaya menghidupkan kembali budaya Menado, dengan meningkatnya public awareness akibat pemberitaan media massa. Belum lagi rombongan infotainment yang selalu heboh memberitakan apa saja yang ada hubungannya dengan orang terkenal.

* * *

BUDAYA Menado berada di urutan teratas daftar budaya lokal yang diramalkan segera punah. Indikatornya antara lain : penari Maengket paling muda sekarang ini sudah berusia di atas 40 tahun. Artinya proses regenerasi sudah mandeg hampir dua generasi. Pada saat bersamaan pohon kelapa yang merupakan bahan baku alat musik tradisional Menado, jumlahnya di Sulawesi Utara terus berkurang, karena ditebang lalu digantikan jenis tanaman lain.

Kenapa aku begitu peduli mengenai nasib budaya Menado yang terancam punah ? Sebagai orang Indonesia, kita semua ikut sebagai stake holder budaya Jawa, Batak, Minang, Cina peranakan, Arab peranakan, India peranakan, dan semua suku di negeri tercinta. Dan selaku stake holder, kita wajib ikut mencegah kepunahan salah satu budaya etnis tersebut, agar bangsa kita tidak mengalami kebangkrutan kultural.

Lirik lagu Aku Mau yang dinyanyikan Once sebenarnya bisa kita maknai berbeda, dengan membayangkan bahwa lagu itu dinyanyikan oleh roh kebudayaan kita, dengan permohonan yang sangat.

Pikiran-pikiran itu berseliweran di benakku saat pulang bersama Suhunan, tepat pukul 04.00 pagi. Once masih melanjutkan ngobrol dengan Viky, saat kami meninggalkan Jl.Saharjo No.90, Manggarai, Jakarta Selatan, di mana TobaDream Café berada.

kau boleh jauhi diriku
namun kupercaya
kau kan mencintaiku
dan tak akan pernah melepasku

aku mau mendampingi dirimu
aku mau cintai kekuranganmu
aku yang rela terluka
untuk masa lalu

====================================================================================

http://www.ayomerdeka.wordpress.com

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

7 Tanggapan to “Begadang Dengan Once di TobaDream Café”

  1. Sawali Tuhusetya Says:

    saya selalu salut kepada teman2 musisi yang peduli terhadap nilai2 kearifan lokal. perlu ada eksplorasi ulang agar nilai2 kearifan lokal dikemas lebih menarik sehingga bisa menarik minat anak2 muda masa kini utk karba dengan nilai2 kearifan lokal itu. lagu, menurut pendapat awam saya, sangat strategis utk mengeksplorasi nilai2 lokal itu. Merdeka!!!

  2. rastom Says:

    Robert, Once juga ngetop di Malaysia. Pun demikian, saya sedar masih ada artis Indonesia yang lebih ketrampilan daripadanya. Dalam genre jazz dan kelasik saja saya lihat lebih ramai aktivisnya di Indonesia. Suasana politik juga berperanan menyuburkan seni.

  3. Giy Says:

    Salut deh buat bang Robert atas kejujurannya,he2…

    Ngomong2 ak juga sering gitu, “babar blas kenal ama artis2…”

    paling2 kenalnya ya, “artis” tercakep dibelakang kontrakan gw…he2…pleas deh!!!

  4. tatianak2 Says:

    Bang, kemana aja sampai gak tau di dunia musik Indonesia ada yang bernama Once? Mungkin abang sering dengar suaranya, cuma gak sempat aja bertanya siapa pemilik suara indah itu…

  5. okta sihotang Says:

    begh..kemarin diriku pengen datang bang, cuma kemarin itu aku ada deadline, jadi g datang deh..😦

  6. Robert Manurung Says:

    @ Sawali Tuhusetya

    Aku pun begitu Pak Sawali. Dan sangat menyenangkan karena berkat pertemanan dengan Viky Sianipar. kemudian aku dapat berkenalan dengan Mas Sujiwo Tejo, dalang mbeling yang kental dengan visi kultural.

    @ rastom

    Wow, tak kusangka Once ngetop juga di Malaysia, jadi tambah malu aku jadinya hehehe..

    Benar yang Bang Rastom katakan, musik jazz dan klasik di Indonesia lebih berkembang ketimbang di Malaysia. Oh ya, informasi buat Abang, di grupnya Viky Sianipar ada seorang anak Melayu yang jago main biola. Salah satu karyanya : Journey to Deli, adalah musik Melayu yang dipadukan dengan musik moderen. Canggih.

    @ Giy

    Hehehe…apa boleh buat, harus kuakui dengan jujur : aku memang banyak ketinggalan informasi mengenai penyanyi/musisi Indonesia. Mungkin karena yang ditawarkan tidak seperti yang kuharapkan.

    Wah, ternyata kita sami mawon ya. Terima kasih nih untuk solidaritasnya hehehe…

    @ tatianak2

    Sebenarnya aku masih di sini, pariban, di negeri yang sangat kucintai ini. Bagaimana kalau sudut pandangnya kita balik : kenapa Once dan industri musik yang mendukungnya gagal meraihku selama ini hehehe…

    Bagaimana kabar pariban ?

    @ Okta sihotang

    Bisa kubayangkan rasa sesalnya hehehe…Tapi jangan kuatir, masih banyak kesempatan untuk nongkrong dengan artis-artis top Indonesia di TobaDream Cafe. Btw bagaimana kalau kita kopdar dulu di Meja 19?

  7. min Says:

    Bang Robert,untung bangat Bang dapat ngobrol sama Once.I’d do anything to be in your shoes.Saya berkesempatan bertemu dengan beliau waktu DEWA 19 ke Malaysia tahun lepas.Walaupun hanya sebentar,keberkesanannya hingga ke hari ini…hehe cinta gila ni.
    I don’t blame you for not recognising him karena pada pendapat saya beliau itu low profile bangat.But I think he is one of the few Indonesian singers yang suaranya memang benar2 bagus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: