“Haram” Hukumnya Terima CSR dari Korporat Perusak Lingkungan dan Pelanggar HAM (1)

Di daerah tetangga, Dairi, khususnya di Sopo Komil juga demikian. Kehadiran PT Dairi Prima Minerals (1998 ) yang saat ini memasuki tahap konstruksi perumahan dan infrastruktur juga berdampak lingkungan dan sosial yang kompleks dan problematis.

Kehadiran perusahaan Australia ini menimbulkan keresahan sosial dan potensi konflik horisontal antara dua subetnis Batak di sana, karena saling klaim hak atas tanah.

SEPERTI BIASA, setiap Rabu, para petani dari berbagai kelompok dan desa di Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara berkumpul dan berdiskusi di Sopo (kantor) KSPPM wilayah Porsea, setelah atau sebelum masing-masing mereka sibuk berjualan dan berbelanja.

Pada suatu Rabu di pertengahan tahun 2004, kegaduhan terjadi. Diskusi yang biasanya berlangsung penuh keakraban, berubah menegangkan. Ketika itu, muncul berita yang sangat sensitif bagi semuanya: anggota CU Sepakat Jaya, Dolok Martali-tali menerima pupuk dari Indorayon, alias PT Toba Pulp Lestari.

Beberapa anggota kelompok Sepakat Jaya yang hadir ketika itu ‘disidang’. Mereka dimintai pertanggung-jawaban, kenapa mau menerima 2 zak pupuk dari program Community Development (CD/comdev) Indorayon. Semua berang. Termasuk staf KSPPM yang hadir saat itu. “Masak harga diri kalian bisa dibeli dengan pupuk yang seupil itu?” demikian kira-kira gugatan dan umpatan mereka.

Ironis memang, karena kelompok ini adalah ‘buha baju’ (anak pertama)—kalau bisa diistilahkan demikian—atau kelompok generasi pertama ‘dampingan’ KSPPM. Embrionya sudah terbentuk sejak kasus perlawanan terhadap konstruksi/operasi PT Inalum, proyek berjudul Asahan II, di DAS Asahan, pertengahan 1980-an. Ini jugalah, antara lain, faktor yang membuat anggota kelompok-kelompok lain—sebagai ‘saudara seperguruan’—terpukul.

Singkat cerita, akhirnya kelompok Sepakat Jaya dikeluarkan dari keanggotaan “Forum Tani Rakyat Toba (Fortaba)”—organisasi yang mewadahi semua kelompok dampingan KSPPM di wilayah Toba Samosir hingga saat ini, walaupun mereka mengaku menerima pupuk itu karena ‘tertipu’ oleh distributornya, aparat desa dan kecamatan, yang mengaku sumbernya dari pemerintah daerah. Ringkasnya, mereka tidak dimaafkan. Bahkan, kemudian staff KSPPM pun mengakhiri ‘pendampingan’ untuk kelompok itu.

CSR untuk melemahkan perlawanan

PERISTIWA serupa juga terjadi kemudian, seperti di kelompok credit union (CU) Jonggi Manulus, baru-baru ini. Tiga anggota kelompok dikeluarkan karena menerima bantuan serupa. Alasan pemecatan itu juga tidak berbeda: kesepakatan Fortaba, yang kemudian dikuatkan dengan surat kesepakatan bersama pada tahun 2007, yang intinya adalah ‘haram’ menerima bantuan Indorayon. Mengapa bisa demikian? Menjawab pertanyaan ini butuh waktu yang panjang. Ringkasnya, masyarakat—khususnya anggota Fortaba—belum bisa menerima reoperasi Indorayon/TPL dan dosa-dosanya di masa lalu.

Bagi mereka, program-program comdev Indorayon hanya ‘manis di bibir’, sebagai upaya untuk melemahkan perlawanan atau ‘uang tutup mulut’. Karena terbukti kemudian, di mana sebagian warga di luar Fortaba juga sudah menerima program-program comdev ini (pupuk, bibit tanaman, ternak, dll), barangkali menjadi salah satu penjelasan kenapa perlawanan terhadap Indorayon melemah belakangan ini. Walaupun, tidak bisa juga dikatakan, perlawanan itu sudah berakhir.

Sebagian masyarakat Toba Samosir juga menyadari bahwa latar belakang munculnya program comdev ini, bukanlah didasari atas kesaradaran akan tanggung jawab sosial atau niat baik Indorayon sejak awal. Jika sekarang mereka getol mengampanyekan paradigma baru, salah satu di dalamnya program CSR/comdev, adalah dalam kaitan menyukseskan reoperasi yang gigih diupayakan sejak pabriknya ditutup sekitar 4 tahun (1998-2002) karena perlawanan masyarakat.

Bukan hanya comdev, pada masa atau situasi keterdesakan itu, bahkan, mereka pun bersedia melakukan berbagai cara yang barangkali bisa dikategorikan sebagai penyuapan. Ini sangat kontras dengan ketidak-acuhan dan kekebalan mereka pada tuntutan masyarakat sekitar di masa pra-reformasi, ketika misalnya ratusan penduduk menuntut penggantian atap rumah atau ganti rugi tanaman akibat hujan asam yang diduga diakibatkan operasi Indorayon.

Dengan kata lain, kelahiran comdev/CSR adalah berkat perlawanan masyarakat seiring dengan berlangsungnya gerakan reformasi di Tanah Air.

CSR, Kerusakan lingkungan, dan pelanggaran HAM

KETIKA saat ini Indorayon/TPL sedang mengumbar paradigma baru, justru pada saat bersamaan mereka melakukan perusakan lingkungan dan pelanggaran hak asasi manusia. Di Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan, mereka menebangi pohon kemenyan rakyat dan menguasai lahan atas nama konsesi yang mereka peroleh dari pemerintah. Ketika masyarakat melakukan perlawanan, perusahaan ini selalu menghadapinya dengan aparat sipil dan polisi/TNI, elite politik, pengusaha lokal, politisi, tokoh adat dan tokoh masyarakat.

Tidak cukup hanya menggunduli kemenyan, perusahaan milik Sukanto Tanoto ini juga membuang limbah B3 di tempat-tempat curaman dan daerah aliran sungai, yang mencemari Sungai Ronuan di Tele, yang digunakan penduduk untuk MCK dan irigasi persawahan.

Di daerah tetangga, Dairi, khususnya di Sopo Komil juga demikian. Kehadiran PT Dairi Prima Minerals (1998) yang saat ini memasuki tahap konstruksi perumahan dan infrastruktur juga berdampak lingkungan dan sosial yang kompleks dan problematis.

Kehadiran perusahaan Australia ini menimbulkan keresahan sosial dan potensi konflik horisontal antara dua subetnis Batak di sana, karena saling klaim hak atas tanah. Marga-marga tertentu mengklaim tanah di sana sebagai hak ulayatnya dan membuat marga-marga lain merasa terancam di tanah yang sudah dikelola selama berpuluh tahun dan dimiliki sah secara adat pada masa lampau.

Kemudian, ekplorasi yang dilakukan PT DPM juga sudah merusak hutan. Dan ironisnya, mereka kelak akan melakukan pembangunan pabrik dan eksploitasi hutan lindung Batu Ardan register 66.

Kenyataan serupa juga kita jumpai di seluruh Tanah Air, di mana perusahaan-perusahaan nasional dan multinasional berada, antara lain, PT Freeport Indonesia di Papua, PT Kaltim Prima Coal (pertambangan terbesar batu bara) dan Unocal (minyak) di Kutai Timur, PT Caltex Pacific Indonesia (CPI), PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), dan PT Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP) di Riau, dan lain sebagainya.

Pascareformasi, mereka semakin getol dan menggelontorkan dana CSR/comdev yang semakin besar dan melibatkan stakeholder yang semakin luas,. Namun di sisi lain, tetap saja melakukan perusakan lingkungan dan pelanggaran hak asasi manusia.(bersambung)

sumber : tapanuligo.blogspot.com

Tag: , , , , , , , , , , , , , , ,

3 Tanggapan to ““Haram” Hukumnya Terima CSR dari Korporat Perusak Lingkungan dan Pelanggar HAM (1)”

  1. restlessangel Says:

    yupe !!! CSR dituding sbg upaya PR perusahaan utk memberi citra positip bagi perusahaan dibalik aksi mereka yang nyata2 merugikan lingkungan masyarakat.

    comdev yang sejatinya utk memberdayakan masyarakat diputarbalikkan sbg upaya penggembosan daya kritis masyarakat. jd inget berbagai iklan korporat yg rame2 memberitakan program CSRnya, spt asian agri, freeport, inco, dll.

    bahhhh !!! saya jd betul2 muak dg industrialisasi di negeri ini.
    berapa juta hektar hutan yang hilang, kekayaan hayati yg musnah ???

    saya ga kepengin lg meretas karir di perusahaan2 macam itu.
    *behhhh kayak kemaren sempet kerja di salah satu perusahaan itu aja*

  2. Stepehen Lupin Bako Says:

    Njuh-juah banta karina

    Selamat menjalankan ibadah Puasa bagi semua umat Islam,semoga sukses adanya

    Masukan kepada Para pemberi Komentar dan Masyrakat setempat, juga pembaca yang terhormat;

    Sekilas ulasan sebagai bahan pertimbangan bagi orang-orang yang akan memberikan komentar tentang lokasi pertambangan yang ada di Sopokomil / Parongil Kab.Dairi
    Mudah-mudahan saya tidak salah memberikan sedikit masukan kepada para komentator yang berikut ini, agar supaya lebih mudah membayangkan lokasi yang akan di komentari.

    1. Kampung kami Sopokomil tidak ada hubungannya dengan Bencana Lapindo yang terjadi di Sidoarjo Jawa Timur.
    Kalau kita lihat letak kota Sidoarjo tidak jauh dari salah satu Gunung berapi yang tinggi di Jawa Timur, dan setelah terjadi pengeboran kemungkinan besar ngebornya tepat di aliran lahar Lumpur di bawah tanah yang mengakibatkan bencana terjadi

    Sedangkan di kampung kami Sopokomil / Parongil tidak ada Gunung yang tinggi, salah satu Gunung yang tinggi dan yang paling dekat adalah Gunung Sibayak yang terletak di Berastagi yang jaraknya +/- 110 KMdari lokasi Proyek di Sopokomil, jadi kampung kami hanyalah merupakan Dolok2 saja mungkin masih lebih tinggi Dolok Sanggul, kalupun ada lahar yang tak terduga mengalir dari proyek itu nantinya, akan dapat ditampung oleh bekas aliran sungai yang ada sekarangkarena cukup luas dan terjal.
    Aliran sungai dari Lae Simungun itu kami sebut Bondar Kapiten sampai di Siboras disebut Lae Kintara di penghujung desa Lae Panginuman bergabung dengan Lae Simblin, Bondar Kapiten adalah tempat hiburan kami semasa kecil, semua anak2 kecil dari Parongil, Longkotan, Sopogadong, Bonton mengadu ketangkasan berenang di sana

    2. Danau Toba nan Indah, jangan di kaitkan dengan penambangan yang ada di Sopokomil, bilamana Proyek ini akan di buka, muda2an Tuhan akan mengabulkannya tidak akan mempengaruhi air satu tetespun yang mengalir ke Danau Toba tercinta.
    Jarak jauh lokasi Pertambangan dengan Danau Toba ter cinta kurang lebih 90 km ( sembilan puluh km. ) dan kalu tak salah jangan2an lebih tinggi Danau Toba dari Kampung kami, ini praduga kenapa saya katakana demikian adalah: Air yang mengalir dari tanah Humbang yang di sebut Lae Renun yang memisahkan Panji Bako dengan Sumbul pagagan dan mengalir sampai Tiga Lingga dan berlanjut ke Aceh Tenggara di sana Lae Renun bergabung dengan Simpang Kiri lalu sampai ke Singkil dan ber gabung dengan Lautan Hindia.

    Lae Renun inilah dahulu di rencanakan menambah air ke Danau Toba setelah di bukanya Proyek P.L.T.A Asahan. Tetapi karena di perhitungkan lebih tinggi Danau Toba, dan untuk mengalirkan Lae Renun ke Danau Toba akan di buat Bendungan yang tinggi di atas daerah Kec.Parbuluan benar atau hanya pernah saya dengar berita itu.
    Sedangkan Lae Simblin yang mengalir dari Kab; Salak dan memisahkan Kec.Si Lima Pungga2 dan Si Empat Nempu terus sampai ke Kota Pardomuan, dan di ujung Lae Luhung bergabunglah dengan Lae Renun sama2 mengalir ke Aceh Tenggara menambah air Simpang Kiri sampai ke Lautan Hindia.
    Jadi Mustahil bin ajaib kalau Proyek ini di buka bisa mempengaruhi dampak negative terhadap Danau Toba yang kita cintai dan yang menjadi kebanggan seluruh Bangso Batak di Portibion.
    Kalau kita lihat air sungai yang ada di Kabupaten Dairi selalu mengalir kea rah Barat untuk menambah Lautan Hindia dan air sungai yang ada di sekitar Danau Toba mengalir kea rah Timur untuk menambah Laut Selat Malaka, kedua aliran Sungai ini sangat bertolok belakang

    Sekarang saya kasih masukan dari Opera Sitilhang yang di nyanyikan oleh nai Malvinas dkk Masi Pature Hutana Be sangat baik lagu ini kita renungkan dahulu sebelum mengeluarkan pendapat dan juga seperti orang bilang; semut di seberang laut kelihatan, padahal Gajah di depan jidat tak nampak..
    Barangkali artinya jangan ada orang yang mengurusi yang bukan kampung sendiri, saya tidak bertanggung jawab kalau Nai Malvinas marah dia bilang nanti doltuk uluna tu ulukku ninna, soalnya para pengarang lagu bisa kebakaran jenggot seolah-olah lagu tersebut di karang tidak ada manpaatnya.
    Ada lagi orang mengeluarkan kata2 yang kurang enak di dengar ter hadap pekerja di Proyek ini, melontarkan budak budak serakah, sebenarnya tak perlu lagi kalimat itu muncul di Zaman saat ini, kaalupun kedudukan anda sudah lebih baik dari pada pekerja di kawasan tersebut, cobalah mereka Bantu berikanlah jabatan yang bagus buat mereka agar jangan menjadi budak-budak serakah seperti yang anda katakana..

    Sebaiknya kita berikan masukan yang positive janganlah kita mempengaruhi orang lain dan menakut-nakuti yang mengakibatkan terbengkalainya proyek tersebut, apalagi yang memberikan komentar negative tidak mengenal daerah ini secara dekat.

    Kita serahkan saja kepada pemerintah, mereka lebih bijaksana memimpin dan memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya dan mungkin bisa mengangkat perekonomian Indonesia.

    Pemerintaah yang sudah di pilih masyarakyat, sudah mempercayakan mereka untuk memimpin rakyatnya, dan berikutnya berikan kesempatan bagi penduduk asli setempat untuk mengambil keputusan yang terbaik buat keluarganya, tanah tanah mereka berpikirlah seperti amang boru kami penemu pertama lahan ini selalu positive thingking, saya sebagai penduduk asli Sopokomil ingin melihat mereka bekembang dan maju tidak sepertinya Zamannya saya harus berjalan kaki berkilometer dan pada malam hari saya belajar pakai lampu yang sumbunya terbuat dari tali gonisetelah pagi haribangun hidung semua hitam dan muka cemong2
    Sekarang kalau saya menghubungi saudara2 saya di kampung yang dekat dengan Proyek tersebut mereka sekarang sudah naik beca belanja, jalan aspal, lampu listrik, air leding ini sungguh tak terbayangkan sebelumnya kalau daerah ini bisa semakmur itu. Landasan Helicopterpun tersedia, padahal dipadahal sewaktu saya dulu tinggal di kampung ini, sulit melihat kapal terbang dari jarak dekat..

    Bagaimana saya tidak bangga karena ponakan, adek2, dan saudara lainnya tidak lagi mengalami seperti yang pernah saya alami, yang jelas saya tidak malu walaupun mere buruh paling terendah.

    Bagi orang yang ingin mengomentari Proyek tersebut, kalu boleh usul saya;

    1. Buatlah satu team dan pergilah meninjau ketempat, anggaplah anda jalan-jalan /bertamasya.
    2. Cobalah berkomunikasi dengan penduduk dan pemerintah setempat
    3. Buat analisa yang baik, dampak bahaya terhadap lingkungan dan dampak yang ter jadi ter hadap kesehatan mayarakat setempat dan juga bagi generasi yang akan dating.
    4. Bagaimana kalau proyek itu berjalan lancar, dampak kepada perekonomian Indonesia apalagia bagi masyrakat setempat.
    5. Buat pertemuan di antara , Pemilik tanah, Pemerintah, Investor agar semua mendapatkan hasil yang saling menguntungkan, tidak ada yang di rugikan dan masyarakat setempat terbantu.

    Pergunakan ilmu pengetahuan anda sebaik mungkin, biasakan diri anda menjadi salah seorang yang disiplin, tajam dan ter percaya seperti R.C.T.V. bukan asbun dan latah hanya membuat berita yang mubazir dan tidak bermanfaat.
    Kami sebagai Suku Pakpak penduduk asli Sopokomil selalu tebuka bagi semua pendatang karena kami selalu didik oleh orang tua kami bergabung dengan siapa saja yang datang ke daerah kami

    Tarida do hau sian parbuena ( kelihatan pohon dari buahnya ) inilah yang menjadi pegangan kami, artinya kalau anak2nya baik sama orang berarti adalah ajaran orang tuanya.

    Sebagai informasi, Sopokomil / Parongil telah beberapa kali meraih kejayaan yang besar seperti :

    a. Minyak Nilam sekitar tahun 1964.
    b. Kopi sekitar tahun 1976
    c. Cengkeh sekitar tahun 1980.

    Mohon maaf kalau ada kata2 yang kurang berkenan yang membuat tersinggung para pembaca, terutama rekan-rekan yang memberikan masukan terhadap Proyek pertambangan ini, kalau boleh mari kita sama2 mendukung demi kemajuan perokonomian di Indonesia

    Huta Siboras ma haroroan ni palia, pisang ma sin Sirata
    Horasma hamu di Indonesia, songoni hami di America.

    Saya ingin masukan dari para pembaca mengenai usulan saya ini. dan tanggapan kita terhadap
    Proyek tersebut

    Stephen Lupin Bako
    10567 0hio st Loma Linda
    California 92354. U.S.A.
    September,02, 08
    E-mail ( Pakbako@hotmail.com )
    Frendster : BOA-BOA.
    Celphone. ( 909 520-0337 )

  3. ben Says:

    Pertambangan timah hitam? siapa yang larang! Tapi limbah bahan berbahaya dan beracunnya harus dianalisa dan dikelola benar-benar lah lae. Limbah B3-nya harus ditangani dengan perlakuan khusus! mengingat bahaya dan resiko yang mungkin ditimbulkan apabila limbah ini menyebar ke lingkungan. Penanganan limbah b3 seperti : reduksi, penyimpanan, pengumpulan, pemanfaatan, pengolahan, dan penimbunan harus memenuhi ketentuan karakteristik limbahnya, sehingga minimalisasi dampak lingkungan dapat tercapai dan masyarakat parongil bisa sehat dan sejahtera. Jadi AMDAL & tahap pelaksanaannya harus yang benar atau jangan ada dusta, utk menghindari kontaminasi logam berat ke tubuh masing2 masyarakat parongil melalui air yg tercemar. Hanya itu saza koq..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: