Tayangan Kebanci-bancian Akan Dilarang ?

Ivan Gunawan, foto Kompas.com

Oleh : Robert Manurung

KALAU Anda penggemar sosok kebanci-bancian dalam berbagai tayangan reality show di televisi, siap-siaplah “kehilangan” Ivan Gunawan, Tora Sudiro, Olga Syahputra, dan pria kemayu lainnya yang hampir saban hari nongol di layar kaca. Sebaliknya buat yang sudah muak melihat lagak lagu mereka yang konyol dan norak, Anda boleh lega sekarang.

Kiprah para banci gadungan itu bakal segera dibatasi, bahkan mungkin akan dilarang. Isyarat ke arah itu bisa dibaca dari pernyataan keras Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Sabtu lalu. Aku kutipkan berita Kompas.Com berikut ini :

KPI mengancam akan memberi peringatan bagi reality show yang menayangkan sosok “kebanci-bancian” jika tidak memperbaiki tayangannya. Hal tersebut disampaikan Ketua KPI Sasa Djuarsa Sendjaja, saat dialog publik Tampilan Dengan Kebanci-Bancian di Televisi Kita, di gedung Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten).

“Ini teguran keras untuk semua stasiun televisi agar tidak lagi menayangkan yang kebanci-bancian,” kata Sasa. .

Saat ini, hampir semua stasiun televisi menayangkan reality show dengan sosok kebanci-bancian. Berdasarkan pantauan KPI, stasiun televisi yang banyak menayangkan reality show dengan sosok kebanci-bancian, yakni Indosiar, Trans TV, Trans 7, dan TPI.

Sedangkan tayangan yang dinilai terlalu mengeksploitasi sosok ini, yakni Ekstravaganza (Trans TV) yang menayangkan Tora Sudiro dan Super Mama (Indosiar) dengan presenter Ivan Gunawan. Dalam tayangan tersebut, Ivan Gunawan akrab disapa Madam Ivan.

Tokoh banci yang diperankan Tora Sudiro di Ekstravaganza dinilai sudah kelewatan pada salah satu episode, Tora memerankan sosok pria dengan tubuh penuh tato, namun mengenakan rok mini. Sambil duduk di sofa, Tora menerima penelpon layaknya acara kuis. Namun, karena penelpon tak kunjung datang, Tora mulai jengah dan membuka kedua kakinya. Kamera terlihat menyorot Tora yang duduk ngangkang dengan celana menyembul di balik rok mininya. Kamera kembali menyorot Tora yang menggunakan kertas sebagai kipas untuk mengipasi kemaluannya.

“Ini jelas tidak sopan untuk ditayangkan. Dan kita akan menegur keras,” kata Sasa.

Saat ini, KPI sedang melakukan pantauan dan kajian terkait hal tersebut. “Ini khusus untuk reality show. Kalau sinetron dan fiksi tidak,” ujar Sasa.

Miskin kreativitas dan industri hiburan berwatak “kartel”

SASA tidak menjelaskan pasal apa gerangan yang dilanggar oleh Ivan Gunawan dan “artis-artis” sejenisnya. Namun, kita bisa mengerti sendiri, lagak lagu mereka yang konyol adalah ejekan terhadap anggota masyarakat yang kurang beruntung terlahir sebagai banci. Di sisi lain, tayangan kebanci-bancian yang merebak di televisi bisa berdampak negatif terhadap generasi muda.

Merebaknya sosok kebanci-bancian dalam berbagai tayangan reality show, tidak hanya mencuatkan miskinnya kreativitas. Efek menghibur diraih dengan cara gampang, lewat lawakan slapstick yang kasar, menampilkan sosok banci gadungan, dan bahkan tak jarang presenter/host menjadikan penonton sebagai sasaran olok-olok. Eko Patrio sering melakukan ini.

Di sana mencuat pula gambaran, betapa rusaknya industri hiburan Indonesia yang berporos di televisi. Mulai dari stasiun televisi, rumah produksi, produser, sutradara, presenter, media infotainment, lembaga rating sampai biro iklan; semuanya bersekongkol menghasilkan acara-acara kodian alias tak bermutu; dengan saling dukung satu sama lain.

Mereka membentuk semacam kartel yang berfungsi efektif, sehingga penilaian pihak-pihak independen tidak berpengaruh sama sekali. Mereka mendiktekan standar, mengendalikan lembaga-lembaga penilai dan media massa, termasuk mengadakan macam-macam award untuk mengapresiasi produk dan dagangan mereka sendiri.

Lebih canggih lagi, rumah produksi dan stasiun televisi bekerjasama membuat aneka acara infotainment untuk mempromosikan dan mengatrol rating acara-acara mereka. Infotainment juga berfungsi mempopulerkan para bintang sinetron, presenter, host dan siapa saja konco mereka. Kebanyakan gosip yang ditiup-tiupkan infotainment sudah lebih dulu dapat persetujuan atau malah merupakan pesanan artis yang digosipkan.

Praktek kartel dan koncoisme inilah yang membuka peluang seluas-luasnya buat orang-orang seperti Ivan Gunawan, Olga Syahputra, dan para penghibur yang tak menghibur itu bisa menjadi “artis” dan selebritis.

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , ,

13 Tanggapan to “Tayangan Kebanci-bancian Akan Dilarang ?”

  1. FraterTelo Says:

    Parah memang acara-acara tv kita ini, bang.
    FYI: di tv saya sudah aku program supaya tak bisa menangkap siaran RCTI dan SCTV. Saya blacklist sudah kedua stasiun tv itu.

    salam pembebasan!

  2. rezco Says:

    bagus ini, jadi tayangan tv kita bisa sedikit “bermutu”.

    tanpa bermaksud mendiskreditkan kaum “kemayu”, parahnya, gaya kebanci-bancian mereka skrg jadi semacam trend bergaul.

  3. kangtutur Says:

    Masak sih?
    Emang ada yang berani ngelarang, gitu-gituan?

  4. RETORIKA Says:

    bukan masalah kreativitas namun ini adalah langkah pertama untuk melakukan pelarangan yang lainya !!!

    sekarang yang banci mau dilarang …
    lalu kemudian yang pake tank top dilarang …
    lama lama semua artis mesti pake Cadar dan jilbab baru boleh masuk tv …

    dasar edan …

  5. iman Brotoseno Says:

    disisi lain justru masyarakat kita yang sakit khan ? yang menggemari tayangan infotainment dan sosok banci banci..
    masalah KPI sepertinya macan ompong, kalau melihat tayangan kekerasan, sinetron nggak mutu, atau hidayah yang berlebihan..

  6. Marudut Pasaribu Says:

    Lae, aku sudah lama gak nonton TV Indonesia kecuali Metro TV…

  7. Ronsen Says:

    TV sudah disetel buat maen playstation.🙂

  8. roseheart Says:

    Larangan untuk menayangkan siaran yang menampilkan tokoh kebanci-bancian tidak memiliki dasar hukum yang kuat. Definisikan dulu kata “kebanci-bancian” itu lengkap dengan unsur-unsur yang mendukung definisi itu, supaya nanti kalau mau dimasukkan ke dalam undang-undang menjadi tidak multitafsir seperti yang terjadi pada perda-perda aneh yang bertebaran dimana-mana karena tidak mampu memberikan definisi yang jelas dari suatu kata yang menjadi inti permasalahan.

    Menyalahkan masyarakat yang sakit karena menyukai tayangan yang diperankan oleh Tora Sudiro, dll, bukan sebuah jawaban atau alasan. Juga bukan soal mutu. Kalau suatu aturan dibuat di negara yang katanya negara hukum ini, dengan kekuatan kekuasaan pula untuk mengaturnya, maka harus jelas dulu yang dituju, jangan asal buat aturan tapi ketika ditanya batasan kebanci-bancian itu apa? Yang boleh dan tidak itu bagaimana? Lalu kalau dia banci beneran bagaimana? Jawabannya cuma bisa bengong!

  9. Anonim Says:

    yang mesti di marahin itu sutradaranya ngapa nyuruh meranin jadi banci?
    mau nya sutradaranya yang jadi banci dulu…
    trus kameramennya juga jangan otak ngeres dong
    dah tau pake rok mini masih di sorot juga….
    padahal ceritanya sangat menghibur

  10. BeritaBaik Says:

    Walopun udah jelas KPI ngumumin hal ini, di tv masih banyak banci2 yang bergentayangan. Extravaganza, ngelenong nyok dan masih banyak lagi yang lain. Bahkan baru2 ini iklan layanan masyarakat mengenai demam berdarah pun melibatkan banci. Duh KPI…yang lebih tegas dong…

  11. mario Says:

    iya sy setuju banget yang begituan dihapuskan dari muka pertelevisian indonesia, karena fenomena seperti itu bisa menular dan mempengaruhi masyarakat terutama anak-anak yang sedang dalam massa perkembangannya. jadi jangan sampe lah seseorang yang tadinya normal malah jadi banci karena menonton acara yang seperti itu.

  12. dinda cipta pratama Says:

    extravny jangan doong.
    bukanny gg kreatif
    mereka syuting beberapa sketsa buat 2 jam x 2 jam hari penayangan.

  13. silvia Says:

    sy ga suka sma acara di indosiar yaitu HAREEM .. karena acara itu sering menampilkan adegan kekerasan yang bercorak Islam dan menurut saya acara tersebut sama sekali tidak ada nilai positif.. sebagai umat islam saya amat sangat tersinggung dengan acara tersebut.. karena Hal itu mencerminkan bahwa umat Islam itu keras.. thx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: