Laskar Pelangi dari Nusa Tandus

Anak-anak itu bersekolah tanpa alas kaki, tanpa seragam, dan tanpa tas sekolah. Ke sekolah dengan mengenakan seragam dan sepatu merupakan suatu kemewahan dan bahkan cuma mimpi.

DALAM novel yang banyak dibicarakan orang, Laskar Pelangi, sosok Lintang yang miskin namun jenius menjelma jadi elegi kegagalan pendidikan di Indonesia. Andrea Hirata, penulis novel tersebut, berhasil membuat kita merasa bersalah, karena talenta secemerlang Lintang gagal dibentuk jadi ilmuwan sekaliber Einstein.

Stefanus Russae (15) mungkin tidak jenius seperti Lintang. Namun, siswa SMP Negeri 1 Atap Noehala, Desa Noebaun, Kecamatan Noebuti, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT); ini, memiliki semangat belajar yang sama dengan Laskar Pelangi. Dan boleh jadi, nasibnya akan sama pula dengan Lintang : putus sekolah akibat kemiskinan, dan lantaran tenaganya lebih diperlukan di ladang jagung daripada di ladang ilmu.

Kisah perjuangan Stefanus Russae dan Laskar Pelangi lainnya dari nusa tandus NTT, dapat Anda ikuti selengkapnya dalam artikel memikat di bawah ini yang aku kutip dari harian Kompas, edisi Selasa 2 September 2008.

Salam Merdeka,

RM

===================================

Semangat di Tanah Tandus

Ketika pagi masih gelap, ketika banyak orang masih terlelap, Stefanus Russae (15) sudah merebus jagung atau membuat bubur nasi. Hanya dengan menyantap jagung, ubi, atau bubur nasi kosong, Stefanus menapaki tanah tandus, menyusuri bukit berbatu menuju sekolahnya.

Oleh : ELOK DYAH MESSWATI

Stefanus adalah satu dari ribuan anak-anak dusun di wilayah Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang terpaksa menapaki jalan sejauh 4-7 kilometer menuju sekolah mereka. Hanya nasi atau bubur kosong yang mereka konsumsi untuk “menipu” perut. Sekadar kenyang.

Di sekolah pun mereka tak bisa berpikir, apalagi serius belajar karena perut dalam kondisi lapar.

Stefanus adalah satu dari ratusan anak-anak di Desa Noebaun, Kecamatan Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara, yang harus berjuang keras menggapai cita-citanya. Ketika matahari belum terbit, Stefanus harus berjalan kaki sejauh 5 kilometer menuju sekolahnya di SMP Negeri 1 Atap Noehala, Desa Noebaun.

Ayahnya, Yacobus Russae, hanya bertani. Dua kakak Stefanus cuma tamat SD. Ibunya telah meninggal duni karena kanker.

Tetap semangat

Tidak cuma Stefanus. Masih ada Gerardus Pantola (15), Adrianus Banusu, dan Matilda Manuel (15) yang rumahnya di Dusun Oeprigi yang harus berjalan kaki ke sekolah sejauh 5 kilometer.

Anak-anak itu bersekolah tanpa alas kaki, tanpa seragam, dan tanpa tas sekolah. Ke sekolah dengan mengenakan seragam dan sepatu merupakan suatu kemewahan dan bahkan cuma mimpi.

Namun, mimpi itu sekarang terwujud sudah. Melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Generasi masuk ke desa-desa di Kabupaten Timor Tengah Utara, anak-anak SD dan SMP kini sudah mengenakan seraga sekolah. Untuk SD baju putih dengan celana atau rok merah, sedangkan SMP baju putih dengan celana atau rok biru.

“Dana PNPM kami gunakan untuk pengadaan seragam SD dan SMP, alat tulis sekolah, tas, serta payung,”kata Camat Miomaffo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara, Robby Nahas.

Meski kebutuhan sepatu, tas, dan buku-buku belum semua anak terpenuhi, setidaknya pemberian baju seragam SD/SMP itu sudah membuat semangat mereka terpacu kembali.

Sejak 2007 PNPM Generasi sudah dilaksanakan di 1.610 desa di lima provinsi, yaitu Jawa Timur, Jawa Barat, Gorontalo, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur. PNPM Generasi menargetkan cakupan universal terhadap 12 jenis pelayanan kesehatan dan pendidikan secara spesifik, termasuk pelayanan kesehatan dasar ibu dan anak, kekurangan gizi anak, serta angka pendaftaran dan kehadiran di SD dan SMP.

Meningkat

Sasaran dan cakupan PNPM Generasi terus meningkat. Jika pada tahun 2007 wilayah cakupan baru meliputi 129 kecamatan di lima provinsi, pada 2008 meningkat menjadi 178 kecamatan.

Untuk Kabupaten Timor Tengah Utara, jumlah anak yang terlayani juga meningkat. Jika tahun 2007 sebanyak 23.537 anak SD dan 7.465 anak SMP merasakan manfaat PNPM Mandiri, tahun 2008 meningkat menjadi 25.102 siswa SD dan 8.077 siswa SMP.

“Hal ini tentu sangat bermanfaat bagi siswa,”kata Bupati Timur Tengah Utara Gabriel Manek, akhir Agustus 2008.

PMT AS

Masuk sekolah dengan perut kosong bagi sejumlah anak di Kabupaten Timor Tengah Utara sudah biasa. Namun, hal itu tidak bisa diteruskan dan dipandang sebagai sesuatu yang lumrah. Orang awam pun tahu, anak yang bersekolah membutuhkan gizi dan protein yang cukup.

Karena itu, para kader di desa-desa di Kabupaten Timor Tengah Utara dan Sumba Timur mengusulkan Program Pemberian Makanan Tambahan untuk Anak Sekolah (PMT AS). “Program-program yang dilaksanakan merupakan usulan dari bawah, dari warga dusun atau desa, bukan dari atas,”kata Sjed Muhammad dari Bank Dunia yang turut mendukung PNPM Generasi.

Karena itu, kini setidaknya dua kali seminggu siswa SD dan SMP di Timor Tengah Utara dan di Sumba Timur mendapatkan PMT AS, seperti kacang hijau, roti manis, dan susu menjelang bel pulang sekolah.

Tidak cuma itu, sebanyak 12 anak lulusan SD Bidi Praing di Desa Kiritana, Kecamatan Pandawai, Sumba Timur, yang pada tahun 2007 putus sekolah, kini sudah melanjutkan pendidikannya ke SMP.

Sekolah ke SMP terdekat adalah ke ibukota Kabupaten di Waingapu. Itu pun berjarak 17 kilometer. Jika menyekolahkan anak ke SMP, artinya harus menyediakan uang transpor. Meski sekolah, seragam, dan buku gratis, uang transpor tetap menjadi beban bagi orangtua.

“Dana PNPM memberikan bantuan transpor Rp 24.000 setiap bulan untuk anak-anak tidak mampu di desa Kiritana agar bisa ke SMP di Waingapu,”kata Nicky Babyes, fasilitator PNPM Generasi Kabupaten Sumba Timur.

Begitu pula di Kabupaten Timor Tengah Utara, anak-anak miskin yang berjalan kaki ke sekolah kini diberi dana angkutan umum untuk mencapai sekolah.

Memang tak mudah memupuk semangat anak-anak di daerah tandus untuk tetap bersekolah. Namun, sekali menapak jalan, pantang surut langkah…..

===============================================================================

http://www.ayomerdeka.wordpress.com

Iklan

Tag: , , ,

5 Tanggapan to “Laskar Pelangi dari Nusa Tandus”

  1. Sawali Tuhusetya Says:

    selalu saja ada kelebihan dan lokal genius yang tampil beda ketika dunia pendidikan kita tampil dg potret yang buram. setelah muncul lintang dari tanah belitong, muncul nama stefanus dari tanah tandus. sungguh perjuangan mereka utk bisa mengenal peradaban dari sebuah daerah yang terpencil layak diapresiasi. pemerintah mesti mulai melakukan banyak pembenahan secara mendasar terhadap sistem pendidikan kita yang selama ini abai terhadap talenta yang dimiliki anak2 negeri. salut banget postingannya, bung robert!

  2. pimbem Says:

    mudah2an anak2 ini selalu terjaga dan ga ada lg oknum2 yg ga tau malu, mengambil hak anak2 malang ini. amin.

  3. Robert Manurung Says:

    @ Sawali Tuhusetya

    Ah, jadi malu aku mendapat pujian dari Mas. Postingan ini hanya kutipan dari koran. Aku posting di blog ini karena aku peduli masalah pendidikan, dan ingin membagikannya supaya lebih banyak yang ikut memikirkan.

    Salam hangat dari Jakarta

    @ pimbem

    mudah-mudahan, Mbak.
    Amin.

  4. Sitorus Par Lobam Says:

    Sebagai rakyat biasa…
    Apa yang mesti kita lakukan untuk menolong mereka ?????
    Permerintah sudah mencanangkan pemerataan pendidikan atau pendidikan gratis… tapi hasilnya apa ..???
    Para dewan gurupun (PNS) ogah kalau di tugaskan kedaerah terpencil…
    Saya rasa masih banyak Lintang dan Stefanus didesa lain yang mempunyai nasib yang sama. Jangankan di NTT, di kota Jakartapun masih banyak anak2 yang putus sekolah…
    jadi siapa yang lebih bertanggung Jawab ???

  5. hanggadamai Says:

    semoga potret buram indonesia cepat terhapus..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: