Tradisi Ramadhan Batak Mandailing & Angkola

TULISAN ringan dan segar ini akan membawa kita ke dalam pengalaman pribadi penulisnya, Srikandini : menjalankan ibadah puasa di kampung halamannya di Sipirok, Tapanuli Selatan. Seperti apa gerangan tradisi marpangir di batang aek ?

Halida Srikandini boru Pohan tingggal di Tangerang bersama suami dan anak-anaknya yang bangga menjadi Batak Keren. Bagi Dini, panggilan akrabnya, tidak pernah ada pertentangan atau dikotomi antara agama Islam yang dia anut dan identitasnya sebagai manusia Batak. Menjadi seorang muslim bukan berarti harus melunturkan identitas dan kebanggaannya pada budaya Batak; juga musiknya, dan alamnya yang indah permai.

Inang ni si Gabe ini adalah boru Batak yang memeluk agama Islam, atau sebaliknya seorang muslim dengan identitas Batak yang kental dan selalu dibanggakannya. “Tidak ada ayat-ayat di Al Quran yang mengharamkan budaya Batak,”ujarnya berapi-api, saat diskusi mengenai Gordang Sambilan dengan sastrawan Hamsad Rangkuti di Taman Ismail Jakarta, pekan lalu.

Gaya berceritanya yang personal, penuh cinta dan kerinduan, akan membuat kita ikut merasakan keriangan, kehangatan dan kebersamaan penduduk desa saat melaksanakan tradisi marpangir di batang aek. Dia menuturkannya seperti sebuah pengalaman tamasya yang tak terlupakan, dan memang begitulah seharusnya sikap kita beragama : riang dan penuh syukur dalam kebersamaan.

Aku meminta Ito Srikandini menulis tentang “berpuasa di Sipirok” sebab aku menduga dan yakin, bahwa sebagaimana tradisi lokal Ramadhan di Jawa, Aceh, Arab, Pakistan, dan lingkungan budaya lainnya; niscaya orang Batak pun punya tradisi sendiri dalam menjalani bulan puasa. Masalahnya, kita selama ini hanya mengenal versi Jawa dan Arab saja, sehingga miskin wawasan mengenai tradisi Ramadhan di berbagai lingkungan budaya di Indonesia.

Kata pengantar ini aku akhiri dengan ucapan : Selamat Menunaikan Ibadah Puasa bagi Ito Srikandini berserta keluarganya, dan buat semua pengunjung blog ini yang menjalankannya.

Horas

Raja Huta

===========================================

Marpangir di Batang Aek, Tradisi Ramadhan di Sipirok

Oleh : Halida Srikandini boru Pohan

IBADAH PUASA di bulan ramadhan telah tiba. Ada rasa rindu yang menghentak di hati ini. Ada sesuatu yang hilang dan tak bisa dilakukan di tano parjalangan (perantauan) terkait dengan kebiasaan yang dulu pernah rutin dilakukan bersama mama …papa.. ompung (nenek) , sehari sebelum puasa.

Kata ompung… kalo mau puasa begini di Sipirok suasananya meriah, selain sibuk mempersiapkan lauk pauk yang spesial untuk sahur pertama di bulan ramadhan, yang paling membuat rindu pulang ke huta (kampung) sebelum lebaran adalah acara marpangir di batang aek …..

Marpangir, terjemahan bebasnya adalah mandi keramas.yang bertujuan sebagai simbol membersihkan diri lahir dan batin, sebelum melaksanakan ibadah puasa di bulan ramadhan.

Namun, kalo biasanya manusia kota keramas menggunakan sampho, maka marpangir ini memiliki ramuan-ramuan khusus yang terdiri dari unte pangir (sejenis jeruk sate) daun pandan, daun tapak leman dan bunga-bunga yang harum; kemudian dicampur jadi satu dan dimasak dengan santan. Tempat memasaknya pun kata ompung unik…..direbus bersama di belanga (angkola-sipirok) atau di dalam bambu/bulu (mandailing).

Gimana cara marpangirnya ?

Setelah ramuan tadi masak dan didinginkan, pada saat kita mandi di batang aek dan rambut pun sudah basah, disiramkanlah ramuan pangir tadi ke kepala, lalu di gosok-gosok. Mungkin karena ada santan dalam ramuan itu, maka rambut pun jadi lembut dan berkilat indah setelah dipangir. Setelah itu rambut dibilas dan cuci bersih dengan sabun (ini waktu jaman ompung dulu) kalo sekarang dicuci bersih dengan sampo-lah yahhh….

Terus dimana letak serunya ?

Yang bikin acara marpangir ini menjadi seru dan dirindukan adalah karena sambil marpangir biasanya bersamaan dengan acara piknik keluarga atau pun piknik dengan teman-teman sebaya, dan makan siang di topi (tepi) batang aek…ach membayangkan acara marpangir di batang aek, bikin rasa rindu ini makin gila…. pengennnn pulangggg ke hutaaaaaaa ……

Lalu apa lagi serunya puasa di Sipirok ?

Yang paling indah menurutku adalah saat malam 27 ramadhan… Ada acara pasang lilin/obor di setiap rumah/pagar rumah…Bayangkan indahnya malam itu dengan jejeran obor/lilin di sepanjang jalan…di tingkahi suara tadarusan (membaca al qur’an) di masjid dan dinginnya malam di Sipirok…

Mungkin masih banyak hal-hal indah yang harusnya bisa kutulis… tapi hatiku tak kuat lagi, wajah mendiang ompung dan kenangan indah saat puasa bersamanya membuat hati ini ingin meledak dan sesak rasa dada ini…

Malungun au mulak tu Sipirok (aku rindu pulang ke Sipirok)…

Sipirok Na Soli Banua Na Sonang…Semoga setelah berbelas tahun tak kulihat.. masih tetap seindah dan sedamai dulu…

—————————————————————————-

sumber : blog tobadreams

Tag: , , , , , , , , ,

11 Tanggapan to “Tradisi Ramadhan Batak Mandailing & Angkola”

  1. ucok saribu Says:

    pulanglah kampunglah mungkin sudah rindu dengan lembah sibul-buali dan aek milas

    putra sipirok

  2. tanobatak Says:

    Tradisi marpangir dulunya ada juga ditoba. Tapi kemudian diklaim sebagai praktek perdukunan dan dituding sesat. Namun tradisi ini mungkin masih dilakukan diam2. Buktinya setiap pekan 2 ember unte pangir tetap habis walau harganya mahal. Salam horas ito boru pohan.

  3. Kang Nur Says:

    wah.. saya memang sedang mencari cerita2 ttg tradisi2 Ramadhan di seluruh nusantara. posting ini menjadi satu yg saya temukan dan menggembirakan saya.🙂

  4. nanzzzcy Says:

    Horas..
    wah..aku baru tau nih ada adat2 gini. Maklum tinggal diperantauan jd adat peradatan udah mulai menjauh hehe..

    btw, salam kenal.. gku link ke blogku ya..🙂

  5. boruenggannajogi Says:

    @ ucok saribu
    trimakasih ito…
    memang ada rencana ku untuk pulang ke huta hari raya ini
    semoga masih ada tradisi masa kecil ku yang tersisa di sana buat aku bisa bernostalgia….

    maridi tu aek milas na i bolakang masojid ti do ateh ito… itu pasti !!! inda na bisa hu lupa hon memori2 indah dohot alm.opung i si …

    @ Nanzzzcy
    walopun tinggal jauh di perantauan jangan pernah lupakan adat eda… karena adat/peradtan batak itu adalah bagian dari identitas kita sebgai boru batak dan halak batak di portibi ini.

    @Tanobatak
    salam horas balik ito🙂

    @kang nur
    alhamdulillah kalo tulisan sederhana ini bermanfaat buat yg lain.

  6. Syahrul Hanafi Simanjuntak Says:

    @Ucok Saribu

    Sada dua tolu ninna guru i
    Opat lima onom mangihut sipitu i
    Roma si salapan dohot sambilan ni
    Gonop ma bilangan dohot sappulu i

    # lagu wajib SD Negeri 1 Sipirok (najolo 1979), nauboto anggo sannari

  7. M.Natsir Perdana Nasution Says:

    Wah menyenangkan…punya foto2x nya gak kak…
    aku kebetulan lagi surfei2x ..kebetulan mau bikin film.. judulnya INANG…latar lokasinya TAP SEL., Danau Siais, Sipirok, Sisimpuan dan sekitarnya.( lihat http://www.inang.blogdetik.com ).
    mau dong dibagi foto2xnya..terimakasih

  8. Syahrul Hanafi Simanjuntak S.15 Says:

    Tanpa ingin sok2an jadi orang film hehehe klo boleh kasih usul INANG pulang dari Jakarta ke Sumatera Utara menggunakan Bis ALS (Antar Lintas Sumatera), lalu kemudian meneruskan perjalanan ke desanya menggunakan Bis kecil SIBUALBUALI 1937.(Saya yakin akan sangat mendukung film ini,akan sangat kental nuansa trans Sumatera-nya)
    Alasanku: Karena dua kendaraan ini adalah perusahaan otobus yang mempunyai sejarah paling lama dan berakar di masyarakat Tapanuli,hingga menembus pulau Jawa, sebagai informasi Bis Sibualbuali berdiri sejak tahun 1937 zaman Belanda dan nomor polisinya unik BB hingga sekarang, hanya tidak lagi sampai Jakarta tetapi batas Sumatera.(satu2nya provinsi di Pulau Sumatera yang mempunyai 2 (dua) Nopol sekaligus adalah Sumatra Utara yakni BB dan BK). Sementara bis ALS trayeknya pernah hingga sampai ke Nusa Tenggara Barat-Mataram.(Medan-Mataram)
    Oya ada bunyi klakson yang sangat khas&klasik dari Bis Sibualbuali, bisa Bung tanyakan sama orang2 “parmotor” di Sipirok dan Sidempuan nanti, apalagi ketika melewati tepian Danau Toba klaksonnya bunyi hmmmmm….dijamin para orang2 batak yang sukses di perantauan pada ingin pulang kampung jumpa sama Inang-nya.

    Horas n Mauliate.
    Syahrul Hanafi Simanjuntak S.15

  9. Syahrul Hanafi Simanjuntak S.15 Says:

    Ralat:
    …apalagi ketika melewati tepian Danau Toba klaksonnya bunyi

    hmmmmm….dijamin para orang2 batak di perantauan pada ingin pulang

    kampung jumpa sama Inang-nya SETELAH MENONTON FILM INANG

  10. boy Says:

    horas
    setelah saya baca
    jadi inginpulang ke sipirok……….
    melihat kembali hutan pinus saipar dolok hole
    salah satu karya besar orang tua saya

  11. Anwar Ashari Says:

    HORAS
    By writer of Hajji Book:
    40 Hari Di Tanah Suci.
    Thank you

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: