Super Toy, Mainan Baru Presiden SBY (1)

Super Toy tidak hanya merugikan petani, tapi juga menjatuhkan martabat jabatan presiden; menginjak-injak peraturan UU tentang sertifikasi benih; tidak menghargai para peneliti profesional yang penuh dedikasi; dan melemahkan upaya membangun tradisi ilmiah di tengah-tengah bangsa yang penuh tahyul ini.

Oleh : Robert Manurung

SEANDAINYA ini terjadi di Amerika, dan mengenai presiden negara itu, blogger sana bisa dengan enteng membuat judul,”Sorry Mr President, are You Innocent or Fool?”. Tapi karena ini terjadi di Indonesia, dan mengenai Presiden RI yang kita hormati bersama, maka menulisnya harus sangat santun—sambil mengintip pasal-pasal UU ITE (Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik), supaya tidak melanggar rambu-rambu.

Ini soal kegandrungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada hasil penemuan baru, yang sayangnya, sudah dua kali menuai kontroversi yang sungguh memalukan. Pertama, Blue Energy (solar berbahan baku air), penemuan Joko Suprapto asal Nganjuk; yang kini jadi perkara di pengadilan dengan gugatan penipuan. Kedua, penemuan bibit padi varietas “ajaib”, Super Toy HL-2, yang bikin geger baru-baru ini.

Skandal Super Toy lebih menghebohkan dibanding Blue Energy, sebab yang menjadi korban “penipuan” adalah para petani. Kasus ini menjadi sangat dramatis setelah para petani di Grabag, Purworejo (Jateng) membabat dan membakar tanaman padi mereka; pada 3 September lalu; lantaran kecewa dan merasa tertipu.

Ini skandal besar yang memperlihatkan secara telanjang, bagaimana kekuasaan Presiden disalahgunakan untuk mendukung kepentingan bisnis konco-konconya; dalam hal ini Heru Lelono dan PT. Sumber Harapan Indopangan (SHI). Dan, bagaimana pemimpin tertinggi negara ini mempermalukan dirinya sendiri dengan keterlibatannya dalam kontroversi “sihir ilmiah” yang terlalu naif.

Kasus ini juga menunjukkan kuatnya kecenderungan Presiden SBY menempuh jalan pintas, instan, dan simsalabim. Padahal, yang dibutuhkan bangsa ini agar dapat bangkit dari keterpurukan adalah pemimpin yang rasional, dan mampu mendorong semua elemen masyarakat untuk bangkit secara bertahap, sustainable, dan taat azas.

Super Toy tidak hanya merugikan petani, tapi juga menjatuhkan martabat jabatan presiden; menginjak-injak peraturan UU tentang sertifikasi benih; tidak menghargai para peneliti profesional yang penuh dedikasi; dan melemahkan upaya membangun tradisi ilmiah di tengah-tengah bangsa yang penuh tahyul ini.

* * *

SUPER TOY, nama yang terkesan kekanak-kanakan dan bisa dikira nama game atau judul film animasi. Ini nama bibit padi yang diklaim sebagai varietas baru yang memiliki dua keunggulan dibanding bibit yang biasa ditanam oleh petani. Hasil panennya dijanjikan bisa sampai dua kali lipat hasil bibit biasa, dan sekali tanam dapat panen sampai tiga kali.

Super Toy ditemukan oleh Tauyung Supriyadi, petani muda asal Bantul (DIY); lulusan STM 2 Yogyakarta; yang pernah bekerja di perusahaan benih milik pengusaha Korea.. Nama pria 30 tahun ini diabadikan pada bibit “ajaib” itu (Tauyung = Toy), disandingkan dengan Heru Lelono (HL)–Staf Khusus Presiden yang menjadi tokoh sentral proyek ambisius berbau fulus ini, yang juga tokoh utama “dongeng futuristik” Blue Energy.

Sama halnya pada proyek Blue Energy, di mana Heru mengenalkan Joko kepada Presiden, penemu Super Toy pun dikenalkannya kepada SBY. Kemudian setelah mendapat restu dari Presiden, dimulailah proyek padi ajaib itu.

Didirikanlah PT Sarana Harapan Indopangan (SHI), didukung oleh ormas atau lembaga sosial Gerakan Indonesia Baru (GIB). Heru menjadi Komisaris Utama SHI, merangkap Sekretaris Umum GIB. Presiden SBY menjabat Ketua Dewan Pembina GIB.

GIB berperan sebagai penghubung SHI dengan pemerintah daerah dan para petani. Bisa dibayangkan betapa sultnya pihak pemda dan petani membedakan, kapan Heru berperan sebagai Staf Khusus Presiden, kapan sebagai Komisaris Utama SHI, dan kapan sebagai sebagai Sekretaris Umum GIB. Semua peran tersebut menyatu dalam dirinya, dengan bayangan kekuasaan Presiden mendukung dengan kuat dari belakang.

* * *

SHI menjual Super Toy ke petani di Kabupaten Purwurrejo dan Madiun Rp 75.000 per kilogram. Menurut Kompas (9/9), itu 10 kali lebih mahal dibanding harga bibit Ciherang yang biasa ditanam petani (Rp 40.000 per 5 kilogram).

Penjulan bibit tersebut adalah perbuatan ilegal menurut Undang-undang No.12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman. UU ini melarang memperdagangkan bibit calon varietas baru yang belum menjalani pengujian dan memperoleh sertifikat dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih.

UU tersebut membolehkan calon bibit varietas baru ditanam di sawah petani, untuk tujuan percobaan, namun dengan dua syarat : diberikan secara gratis dan tidak ada unsur paksaan terhadap petani untuk menanamnya.

Proyek Super Toy dilaksanakan di Kabupaten Madiun (5 hektar) pada akhir 2007, dan di Purworejo (seluas 103 hektar, milik 449 petani), Januari 2008. Presiden SBY langsung terjun ke sawah milik petani di Grabag, pada 17 April 2008, melakukan seremoni panen raya perdana—plus pidato yang bertaburan puja-puji buat para pahlawan Super Toy : Tauyung, Heru Lelono, dan SHI.

Tapi, di mata petani, panen raya perdana itu adalah bukti awal kegagalan Super Toy; dan bencana buat mereka. Hasil panen Super Toy cuma 3,5 ton gabah per hektar, meleset jauh dari yang dijanjikan SHI, 14,6 ton per hektar. Namun fakta itu tidak muncul di media massa, sampai kemudian semua pihak terkaget-kaget, setelah petani Grabag membabat dan membakar tanaman padi mereka. (Bersambung)

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

6 Tanggapan to “Super Toy, Mainan Baru Presiden SBY (1)”

  1. Nesia! Says:

    Ah, salah petani kita juga. Dari awal pun sudah dibilang toy, mainan, jadi kok diseriusi. Yang dibilang serius aja pun cuma main2 kok!

  2. Sawali Tuhusetya Says:

    blue energy belum juga usai menuai kontroversi, sekarang sudah disusul fenomen unik, varietas super toy yang ternyata juga gagal menumbuhkan kepercayaan rakyat terhadap temuan2 yang mencerahkan. jangan2 akan terjadi krisis kepercayaan terhadap ilmuwan dan tokoh2 elite, bung.

  3. sitijenang Says:

    mungkin dasarnya beliau percaya bangsa kita punya banyak peneliti yg bisa menghasilkan solusi. sayangnya, sang presiden sendiri kurang teliti dalam memilah mana yg patut diikuti, mana yg harus dihindari. saya kira sudah cukup halus.😳

  4. G. Meha Says:

    Apakah masyarakat yang gagal panen itu akan mendapat ganti rugi dari super toy?

  5. Giyanto Says:

    Siapa juga tuh yg masih percaya ama program-program pemerintah. Inilah kalau hasil penelitian dipolitisir. Jadinya runyam to?

  6. jamal priyatno Says:

    ah udah cape dengan sgala upaya sby yang ngapusi……
    udahlah mundur aja sebelum pemilu sby……
    anda itu kekanak-kanakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: