Super Toy, Mainan Baru Presiden SBY (2)

SEDIHNYA, terungkapnya keterlibatan Presiden SBY dalam skandal Super Toy bertepatan pula dengan hengkangnya dua peneliti tangguh dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI (Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia). Mereka, Inez Slamet-Loedin dan Ines Irene Atmosukarto, hengkang ke luar negeri karena kurangnya dukungan pemerintah untuk kegiatan riset.

Oleh : Robert Manurung

SBY begitu gandrung dunia sains, itu sudah jadi rahasia umum. Latar belakang pendidikan dan pengalaman kerjanya memang berkisar di dunia pemikiran. Dan justru karena itulah, mengingat latar belakangnya yang akrab dengan norma-norma ilmiah dan prosedur penelitian, kita jadi heran dan bertanya-tanya : kenapa Presiden yang juga intelektual mumpuni ini bisa terbuai dan percaya “sihir ilmiah” macam Blue Energy dan Super Toy ?

Semasa aktif di TNI, SBY membangun reputasi dan naik pangkat sampai menjadi jenderal bukanlah dengan prestasi di medan tempur, melainkan di dunia pemikiran dan kajian strategis. Dia memainkan peran penting dalam perumusan konsep “Reformasi TNI”.

Sampai menjelang pemilihan presiden empat tahun lalu, SBY masih sempat-sempatnya mengambil gelar doktor di Institut Pertanian Bogor (IPB). Dan sungguh menarik jika dikaitkan dengan keterlibatan Presiden dalam skandal Super Toy, disertasi doktoral SBY adalah “Pembangunan Pertanian dan Pedesaan sebagai Upaya Mengatasi Kemiskinan dan Pengangguran”.

SBY adalah satu-satunya presiden Indonesia yang melakukan penelitian atau telaah ilmiah mengenai masalah pertanian.

Selain itu perlu digarisbawahi, SBY adalah presiden pertama yang membuka pintu istana lebar-lebar bagi para petualang di bidang penemuan alias pakar “tipulogi”. BJ Habibie yang aslinya ilmuwan itu kalah agresif dibanding SBY dalam “berburu” penemuan baru.

* * *

DALAM pidatonya sesaat sebelum panen raya perdana padi Super Toy HL-2 (di Grabag pada 17 April 2008), Presiden mengakui, dia tertarik pada “varietas baru” itu karena diklaim dapat dipanen tiga kali per tahun tanpa menanam ulang bibit.

Boleh jadi alasan yang sama pula yang membuat SBY begitu mudahnya “dikibuli” Joko Suprapto. Lantaran terpesona oleh ilusinya sendiri mengenai sebuah penemuan besar, yang akan “menyulap” Indonesia mendadak gemah ripah loh jinawi. Saking senangnya, pemberian nama energi ajaib yang “ditemukan” Joko sampai dilakukan sendiri oleh Presiden. Sungguh sebuah lelucon besar yang bisa membuat bangsa besar ini menangis sampai semaput.

Pesona Super Toy pun bersifat “sihir ilmiah”. Menjanjikan keunggulan-keunggulan bersifat lompatan jauh, yang bahkan belum terpikirkan oleh para peneliti terbaik yang dimiliki Indonesia dan para peneliti kelas dunia di lembaga riset padi internasional (IRRI/International Rice Recearch Institute) di Filipina.

Fakta ini, adanya dua kasus yang sama, dengan modus operandi yang mirip satu sama lain, tak bisa dihindarkan munculnya pertanyaan : jangan-jangan Presiden sendiri yang terlalu gandrung pada “sihir ilmiah” ?

Dan apakah lantaran itu Presiden SBY terkesan begitu lugu, naif dan terlalu mudah percaya, lalu membiarkan kekuasaan serta pengaruh jabatannya sebagai Presiden dimanfaatkan oleh orang-orang dekatnya untuk “menipu” dengan modus penemuan baru yang canggih, futuristik, dan bullshit ?

* * *

SEDIHNYA, terungkapnya keterlibatan Presiden SBY dalam skandal Super Toy bertepatan pula dengan hengkangnya dua peneliti tangguh dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI (Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia). Mereka, Inez Slamet-Loedin dan Ines Irene Atmosukarto, hengkang ke luar negeri karena kurangnya dukungan pemerintah untuk kegiatan riset.

Inez Slamet-Loedin, saat masih di LIPI, sempat mengembangkan rekayasa genetika tanaman pangan padi untuk menghasilkan varietas tahan kekeringan dan banjir. Dia hengkang ke IRRI di Filipina, 1 Agustus kemarin.

Ines sudah berhasil menemukan cara membuat protein M2 yang terdapat pada virus flu burung, waktu masih di LIPI, namun karena pesimis melihat kondisi di Indonesia dia hengkang ke Australia sejak awal 2007. Saat ini Ines bekerja di sebuah perusahaan bioteknologi di Canberra yang bergerak di bidang penelitian pembuatan vaksin.

Menurut pengakuannya kepada Kompas (10/9), risetnya berpeluang dijadikan vaksin sintetis flu burung (H5N1). (Tamat)

================================================================

http://www.ayomerdeka.wordpress.com

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

11 Tanggapan to “Super Toy, Mainan Baru Presiden SBY (2)”

  1. galeshka Says:

    Sedihnya ini bukan cerita baru mas, bahkan dengan presiden yg science-minded spt SBY ini. Jaman saya SMA tahun 90’an seinget saya malah ada asisten profesor di Jepang disuruh pulang oleh Batan dan disini cuma disuruh ngajar komputer & bahasa inggris. Ngenes banget emang negara ini.

  2. fauzansigma Says:

    jadi, sepertinya presiden kita ini mencoba hal baru.. yah, coba2 buat rakyatnya. Pake duit rakyat pula, klaimnya yang mebumbungkan hati rakyat menjadikan rakyat kecewa berat ketika dihadapkan pada realita yang ada.. smoga pemimpin kedepan tidak begitu lagi..

  3. Odie Says:

    yang pintar disuruh bodoh, yang bodoh dibilang pintar…
    dasar Indonesia!!
    kapan mo maju???

  4. mikekono Says:

    ketika super toy dikritisi
    pembela SBY bilang……itu cenderung politisasi
    ahhhh….ada-ada saja,
    mbok sekali-kali, klo keliru ya ngaku aja

  5. lovepassword Says:

    Hik Hik, yang namanya riset, gagal itu kan biasa. Yang penting ada usaha untuk itu. Tetapi kalo memang merugikan petani ya sudah seharusnya pemerintah memberikan ganti rugi untuk petani yang mau jadi kelinci percobaan mereka.

    SBY bego ya ??? Iya sih memang kadang-kadang SBY bego. Tetapi sisi baiknya adalah SBY memberikan peluang yang sama untuk orang2 dari jalur pendidikan non formal.

    Saat ini dikotomi pendidikan formal non formal cukup besar. Dan masing2 sebenarnya punya kans yang sama untuk menyumbangkan solusi buat negeri ini.

    Orang non formal mungkin lebih kaya pengalaman. Orang2 formal mungkin lebih menang dalam teknis keilmuwan. Masing2 adalah aset, sehingga sama2 harus diperhatikan.

    Masalah pertanian saya rasa memang gak mudah dan butuh riset lama di banyak tempat. Soalnya mungkin bibit X cocok ditanam di tanah A sehingga sukses kemudian ditanam di tempat lain ternyata nggak cocok sehingga gagal. Jadi ini bukan soal yang terlalu sederhana. Memang butuh riset lumayan lama. Kalo ada klaim keberhasilan itu kan sifatnya parsial sehingga memang sebaiknya pemerintah hati2 dalam membuat pernyataan.

    Tetapi kalo ada kegagalan – yang pasti harus dipikirkan adalah Nasib petani. Artinya pemerintah dan Perusahaannya ya wajib bertanggung jawab dong.

    SALAM

  6. Robert Manurung Says:

    @ galeshka

    Yang Anda maksud adalah Iwan (lupa nama belakangnya), ahli fusi nuklir satu-satunya yang dimiliki Indonesia. Terakhir dia dikeluarkan dari Batan, dengan alasan melanggar disiplin kepegawaian.

    Kemudian, dengan hati yang remuk, dia terpaksa menerima tawaran bekerja di perusahaan raksasa Mitsubishi, Jepang. Masalah utama dia memang bukan sekadar punya pekerjaan, tapi dia sangat ingin membaktikan ilmunya bagi bangsa dan negaranya : Indonesia.

    Para birokrat di Batan sama sekali tidak merasa rugi dengan hengkangnya Iwan ke Jepang. Tapi, bangsa dan negara Indonesia sesungguhnya menderita kerugian besar, dalam bentuk braindrain. Kasus braindrain terbesar yang kita derita terjadi di sektor teknologi penerbangan, ketika ratusan tenaga ahli IPTN eksodus ke luar negeri.

    Ngenes banget, memang. Ngenes…

  7. debrajoem Says:

    sedihnya hidup dinegeri ini pak manurung,…tapi tetaplah dijalur,…merdeka Pak Robert Manurung.

  8. jaka Says:

    Jerman perlu perang dulu untuk mengalami “braindrain”. Indonesia? Memang sudah ditakdirkan untuk mengalami “braindrain”.😉 Saya sendiri akademisi, dan saya dukung para peneliti Indonesia untuk cari peliang mengembangkan ilmu dan mencari rezeki di luar negeri. Memang kita payah sekali dalam mendukung karier di bidang sains, kecuali kalau anda dekat dengan bos.

    Satu pesan saya untuk mereka yg ke luar: jangan lepas kewarganegaraan Indonesia anda: karena cuma itu satu2nya yg masih bisa kita lakukan untuk membesarkan nama Indonesia.

  9. Suyitmadi Says:

    Kita harus obyektif menilai prestasi sesorang. Saya sering berpikir, kalau saat ini bukan Sby presidennya, mungkin situasi lebih buruk. Coba hitung prestasi selama dia memimpin, masalah keamanan dalam negeri misalnya Aceh, Papua, Maluku, serta konflik horisontal yang rezim terdahulu sering terjadi, belum teroris yang sering beraksi di negeri ini. Juga lihat pertumbuhan ekonomi, nilai rupiah yang relatif stabil, dll. Sangat tidak adil jika memfonis pemerintahan Sby gagal hanya karena BBM naik. Kalau mau jujur siapapun presidennya akan melakukan hal yang sama. Biasanya orang yang didholimi itu doanya mustajab lho.

  10. pandai ngawur Says:

    kalau srd. joko penipu ya segera di hukum saja, tapi masalahnya semua yng berkomentar ini apa pernah melihat dan membuktikan teknologi pak joko? bagaimana kalau pak joko diberi kesempatan untuk membuktikan temuanya dibawah pengawasan negara ee siapa tahu pak joko memang bisa kan berarti ada peluang baik untuk negri ini bangkit.

  11. disillusioned1 Says:

    Brain drain disebabkan bukan hanya karena keingin kita para penilit untuk mencari rezeki tetapi lebih dari itu kita ingin mencari kenyamanan bekerja sesuai dengan keahlian kita…karena tentunya waktu dan dedikasi studi untuk mencapai PhD adalah dengan harapan bahwa apa yang kita dapatkan akan bisa kita sumbangkan…

    saya mengalaminya sendiri dan saya harap bahwa suatu saat negara kita akan menyadari bahwa inovasi dapat menjadi modal yang berarti….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: