Pemerintah Menyerah, Kita Semua Pengecut, Maka Biarlah Sidoarjo Tenggelam…

Ironisnya, rakyat kita gampang sekali dihasut dan diadu domba untuk saling menyakiti : FPI menyerang AKKBB, pendukung dua kandidat gubernur Maluku Utara saling gebuk, dan banyak lagi kasus semacam itu. Sebagian di antara kita bahkan begitu getol melakukan demo membela Palestina. Tapi, kenapa kita diam saja ketika saudara-saudara kita di Sidoarjo ditelantarkan, dipermainkan, dan dihianati ?

Oleh : Robert Manurung

LUMPUR panas Lapindo masih terus menyembur dari perut bumi, dengan volume 100.000 meter kubik setiap hari. Makin banyak desa yang tenggelam, termasuk di dalamnya sejumlah sekolah. Tapi, entah kenapa, kita semua tak peduli. Pemerintah pun sudah menyatakan MENYERAH, beberapa hari yang lalu.

Selalu ada dua kesimpulan, optimistik dan tidak. Kami mengambil opsi terburuknya, semburan tak bisa dihentikan,”kata Djoko Kirmanto, Ketua Dewan Pengarah Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS). Pernyataan BPLS dengan sendirinya adalah suara Pemerintah Republik Indonesia.

Pernyataan MENYERAH tersebut dikemukakan BPLS dalam dengar pendapat umum dengan Panitia Khusus DPR di Jakarta, Kamis (11/9). Dan esok harinya, harian Kompas menampilkannya sebagai headline atau berita utama di halaman satu, dengan judul : Kasus Lapindo, Pemerintah “Menyerah”.

Rapat di Gedung DPR itu dihadiri Tim Pengawas Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (TP2LS) DPR, Badan Pertanahan Nasional (BPN), Kementerian Negara Lingkungan Hidup, unsur pimpinan daerah Provinsi Jatim, dan unsur pimpinan Lapindo Brantas Inc.

Kompas kembali mengangkat Tragedi Sidoarjo sebagai headline pada edisi Sabtu (13/9). Memang, hanya Kompas yang berani, serius, dan konsisten menggugah perhatian publik terhadap tragedi yang sedang berlangsung di Sidoarjo.

Selebihnya, Pemerintah, lembaga-lembaga tinggi negara, semua parpol, ormas, seluruh lembaga agama, dan masyarakat lndonesia umumnya; tidak ada yang peduli pada nestapa Sidoarjo. Dan kini, semuanya tetap asyik di comfort zone masing-masing, ketika Pemerintah tanpa malu sedikitpun menyatakan MENYERAH.

* * *

RAPAT di DPR itu lebih mirip kongkow-kongkow daripada pembahasan malapetaka. Tidak ada tuntutan terhadap perusahaan milik Aburizal Bakrie itu. Lapindo hadir bukan sebagai terdakwa, tapi primus interpares.

General Manager Lapindo Brantas Inc Imam Agustino menyatakan, pihaknya telah mengupayakan secara maksimal, termasuk metode sumur penyelamat (relief well) dan insersi bola-bola beton. Namun, semua upaya yang menelan biaya hampir 1 triliun itu gagal.

Djoko mengakui, penanganan semburan lumpur secara teknis dan sosial sangat berat. Begitu juga upaya membangun infrastruktur seperti jalan tol pegganti, tidak mudah dilakukan, karena menghadapi kendala pembebasan lahan.

Rekomendasi TP2LS pun sangat lembek. Cuma menghimbau Lapindo segera melunasi pembayaran sisa ganti rugi kepada penduduk. Lapindo juga dihimbau jangan lagi membuang lumpur ke sungai Porong—karena sangat merugikan petani; tapi seyogyanya membangun kanal untuk mengalirkan lumpur langsung ke laut.

Tidak muncul desakan agar Pemerintah menyita semua aset Lapindo Brantas Inc, untuk digunakan membayar kompensasi buat para korban, dan mendanai upaya menghentikan semburan lumpur panas yang muncrat akibat ulah Lapindo itu.

Pemerintah, DPR dan parpol-parpol memang sudah lama bersekongkol membela Lapindo. Sebelum ini, mereka telah menetapkan, bahwa malapetaka yang menenggelamkan lusinan desa itu adalah bencana, dikaitkan dengan gempa bumi yang melanda DIY.

Yang menyedihkan, tak satu pun di antara tokoh nasional yang memprotes keputusan itu. Bisa diartikan, SBY, Jusuf Kalla, Megawati Soekarno Putri, Wiranto, Prabowo, Gus Dur, Sutrisno Bachir, Amin Rais, Sutiyoso, Sultan Hamengku Buwono X, Hasim Muzahdi, Din Syamsudin, Tifatiful Sembiring, Hidayat Nur Wahid, Akbar Tanjung, Meutia Hatta, Yusril Ihza Mahendra, Zenuddin MZ, Hamzah Haz mendukung keputusan yang merugikan penduduk Sidoarjo itu.

Kalau saja malapetaka itu ditetapkan sebagai akibat kelalaian pihak Lapindo (seperti diutarakan seorang pakar dari Inggris), maka para korban akan dapat ganti rugi, termasuk untuk tanaman dan makam. Tapi, karena dinyatakan sebagai bencana, penduduk hanya mendapat pembayaran “jual beli” secara terpaksa persawahan, pekarangan dan areal rumah mereka. Bukan ganti rugi.

* * *

BAHWA tragedi yang begitu nyata dan masih terus berlangsung di Sidoarjo; yang menghancurkan kehidupan banyak komunitas, keluarga dan individu; yang kerusakan dan kerugiannya masih sulit diukur karena terus bertambah; yang bisa melumpuhkan perekonomian Jawa Timur dan memukul perekonomian nasional; yang berpotensi menimbulkan krisis sosial, politik dan keamanan; namun, ternyata, tidak dapat menggugah kita untuk peduli, prihatin dan bereaksi, pastilah karena ada yang tidak beres pada diri kita.

Kita semua, tanpa terkecuali, sudah mati rasa, bebal, dan tak punya harga diri sebagai individu, dan sebagai sebuah bangsa. Kita semua adalah kumpulan orang yang menyedihkan, pengecut, munafik, dan simarjolma-jolma (zombi).

Kita sudah puas hanya menyalahkan Pemerintah, DPR, dan partai-partai politik; lantaran mereka telah menghianati amanat penderitaan rakyat di Sidoarjo, dan menggunakan simbol-simbol kenegaraan untuk membersihkan sepatu pemilik Lapindo Inc dari percikan lumpur panas Sidoarjo. Cuma itu yang kita lakukan, lalu masa bodoh.

Sesungguhnya, kita pun ikut bersalah, dan bertanggung jawab, karena telah membiarkan kekuasaan negara dilacurkan secara begitu hina. Kita telah melalaikan tanggung jawab untuk mengontrol penyelenggaraan negara, namun lebih penting lagi, kita gagal menunjukkan kepedulian, solidaritas, pemihakan dan pembelaan terhadap saudara-saudara kita yang menjadi korban Lumpur Panas Lapindo di Sidoarjo.

Ironisnya, rakyat kita gampang sekali dihasut dan diadu domba untuk saling menyakiti : FPI menyerang AKKBB, pendukung dua kandidat gubernur Maluku Utara saling gebuk, dan banyak lagi kasus semacam itu. Sebagian di antara kita bahkan begitu getol melakukan demo membela Palestina. Tapi, kenapa kita diam saja ketika saudara-saudara kita di Sidoarjo ditelantarkan, dipermainkan, dan dihianati ?

Iklan

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

6 Tanggapan to “Pemerintah Menyerah, Kita Semua Pengecut, Maka Biarlah Sidoarjo Tenggelam…”

  1. Speechles. Aku kan ngga terlibat. Aku kan bukan siapa-siapa. *cuci tangan* Says:

    Om4gus.blogspot.com

  2. sitijenang Says:

    suatu ketika, ribuan tahun yang akan datang, ada kisah melegenda. konon, di suatu masa ada sebuah daerah yang kaya raya, namun akhirnya tenggelam akibat kelaliman para penguasa. the lost city of sidoarjo, namanya.

  3. p.herry setyono Says:

    yang pasti, yang bersalah harus bertanggungjawab, mari kita perjuangkan itu..!

  4. dg.limpo Says:

    Banyak tragedi lain selain Lumpur Porong Sidoarjo dimana rakyat tidak mendapatkan keadilan itu, diantaranya tragedi teluk Buyat. Masalah lingkungan di negara ini tidak pernah mendapatkan porsi yang semestinya.

    Mungkin kalau anda mengatakan kita tidak peduli atau munafik, bisa jadi demikian. Kita kembalikan saja kepada diri kita masing-masing.

    –salam–

  5. bogel Says:

    Lalu…..? ada puluhan tulizan kyk gini bertebaran,tindakan real ‘kita’ apaan ? atau anda cukup berpuaz diri dengan menuliz geneee,kalo gitu kita podo wae om.Cuma anda ada lebihnya dari aku,wong aku cuma mbatin

  6. gandhos Says:

    Keterpurukan negeri ini sebenarnya sudah ratusan tahun yang lalu …. saudaraku. Tapi apakah kita menyadari hal itu? sebagai bangsa yang pernah menjadi Macan Asia? hingga berdiri Borobudur dll. Tetapi setelah itu kita dijajah, semenjak jatuhnya Majapahit …. Budaya kita telah berubah, dan bergeser menjadi budaya asing yang notabene ada ‘salesnya’ hingga sampai sekarang kita berbudaya ‘salesman’…. memang lebih mudah untuk mengatakan / memasarkan produk entah apalah (politik/religius/sosial) daripada unt membuat sistem yang baik … daripada mikir susah2 mending jualan saja hingga politik dagang sapi yang ujung2nya rakyat jua yang jadi korban ….. wake up man ….. REVOLUSI BELUM USAI !!!!! Revolusi diri sendiri hingga menciptakan keinginan seperti Kita Berbangsa dan Berbudaya !!!! Berpikir Merdeka demi Kejayaan masa lalu ….. Mojopahit !!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: