Surat Sukanto Tanoto Kepada Presiden SBY

Sukanto Tanoto adalah orang terkaya Indonesia tahun 2006 versi majalah Forbes. Taipan ini bertanggung jawab atas kehancuran hutan dan pencemaran lingkungan hidup di Tapanuli, Riau dan Sulawesi. Disinyalir, sudah beberapa tahun dia ngumpet di Singapura, namun masih bisa mengendalikan secara efektif puluhan perusahaan raksasa di Indonesia–yang umumnya bermasalah dengan hukum.

Oleh : Robert Manurung

SIAPA saja boleh mengirimkan surat ke Presiden. Itu soal biasa. Tapi, kalau yang berkirim surat adalah pengusaha yang bermasalah dengan hukum, dan apalagi jika surat tersebut masuk lewat jalur pertemanan; maka Presiden bisa dituduh “main mata” dengan pelanggar hukum. Itu sebuah skandal.

Di negara-negara maju, skandal semacam itu biasanya dihindari oleh pejabat presiden. Itu sangat sensitif dan bisa dijadikan senjata oleh lawan-lawan politiknya, dan oleh media massa, untuk menuduh presiden merongrong usaha-usaha penegakan hukum.

Kalaupun presiden sampai nekad menerima pendekatan dari orang-orang yang bermasalah dengan hukum; mungkin dengan pertimbangan strategis demi kepentingan yang lebih besar, atau sekadar politik balas budi; maka akan diatur secermat mungkin agar tidak bocor ke publik, dan tidak meninggalkan jejak atau bukti-bukti. Itu dianggap seni di dunia politik.

Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, memang belum ada konvensi umum mengenai masalah semacam itu. Aku menggunakan istilah “konvensi” sebab titik berat perhatian kita bukan pada aturan tertulis, tetapi lebih ke soal etika, kepatutan, atau bagaimana perasaan masyarakat mengenai hal-hal yang patut ataupun tidak patut dilakukan oleh Presiden.

* * *

SEKARANG, mari kita lihat kasus terbaru yang sedang hangat dibicarakan, yaitu terungkapnya surat Sukanto Tanoto kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Di luar pengetahuan publik, dan tidak tercatat dalam administrasi surat-menyurat di Istana Negara, diam-diam Presiden SBY telah menerima surat dari pemilik Asian Agri Group tersebut.

Dalam surat tertanggal 7 Januari 2008 itu, Sukanto meminta perlindungan Presiden dalam penyelesaian kasus dugaan manipulasi pajak senilai 1,3 triliun.

Salinan surat tersebut dipublikasikan Koran Tempo edisi kemarin (18/9), disertai hasil cross-check kepada berbagai pihak. Kesimpulannya, surat itu sampai ke tangan Presiden bukan melalui jalur resmi, melainkan jalur informal atau “pertemanan”.

“Tidak ada surat itu lewat sekretaris kabinet. Saya tidak berwenang menjawab itu,”ujar Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi kepada Koran Tempo di Purwokerto. “Saya tidak tahu soal itu, sungguh,”kata Juru Bicara Presiden, Andi Mallarangeng di tempat terpisah. Mensesneg Hatta Rajasa pun mengaku tidak tahu.

Lantas, lewat tangan siapa surat itu sampai ke tangan Presiden ? Bisa lewat siapa saja. Soalnya, jaringan kepentingan yang terbentuk di sekitar Presiden sangat beragam, luas, dan besar. Di sisi lain, kekuatan ekonomi, pengaruh, dan jaringan yang dimiliki Sukanto Tanoto sangatlah besar.

Kurirnya bisa saja diplomat asing, tokoh agama, wartawan, pengelola panti asuhan, ibu-ibu dharma wanita, atau aktivis LSM yang dianggap vokal. Orang Batak bilang : Hepeng do namangatur negara on ‘Duit yang mengatur negara ini’…

Sukanto Tanoto adalah orang terkaya Indonesia tahun 2006 versi majalah Forbes. Taipan ini bertanggung jawab atas kehancuran hutan dan pencemaran lingkungan hidup di Tapanuli, Riau dan Sulawesi. Disinyalir, sudah beberapa tahun dia ngumpet di Singapura, namun masih bisa mengendalikan secara efektif puluhan perusahaan raksasa di Indonesia–yang umumnya bermasalah dengan hukum.

* * *

ADA satu aspek yang sangat menarik, namun, kemungkinan besar bakal terlewatkan oleh media massa dan masyarakat umum. Secara bercanda bisalah kita katakan, ini merupakan kesempatan untuk memamerkan keunggulan blog, yaitu kesanggupan menyoroti hal-hal yang tidak bersifat hardcore—unsur-unsur yang subtil atau renik dari peristiwa penting; lantaran tidak terbatasnya halaman dan tidak terikat dengan tenggat atau deadline; dan, karena publikasi blog bersifat personal. .

Yang akan kita bedah adalah sifat surat Sukanto Tanoto kepada Presiden SBY; yang selain informal, juga bernuansa akrab–yang hanya mungkin dilakukan oleh orang yang telah sering bertemu dan saling mengenal dengan baik.

Selain itu tersirat pula dalam surat bergaya pribadi itu, dignity atau self confident yang besar pada diri Sukanto bahwa dirinya adalah seorang taipan, orang besar, anggota kasta tertinggi dalam hirarki masyarakat Indonesia yang kapitalistik; dan seorang tokoh yang telah melembaga dan tidak lebih rendah dibanding Presiden.

Tidak sebagaimana lazimnya, letterhead surat tersebut bukan nama perusahaan atau logo Asian Agri Group, melainkan nama Sekanto Tanoto–semuanya huruf kapital. Ini adalah manner surat pribadi ala Anglo-saxon yang ditiru oleh masyarakat kelas atas di Indonesia, dan dipakai dalam surat-menyurat dengan sesama mereka.

Pencantuman nama sebagai letterhead merupakan ekspresi kebangsawanan dan sekaligus untuk memberikan sentuhan pribadi pada penyampain pesan yang sebenarnya formal. Tapi, kalau kita perhatikan dengan cermat, ada hal yang tidak konsisten mengikuti manner ini, yaitu cara menyapa orang yang menjadi tujuan surat tersebut. Tertulis di situ,”Kepada Yth. Bapak Presiden Republik Indonesia”. Tidak disebutkan nama SBY. Lazimnya nama disebut lebih dulu, disusul jabatan.

Mengenai isinya, Sukanto Tanoto tidak merasa perlu menjelaskan posisinya di dalam Asian Agri Group; dan rincian masalah sedang yang dihadapi grup tersebut. Artinya, Presiden selaku penerima surat itu dianggap sudah harus tahu bahwa Sukanto Tanoto adalah pemilik grup perusahaan yang didakwa menggelapkan pajak senilai 1,3 triliun itu. Hebatnya lagi, dalam surat itu dia hanya satu kali menyebutkan Asian Agri Group, dan selanjutnya cukup dia sebut “perusahaan-perusahaan”.

Perhatikan pula salah satu kalimat dalam surat tersebut yang aku kutipkan berikut ini,”Oleh karena itu ijinkanlah kiranya kami mohon sudi kiranya Bapak Presiden berkenan memberikan kesempatan kepada perusahaan-perusahaan agar dapat membicarakan dan menyelesaikan permasalahan secara kondusif dengan Bapak Dirjen Pajak…”

Sukanto langsung menyebutkan Bapak Dirjen Pajak, untuk menunjukkan bahwa di situlah macetnya urusan Asian Agri Group—yaitu pada pejabat Dirjen Pajak yang tidak kooperatif. Lagi-lagi, dia tidak merasa perlu menyebutkan nama si Dirjen, karena toh Presiden sudah harus tahu, dan lantaran oknum Dirjen dianggap impersonal dan cuma sebuah fungsi atau tool yang diminta supaya disetel oleh Presiden !

* * *

URAIAN panjang ini sebenarnya cuma ingin menyampaikan opini sederhana seorang warga negara Indonesia, seorang blogger yang prihatin : seharusnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menolak surat Sukanto Tanoto yang disampaikan melalui jalur informal atau pertemanan.

Itu akan melemahkan program pemberantasan korupsi yang gencar dilakukan oleh KPK. Dan, bakal muncul cibiran bahwa citra angker KPK hanya berfungsi menakut-nakuti, untuk mendorong pengusaha-pengusaha bermasalah mohon perlindungan kepada Presiden—lewat pintu belakang Istana Negara.

Merdeka!

===================================================

http://www.ayomerdeka.wordpress.com

Iklan

Tag: , , , , , , , , , , , , , , ,

7 Tanggapan to “Surat Sukanto Tanoto Kepada Presiden SBY”

  1. iman brotoseno Says:

    sedikit banyak menunjukan selalu ada konspirasi pedagang dan penguasa / militer. Kita mengetahui banyak pengusaha sudah ” memelihara ” tentara sejak mereka masih kapten, atau kolonel..syukur syukur suatu saat mereka jadi jenderal.

  2. Anonim Says:

    lucu sekali wacana anda

  3. tanobatak Says:

    Apa yg tak bisa dilakukan Tanoto? Selagi uang yang berkuasa. Semasih rakyat Porsea melakukan tuntutan ke TPL salah satu anak perusahaannya brimob polri siap membentengi dan menganiaya rakyat. Milyaran uangnya habis untuk perang dengan rakyat. Habis kita dengan cara seperti ini. Sebaiknya KPK mengagendakan ini target segera

  4. blackenedwing Says:

    Satu bedahan yang menarik sekali pak 🙂

  5. jakatan Says:

    mungkin juga sukanto T tersebut memang perlu perlindungan, mengingat pejabat kita …. bila ada kasus, suka menggunakan kesempatan untuk memeras demi kepentingan pribadi…. ujung-ujungnya tawar menawar ….. lalu kalau harga sepakat ….. “setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata yang bersangkutan tidak bersalah, hanya salah prosedur” ….. alias dibebaskan, apalagi toh kita sendiri sudah tahu mental birokrat negeri ini gimana …. dikit2 minta di entertain, minta dilayani, minta dihormati, minta di sogok,

    bagi presiden, sebaiknya bila memang ada pemasukan bagi negara (yang seharusnya dibayarkan)…. dan tidak menyalahi hukum, yah tidak apa, sepanjang untuk kepentingan umun yang lebih besar. bagaimanapun pengusaha masih dibutuhkan untuk menggerakkan roda perekonomian negeri ini ….. hanya saja moralnya harus diperbaiki.

    salam.

  6. Robert Sianipar Says:

    Menurut saya Sutanto tanoto memang salah menggelapkan pajak. cuman harus ingat di indonesia siapa sih yg tidak menggelapkan pajak. saya yakin pejabat perpajakan dan pemerintahan sendiri juga demikian. Ya, kalo pemerintah bersih kaya singapura ya boleh deh di hukum sutanto tanoto. liat aja negara kita sendiri.. paling nga solusinya kasih keringanan deh.. di denda yang sepantasnya. kalo sampe 1.3 trilliun sih keterlaluan. sama dengan suruh perusahaannya bangkrut.

  7. miftah Says:

    mohon informasinya ttg cara mngirim surat kpd Pak Presiden karena saya sedang memperjuangkan hak kakek saya yg notabene adalah pejuang 45 yg hampir2 tidak pernah mendapatkan hak dan penghargaan dari negara.bahkan semasa orde baru beliau pernah difitnah hingga harus dipenjara selama 11tahun!sekarang beliau masih hidup dan sudah berusia 81 tahun.

    saya sangat berharap ada yang bisa membantu saya dengan mengirim imel ke alamat mif_tronics@yahoo.com. saya ucapkan banyak2 terimakasih sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: