Lomang ( Bukan Ketupat! ), Ciri Khas Lebaran di Tapanuli Selatan

Dan, buat kami yang memiliki keluarga dengan agama yang berbeda, ada nuansa lain yang membuat kebersamaan itu terasa lebih indah, sebab mereka juga datang dan turut membantu kami. Bahkan saat hari masih pagi sekali, saudara-saudara kami yang beragama Kristen sudah datang, dengan semangat gotong-royong ikut menyiapkan perayaan Idul Fitri…

kulinerkita.com

LOMANG. foto : kulinerkita.multiply.com

Oleh : Halida Srikandini boru Pohan

Huaaaaaaaaaa…. lebaran bentar lagi...Baju baru… sepatu baru… kue sopit… kombang loyang…Semua sudah siap….

Tapi, ada satu hari yang penuh kenangan di hari terakhir puasa di Sipirok na soli banua na sonang….

Ach… rasanya ingin segera datang tanggal 27… biar bisa segera menghirup aroma khas Sipirok … oiiss leh Sipirok.. ama na lungun hulala mulak tu sadun…( ooohhh sipirok… rindu banget kurasa kembali kesana… )

Setiap menjelang Lebaran, ada dua kegiatan seru di Sipirok (Sumatera Utara) yang pasti selalu dikenang oleh anak rantau, yaitu mangalomang atau memasak alomang (lemang), dan marbante (baca : marbatte)

Mangalomang

Berbeda dengan tradisi umum di Indonesia, di mana hari raya idul fitri identik dengan ketupat/lontong, Lebaran di Tapanuli Selatan lebih identik dengan alomang (Sipirok)/lomang (Mandailing). Perayaan Idul Fitri di sana tidak lengkap rasanya, jika tanpa alomang/lomang.

Selain karena kelezatannya, alomang/lomang menjadi spesial banget dan selalu dirindukan lantaran kentalnya kebersamaan waktu membuatnya. Sejak merencanakan, sampai kemudian mencicipi alomang/lomang hasil kolaborasi mereka, keluarga-keluarga–dan kadang-kadang ikut juga tetangga—menikmati kebersamaan yang langka dalam suasana penuh canda.

Sejak subuh, para ibu dan anak gadisnya sudah marhutintak(sibuk dan heboh) di dapur, mulai dari urusan manghurhur harambir (memarut kelapa), mamoro santan (memeras kelapa menjadi santan), marsege sipulut ( menampi ketan), dan lain-lain. Sedangkan para bapak dan anak laki-laki mengerjakan bagian mereka di luar rumah; menyiapkan bulu alomang (sejenis bambu dengan ruas yang panjang dan tidak terlalu tebal ataupun terlalu tipis); membuat tungku; dan menyalakan api untuk memanggang lomang.

Seusai menyiapkan semua itu, biasanya para bapak dan anak laki-laki yang sudah mulai dewasa (poso-poso) berangkat ke poken/onan-bahasa Toba (pasar) untuk urusan marbante. Kaum perempuan merampungkan pembuatan alomang/lomang, mulai dari memasukkan daun pisang ke dalam tabung bambu, mengisinya dengan sipulut dan santan, kemudian memanggang bambu tersebut di atas bara. Supaya matangnya tepat dan benar-benar gurih, lamanya lomang dipanggang sekitar setengah hari.

Cara menikmati alomang/lomang ini yang paling mantafffff adalah dimakan bersama tangguli (cairan kental yang rasanya manis dibuat dari air nira/tuak) atau lebih nikmat lagi dimakan bersama rondang (rendang)… hmm… nyammmmmyyyyyyy…. alaaahhh lehhhh gabe manetek doma dongdong hu mambayanghonna (jadi menetes deh air liurku membayangkannya)

Selain dengan tangguli dan rondang, ternyata, alomang/lemang enak juga dimakan dengan selai srikaya. Aku mengetahui resep ini pas kami tidak pulang kampung ke Sipirok dan berlebaran di Jambi… molo on dabo malo malo ni halak kota ma on gorar na hehehe…( kalo yang ini sih pintar-pintarnya orang kota ajalah)

Setelah menikah dengan marga NASUTION dari Mandailing, baru kutahu kalau alomang/lomang nikmat juga disantap dengan sirup merah produk Sumut–kalo tak salah mereknya Kurnia.

Ach ternyata… alomang ini nikmat disantap dengan apa saja… tangguli, rondang, selai srikaya, sirup merah; semuanya klop…

Yang paling kusuka dari alomang/lomang ini adalah bagian ujung yang paling lunak, rasanya gurihhhh…karena di situ sari santan berkumpul. Dari dulu sampai sekarang, tiap makan alomang/lomang… bagian itu pasti jatahku …tak boleh diganggu gugat, walopun sekarang marlebaranna di rumah mertua, bukan di rumah ompung lagi hehehehe…

Marbante

Marbante ini kalo diIndonesiakan artinya (mungkin) berbantai. Seremmm yahhhhh…

Marbante adalah tradisi lama di luat Tapanuli Selatan, biasanya dilaksanakan sehari menjelang Lebaran. Beberapa sumber yang “kuinterogasi” memastikan, tradisi marbante terdapat di seluruh wilayah Tapanuli Selatan ( Sipirok, Padangbolak, Angkola, Sidempuan dan Mandailing).

Kenangan marbante biasanya lebih dinikmati kaum laki-laki (para ayah dan angka poso-poso i Sipirok). Tapi, kalo kuingat cerita uda sepulang dari marbante; bayangannya sangat menyenangkan dan seru; entah karena suasananya memang seperti itu atau karena udaku itu pandai bercerita–penuh semangat, sehingga aku terpesona…

Husttt… jangan berpikir macam-macam dulu tentang urusan bantai-berbantai ini. Sangat jauh dari urusan kekerasan ataupun kerusuhan. Malahan, supaya untung dalam berbantai, harus jeli dan pintar menaksir…

Penasaran kan….?

Sebenarnya, marbante ini adalah urusan niaga, yaitu jual beli daging kerbau/sapi. Tapi, berbeda dengan di daerah lain yang umumnya menjual daging kerbau/sapi per kilogram, di Tapanuli Selatan daging sapi atau kerbau dijual utuh 1 ekor atau minimal 1 paha.

Nah, di sinilah keahlian taksir-menaksir benar-benar diandalkan, karena biasanya harga 1 paha itu sama semua atau harga 1 ekor itu sama semua. Jadi, kalo kita pintar menaksir berat daging itu, bisa lebih murah daripada harga pasaran yang diukur pakai timbangan. Namun, bisa juga sebaliknya, menjadi lebih mahal.

Kalo sampai kejadian salah taksir, misalnya lebih banyak tulang daripada daging, siap-siaplah diomelin sa-ompu (keluarga besar) begitu sampai di rumah. Kebayang kan kek mana diomelin sama boru Siregar … (rata-rata pria di Sipirok istrinya boru Siregar lho… ) Rasanya gatal-gatal mulai dari kuping sampai ke jempol … wakakakakakak. maaf mama… please jangan melototin aku kek gitu yahhhhh …

Karena marbante ini membeli dagingnya dalam jumlah besar, biasanya untuk keperluan beberapa keluarga yang masih satu ompung, maka setelah tiba di rumah para lelaki dalam keluarga besar itu langsung gotong-royong mengurusnya. Mereka memotong-motong daging itu dan memilah-milah mana yang untuk irondang (direndang), isambolon (disambal) ataupun isop (disop).

Selagi kaum laki-laki membereskan daging-daging itu, kami yang perempuan pun sibuk menyiapkan bumbu-bumbu; mulai dari menggiling bumbu untuk rendang, cabe, manghurhur harambir, mambaen (membuat) ombu-ombu, mamoro santan dan lain-lain.

Biasanya, masing-masing sudah punya semacam spesialisasi… Mamaku paling jago urusan bikin bumbu rendang dan sop, nanguda urusan sambal daging. dan para ujingku (adik perempuan ibu-etek(Mandailing)) langsung ambil jurus manghurhur harambir, mamoro santan, mambaen ombu-ombu.

Ombu ombu adalah kelapa parut yang digongseng sampai coklat keemasan lalu ditumbuk halus sampai mengeluarkan minyak. Biasanya ini jadi bumbu pelengkap masakan yang menggunakan santan, misalnya rendang atau gulai ayam.

Setelah beres memilah dan memotong-motong daging, biasanya kaum laki-laki menyiapkan dalihan (tungku) dan soban (kayu bakar) untuk memasak. Oh yah, kegiatan memasak rame-rame ini dilakukan tidak di dalam rumah, tapi di halaman samping atau halaman belakang.

Selain urusan menyiapkan dalihan, kaum laki-laki juga bertanggung jawab menjaga api, dan mengaduk-aduk masakan sampai matang.

Islam-Kristen gotong-royong

Suasana saat memasak terasa sangat indah. Kerukunan keluarga nyata terlihat. Dan, buat kami yang memiliki keluarga dengan agama yang berbeda, ada nuansa lain yang membuat kebersamaan itu terasa lebih indah, sebab mereka juga datang dan turut membantu kami. Bahkan saat hari masih pagi sekali, saudara-saudara kami yang beragama Kristen sudah datang, dengan semangat gotong-royong ikut menyiapkan perayaan Idul Fitri…

Sambil memasak, senda gurau tak pernah berhenti… dan kadang saling mengingat kenangan masa kecil bersama, yang kemudian dijadikan bahan saling marsiarsakan (saling goda). Dari situlah aku jadi tahu, kek mana amang tua waktu muda…kek mana uda waktu muda.. hahahah jadi pada terbuka kartunya

Masih seperti inikah di Sipirok sekarang ?
Semoga keindahan seperti ini tak lekang oleh waktu…

======================================================

Sumber : blog tobadreams

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

25 Tanggapan to “Lomang ( Bukan Ketupat! ), Ciri Khas Lebaran di Tapanuli Selatan”

  1. fickry Says:

    wah…mana foto alomang..kyk apa bentuknya???

  2. Muda Bentara Says:

    Jika ditanah batak ada Lomang , maka di tanah aceh ada Lemang …. cuma berbeda tutur nama sahaja, akan tetapi bentuknya juga sama …. sungguh indahnya Indonesia ….. hai tetangga … kenal kan diriku Muda Bentara .. tetanggamu dari Aceh …. , kita satu tanah bukan >?

  3. tatianak2 Says:

    Jadi ingat kalo pulang buat ngerayain tahun baru di sipirok.. Sore hari tanggal 31 desember, saya dan saudara2 yang saat itu masih anak2/remaja ditugaskan opung untuk ngantar piring yang diikat pake serbet ke rumah saudara-sudara kami yang muslim. Piringnya diisi dengan kue2 dan lemang..

    Lalu pada tanggal 1 januari, sepulang kebaktian di gereja, opung akan mengadakan jamuan makan siang yang dihadiri juga oleh sanak family yang muslim…

  4. paman tyo Says:

    idem sama fickry, mana fotonya tapi dengan catatan mana buktinya untuk saya cicipi?🙂

  5. anggavantyo Says:

    waw.. panjang banget postingnya, keren🙂

  6. Didta Says:

    bentuknya gimana y? enak nic

  7. stenlymandagi Says:

    “Islam-Kristen gotong-royong”

    alangkah indahnya jika indonesia bisa hidup rukun.
    Keindahan seperti itu juga bisa saya rasakan di Manado. Pasti besok teman2 pemuda kristen bahu membahu menyiapkan tempat shalat ied dan menjaga keamanannya….begitu pula bila natal dan paskah tiba, sahabat2 pemuda remaja masjid pasti yang gantian menjaga keamanan di sekitar gereja…

    “torang samua basudara”

  8. satya sembiring Says:

    aku mau lemang itu…
    taruk lah dulu di piring biar ku makan di hari lebaran ini

  9. kangtutur Says:

    Wah… keren kalo gitu…Lebaran di sana…

    Kalo, Lomang Tapei ado ndak? :ngiler:

  10. anak jalanan Says:

    mantap sekali tulisan kw ini laek…
    btw, salam kenal yaks😉

  11. blackenedwing Says:

    Sepertinya alomang mirip dengan lemang di Minangkabau, minus tangguli tentunya🙂

  12. srikandini Says:

    alomang/lomang = lemang = lamang

    mungkin kalo di amati lagi, makanan ini bukan cm milik orang tapsel tapi juga ada di sumbar, dan aceh . selain itu juga di kenal hampir di seluruh pulau sumatra .
    hanya saja mungkin cara menikmati lomang/lamang/lemang ini yang berbeda, ada yang pake tapai ketan hitam, ada yang pake tangguli…🙂 makanya ku katakan, makanan ini di santap bersama apapun tetap nikmat ….

    @ fickry

    gambar lomang … ntar ku kirim lewat ito RM yah…

    @ muda bentara

    benar banget bro… n salam kenal dari boru batak keren from sipirok buat saudara ku di tana aceh ….

    @ tatianak2

    horas eda…

    suasana seperti itu yang selalu bikin rindu ku pada sipirok makin menggebu gebu.

    @ paman_tyo

    mau cicipin lomang ??? ketangerang deh!!! aku dengan senang hati akan menyajikan lomang lengkap ma tangguli dan rondang🙂

    @ ALL

    andai kerukunan antar umat beragama ini, bisa terjalin abadi di semua wilayah se NKRI, mungkin takkan ada lagi tragedi POSO dan sejenisnya.

    Agama hanya cara umat memuja dan menjalankan perintah Tuhan yang Satu.

    kenapa harus di jadikan jurang pembeda???

    semoga tak pernah adalagi tragedi2 yg berkedok agama !!!

    SALAM DAMAI…

  13. SYAHRUL HANAFI SIMANJUNTAK 15 Says:

    @ tatianak2
    Nah ini dia namanya istilah “manyambar” …ngantar piring yang diikat pake serbet ke rumah saudara-sudara kami yang christiani. Piringnya diisi dengan kue2 dan lemang…hmmmm enak kali bah Lomang dimakan sama dengan buah ‘tarutung’, tapi jangan banyak2 nanti perut bisa ronyangon hehehehe

    @Stenlymandagi
    Yoi Bung! makanya dari dulu pengeeen banget ke Manado tapi belum kesampaian sekalian mau menikmati taman laut Bunaken hehehehe

    Horas…torang samua basaudara

  14. A. S. Siregar Says:

    Saya punya suatu usulan bahwa wilayah Tapanuli Selatan (sekarang tapsel, palawas, angkola-sipirok, pd sidempuan, madina dan sebagian labuhan batu) harus MERDEKA dan LEPAS dari PENJAJAHAN Indonesia!!!

    Kemerdekaan bagi bangsa Tapsel insyaallah akan membawa berkah lebih baik bagi wilayah dan rakyatnya. Ini mengingat hasil kekayaan alam yang cukup bagi bangsa Tapsel untuk dikelola dan perbedaan budaya antara Tapsel dengan Indonesia (baca : Jawa).

    Horas!!! Merdeka Tapanuli Selatan!!!!!!!!!!!!!

  15. Y. Murni Manurung Says:

    @A.S Siregar
    nggak yambung lae
    jangan jade provokator

  16. Maulina br sirait Says:

    Jadi ingat suasana di kampung toleransi antar umat beragama masih terjalin baik…. lihat photo lomang nya jadi kepengen makan lomang.

  17. M. A. Nasution Says:

    Saya setuju dengan lae A. S. Siregar. MERDEKALAH TAPANULI SELATAN!! MERDEKALAH BATAK MANDAILING!!!!!!!!!
    Kami sudah muak dianggap sama dgn halak toba yang kasar. Kami juga tidak suka kemunafikan Jawa.

    M. A. Nasution – Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan

  18. St Pulungan Says:

    Saya sebenarnya mendukung kemerdekaan Tapsel dari Indonesia. Saya juga tidak suka sama org2 Jawa. Namun apakah yang akan kita lakukan nanti jikalau sudah merdeka?
    Saya rasa masih sulit untuk lepas dari Indonesia. Walau saya mendambakan Tapsel menjadi negara sendiri, terlepas dari tangan2 kotor org2 Jawa, saya rasa Tapsel masih berada dalam kekuasaan Indonesia untuk beberapa tahun kedepan.

    Wassalamualaikum.

  19. Robert Manurung Says:

    @ AS Siregar
    @ M.A Nasution
    @ St Pulungan
    @ Semuanya

    Sampai batas tertentu aku dapat mengerti dan menghargai hal-hal yang mungkin dianggap kontroversial, misalnya keinginan untuk merdeka. Sebisa mungkin aku akan jadi pendengar yang baik. Prinsipku : meskipun aku tidak setuju dengan yang engkau katakan, aku akan berusaha supaya engkau didengarkan.

    Tapi, karena topik artikel ini adalah mengenai lomang, dan di sisi lain aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak menyensor komentar yang masuk; maka aku anjurkan jangan lagi mengirim komentar yang tidak relevan dengan artikel ini.

    Komentar Anda semua bukan lagi sebagai protes tapi sudah berupa propaganda. Lebih baik bikin blog sendiri dan promosikan ke blogsphere. Maaf, aku terpaksa melakukan hal ini karena aku sendiri secara tegas menolak separatisme.

    horas

  20. Zulfahri Says:

    Lomangnya..bah..bungkus satu ya ama aku

  21. Syahrul Hanafi Simanjuntak S.15 Says:

    @Zulfahri

    LOMANGnya pake panggelong ga ini bos?
    Udah pernah coba makan lomang pake tarutung pahae alamaaaak nikmat kali puang!
    Oya dulu waktu aku di Sipirok makan nasi pake durian loh, sekarang masih sering kulakukan jika musim durian tiba, orang2 pada heran hahahaha

  22. Zulkifli Harahap Says:

    Di Sidimpuan “marbante” itu tidak lagi membeli per bagian tetapi sudah diecer per kg. Jadi “marbante” hanya untuk mencegah agar orang tidak memadati “parbantean” (los penjual daging) dan untuk mengimbangi permintaan akan daging yang melonjak. Oleh karena itu, “marbante” bukan saja lagi menjelang “ari rayo” tetapi juga sehari sebelum “puaso.”

    Lemang juga menjadi makanan utama pada waktu “pesta besar” di daerah Karo. Bahkan, (1982-an) suasana “mangalomang” itu lebih meriah di Karo daripada di Sidimpuan. Kita bisa singgah di mana saja untuk mencicipi lemang yang masih hangat; saya belum pernah merasakannya di Sidimpuan (1971 ke bawah). Di kampung yang saya kunjungi di Karo, hampir setiap rumah ada yang memasak lemang sehingga suasananya seperti pesta api.

  23. Zulkifli Harahap Says:

    Medeka? Mau jadi presiden negara Tapanuli Selatan? Sebelum sampai ke sana, tolong diatur dulu agar jangan mau mencoblos partai Orba dan partai si El Amin si koruptor itu karena partainya juga termasuk partai Orba. Sebelum bisa, merdeka itu mustahil . . . .

  24. said_tiena Says:

    http://www.muslimbatak.blogspot.com y

  25. Rahmad Hidayat Sinaga Says:

    wei teman2 orang batak..
    ingat!! garuda di dada kita..
    tidak ada perbedaan antara batak toba, mandailing, ataupun jawa..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: