Obama, Bung Karno dan Anwar Ibrahim

Anwar bicara tentang rezim yang zalim dan harus ditumbangkan, Obama tentang petualangan merebut masa depan. Dua topik besar itu bisa kau dengarkan dalam rekaman lama pidato-pidato Bung Karno, dan kemudian lihatlah karya-karya besarnya : Pancasila, Republik Indonesia, nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda, dan serangkaian kisah percintaan yang romantis. Semuanya itu mustahil bisa disamai oleh Anwar Ibrahim dan Barack Obama.

Oleh : Robert Manurung

BARACK OBAMA adalah anak zaman digital, di mana kenyataan aktual tumpang tindih dengan realitas virtual. Dia lahir dari rahim budaya pop, kapitalisme berjubah humanisme, diplomasi senjata, dominasi perusahaan-perusahaan transnasional atas Dunia Ketiga, penjajahan yang anggun dengan label pasar bebas, hedonisme bertopeng agama, dan massa yang malas berpikir lebih jauh dari nanti malam.

Obama adalah penghibur yang jenaka, dan naif, di panggung politik Amerika yang mirip Broadway. Di sana, impian rakyat seolah bakal terwujud, meski selalu harus disadari pada akhirnya, pemenang sejati adalah modal. Rakyat cuma figuran, penonton, dan korban.. Selalu begitu sepanjang masa.

Obama adalah Kennedy tanpa Frank Sinatra, Marylin Monroe, Al Capone, Fidel Castro dan Uni Soviet. Kennedy muda naik panggung kekuasaan ketika rakyat Amerika suntuk dengan kebebasan yang hampa; ketika sensasi bercinta di semak sambil nyetun ganja mulai terasa biasa; dan ketika rakyat mendambakan genre baru yang heroik. Kennedy meniupkan harapan tentang zaman baru, Camelot, meski tak jelas betul seperti apa.

Daya pikat Obama adalah tongkrongannya yang nyantai, gaul, dan seperti orang kebanyakan. Dia adalah Kennedy plus rasa humor, tapi minus mentalitas pemenang dan seni politik anglo-saxon. Dia personifikasi impian kelas pekerja Amerika untuk mengendalikan negara, mengontrol modal, dan membersihkan citra Amerika yang berdarah-darah.

Rakyat Amerika sudah lelah dengan perang yang tak perlu, not my war, dan lebih suka merayakan heroisme Amerika lewat kemenangan The Dream Team di lapangan basket. Tetapi, jika Obama terpilih menjadi presiden, rakyat yang sama akan bertepuk tangan seandainya dia mengirim tentara ke Papua untuk melindungi Freeport. Roti dulu dong, baru demokrasi, dan HAM!.

* * *

BUNG KARNO juga anak zamannya, ketika kolonialisme mati suri akibat pembusukan dari dalam. Dia lahir di masa transisi, di mana datangnya zaman industri telah menimbulkan kebutuhan yang berbeda. Penjajahan tak lagi harus berupa penjarahan dan kolonialisme yang kasar.

Kapitalisme swasta tumbuh bagai jamur di Detroit, Yorkshire, Solingen dan pusat-pusat industri lainnya di Eropa Barat dan Amerika Utara. Terbit kesadaran baru bahwa negara-negara jajahan akan lebih menguntungkan jika dimanfaatkan sebagai pemasok sumber daya alam, sekaligus pasar. Belakangan bertambah satu lagi keuntungan buat Barat : buruh murah Dunia Ketiga.

Raja-raja industri baja dan bir di Amerika muncul sebagai penguasa dunia baru. Mereka suka mengenakan topi baseball. Bukan mahkota dari emas. Tapi, imperium mereka jauh lebih besar daripada kerajaan manapun yang pernah ada.

Bung Karno tahu itu dan memanfaatkannya dengan cerdik. Dia mencuri peluang dan momentum pada saat kapitalisme ganti pemain dan menukar kostum, dari kapitalisme negara menjadi kapitalisme swasta; dari bentuk penjajahan langsung ke imperialisme gaya baru lewat penguasaan modal, teknologi, dan pasar.

Bung Karno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, mendirikan negara dan sekaligus bangsa baru di atas puing-puing ratusan kerajaan lama yang berlumut. Dia memberikan harga diri kepada kumpulan suku-suku yang terlanjur meyakini bahwa menjadi pelayan Belanda adalah sebuah kehormatan.

Itulah bedanya dengan Obama yang digendong oleh publik ke tampuk kekuasaan. Bung Karno adalah anomali di tengah bangsanya sendiri. Liberator yang “disalibkan” karena rakyat sudah nyaman dengan kehidupan sebagai budak. Rakyat perlu makan nasi, bukan kemerdekaan yang identik dengan tiwul.

Sejak semula Bung Karno sudah tahu musuh utamanya bukanlah kolonialis Belanda yang sudah sempoyongan, tetapi kapitalisme yang mengintip dari belakang punggung sinyo-sinyo tambun itu. Oleh karena itulah BK tidak tertarik main “perang-perangan” seperti para laskar.

Bung Karno adalah manusia self-made dengan sejumlah kualitas yang tak dimiliki oleh angkatannya. Meski bolak-balik masuk penjara Belanda, dia tidak mengasihani diri. Selain karena ikhlas demi kemerdekaan bangsanya, tampaknya dia sudah mampu menganalisis dengan jitu bahwa kapitalisme baru akan dengan senang hati merubuhkan kolonialis Belanda untuk selamanya, demi kepentingan mereka sendiri.

Puluhan tahun kemudian setelah Indonesia merdeka, saat dia mulai lelah menghadapi rongrongan para kapitalis itu; Bung Karno niscaya menyadari mereka memang lebih cerdik–karena bisa memanfaatkan para serdadu yang tak sabar hidup miskin. Moncong senapan yang tadinya diarahkan ke Malaysia kemudian ditodongkan ke arah BK, karena kaum kapitalis telah membisikkan di telinga Soeharto dan para serdadu bahwa gunung-gunung batu di Timika bisa diubah jadi nasi, dan dominasi.

Bung Karno adalah puncak Himalaya jika dibandingkan dengan Obama yang lebih mirip pohon perdu paling tinggi di kerimbunan semak.

* * *

ANWAR IBRAHIM adalah anak zaman lainnya. Bintang paling cemerlang di langit perdaban Melayu Malaysia yang kemudian dipadamkan oleh kaumnya sendiri. Dia ahli ekonomi, asisten utama Dr Mahathir Mohammad, sang arsitek kemajuan ekonomi Malaysia pasca kemerdekaan. Dengan kata lain, Anwar adalah muridnya Mahathir yang dikader sejak muda dan dipersiapkan sebagai penggantinya.

Anwar baru saja memenangkan kursi parlemen melalui pemilu sela, dan sudah sesumbar akan menjadi PM pada pertengahan bulan ini. Buat sebagian rakyat Malaysia, boleh jadi Anwar memang diharapkan memimpin bangsa itu ke zaman baru; ke alam demokrasi yang belum pernah mereka nikmati sejak kemerdekaan. Sedangkan buat sebagian lainnya, Anwar hanyalah “anak UMNO” yang gagal dan menyempal.

Berbeda betul dengan Bung Karno yang menjadi matang dan makin tangguh oleh pengalaman di penjara, Anwar selepas dari bui malah menjadi rapuh , sentimentil, dan mengasihani diri sendiri. Dia senang memamerkan lukanya, untuk menunjukkan betapa menderitanya dia.

Anwar tidak bicara mengenai Malaysia yang lebih beradab. Tidak juga mengenai kedaulatan di bidang ekonomi. Boleh jadi, dia memang pengikut sistem kapitalisme. Dan lihatlah, dia tak peduli sedikit pun, meski di depan matanya terjadi perbudakan terselubung terhadap TKI.

Anwar juga tidak bicara mengenai rekonsiliasi dan perdamaian seperti halnya Mandela. Alhasil, dia menciut hanya jadi tokoh Malaysia, atau bahkan cuma pemimpin koalisi pragmatis Pakatan Rakyat. Pangkal soalnya, Anwar hanya peduli satu hal : jabatan PM.

Seandainya Anwar akhirnya menjadi PM, dan sebaliknya Obama gagal menjadi presiden, ketokohan Obama tetap akan lebih membekas di hati banyak orang. Obama menjadi tokoh bukan lantaran skandal politik, tapi karena caranya yang populis dan naif dalam usaha meraih kekuasaan. Sebaliknya, Anwar menjadi tokoh adalah lantaran kehilangan kekuasaan, dan teraniaya.

Anwar bicara tentang rezim yang zalim dan harus ditumbangkan, Obama tentang petualangan merebut masa depan. Dua topik besar itu bisa kau dengarkan dalam rekaman lama pidato-pidato Bung Karno, dan kemudian lihatlah karya-karya besarnya : Pancasila, Republik Indonesia, nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda, dan serangkaian kisah percintaan yang romantis. Semuanya itu mustahil bisa disamai oleh Anwar Ibrahim dan Barack Obama.

Merdeka!

* * *

(Esei sederhana ini aku dedikasikan buat orang-orang yang selalu berani berpikir dan bicara merdeka : rastom (Malaysia), Taufik Lubis (Jerman), Butet Manurung, Maylaffayza, Limantina br Sihaloho, Ersis W. Abbas, Caroline Pintauli br Purba, Saut Sirait, Monang Naipospos, Riris br Pardede, Sawali Tuhusetya, Suhunan Situmorang, Giyanto, Toga Nainggolan, Hana Fransiska, Alvin Nasution, Seno Gumira Ajidarma, Marudut Pasaribu, Ulan, Grace Siregar, Aris Susanto (esensi), Danalingga, Rikardo Siahaan, Mirza Buchori, Ghita Devie, Lidya br Hutagaol, Guhpraset, Singal, Mula Harahap, santribuntet, Neta’s Pane, sitijenang, Ibnu Avena Matondang, Ayu Utami, Halida Srikandini br Pohan, Mualafmenggugat, Jarar Siahaan, Wimar Witoelar, Charly Silaban, blogombal, Saut Sirait, Kennortonhs, gelandangan, Denny Sitohang, coretan pinggir, Kartun Batak, Charlie M Sianipar, daeng limpo, Frater Tello, Laris Naibaho, Stenly Mandagi, Jhonson Panjaitan, kucingkeren, anagustini, retorika, gloria limbong, Iman Brotoseno, Teguh Timur, Kartun Medan, dongeng geologi, Tulus Sibuea) .

Iklan

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

14 Tanggapan to “Obama, Bung Karno dan Anwar Ibrahim”

  1. lovepassword Says:

    Tapi toh akhirnya kapitalisme yang selalu menang . Bung Karno pun tumbang bukan ? Siapakah pemimpin yang benar bisa melawan kapitalisme ? Bukan cuma sekedar retorika – bukan cuma sekedar mewujudkan kapitalisme dalam modelnya yang lain ??? Siapa coba ? Ada ide bos ???

  2. Bambang SP Sukarno Sakti Says:

    Salut, Buat Bang Manurung
    Pekerjaan saya Dosen Ajaran Bung Karno Univ.Bung Karno HP.0812.111xxxx

  3. Bambang SP Sukarno Sakti Says:

    Obama Pemimpi yang ingin jadi Presiden Kulit Hitam Pertama
    Anwar Ibrahim Lagi Coba berjuang di negeri Persekutuan Kapitali
    Bung Karno sdh Wafat tp pemikirannya hgg saat ini belum wafat krn masih trus u digali dan diamalkan pd repblik ini o Pasukannya

  4. fauzansigma Says:

    jadi memang luar biasa benar Bung Karno itu. Seorang pendiri negara ini, yah.. Beliau adalah pendiri negara ini. Sy pikir kalo Obama dan Anwar membaca benar2 biografi dan langkah perjuangan Soekarno, pasti akan sangat inspiratif dan ikut salut terhadap perjuangan bangsa ini.

  5. Sawali Tuhusetya Says:

    Obama, Bung Karno dan Anwar Ibrahim, memang tokoh yang dibesarkan oleh zamannya. meski demikian, mereka punya karakter yang berbeda. sungguh, bukan hal yang mudah menemukan sosok2 bersejarah tersebut. yang aku kagumi dari mereka adalah semangat kenegarawanan yang selama ini nyaris sulit ditemukan pada pemimpin2 sekarang yang rata2 sdh terkena limbah politik. semangat mereka bukan semangat kerakyatan, melainkan lebih pada semangat politik utk membesarkan kepentingan politik kelompoknya. waduh, makasih namaku ikut kesebut juga, tapi sepertinya salah link-nya tuh bung robert, hehehe 😀 yang bener http://sawali.info/ yaps, salam merdeka!

  6. Robert Manurung Says:

    @ lovepassword

    saat ini kita memang kalah, dan bahkan dijajah oleh kapitalisme. Tapi, bukan berarti sudah menyerah, pren.

    menjawab pertanyaan Anda, dalam kenyataannya memang belum ada sistem ekonomi lain sebagai alternatif untuk mengimbangi atau menggusur kapitalisme. komunisme pernah mencoba, ternyata bangkrut total.

    tapi, sistem ekonomi campuran “kapitalis-sosialis” di kawasan Skandinavia–yang praktiknya senapas dengan sistem koperasi yang disarankan oleh UUD’45; jauh lebih manusiawi dibanding kapitalisme Amerika dan Eropa Barat yang bersifat survival of the fittest. Kapitalisme di Indonesia malah lebih brutal.

    dan, saat ini Amerika Latin sedang berskperimen dengan sistem neososialisme. kita belum tahu apakah bakal berhasil. sejauh ini manfaatnya baru berupa kedaulatan relatif di bidang ekonomi; antara lain diraih dengan melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan asing.

  7. Lidya Hutagaol Says:

    aku cuma bisa bilang:
    Esai ini KEREN!!!

    teruslah menulis apa yang ingin kau tulis Ito.

    merdeka!

  8. Togar Silaban Says:

    Dunia memang sudah terjajah oleh kapitalisme. Kemana-mana kau pergi, disitu ada Cocacola dan MacDonald.

    Obama pintar melihat situasi, apa yang laku dijual di negerinya. “Change, we believe in” begitu dia bilang, karena warga Amerika sudah suntuk dengan Bush. Dia diuntungkan oleh krisis keuangan Wallstreet, maka dia tembak langsung McCain dan Bush.

    Padahal begitu nanti Obama duduk dikursi Presiden, dia akan disetir oleh para kapitalis Amerika dan Walstreet.
    Sama juga di Malaysia bahkan di Indonesia, meski dalam ukuran lain.

    Merdeka dari kapitalis ???, gimana caranya

  9. SYAHRUL HANAFI SIMANJUNTAK 15 Says:

    Berikan padaku sepuluh anak muda Indonesia yang cerdas, aku akan mengguncang DUNIA !

  10. SYAHRUL HANAFI SIMANJUNTAK 15 Says:

    SCIENCE FOR THE SAKE OF STRUGGLE…!

  11. bumilangit Says:

    saya rasa tak adil untuk nilai tiga jenis batu permata dengan satu neraca yang sama. apa pun, salut saya buat anda!

  12. novita lumbantobing Says:

    @pro bung syahrul hanafi simanjuntak :
    cerdas tidak cukup, seorang pemimpin hrs punya rasa KEMANUSIAAN yg tinggi, sehingga keadilan & kepentingan rakyat menjadi diatas kepentingan (politik) pribadi.

  13. manganju luhut tambunan Says:

    Suka atau tidak, globalisasi meruakan suau kenyataan sejarah yang akan selalu bersama kita.
    kita bukan Soekarno, bukan tan malaka, bukan sisingamangaraja ataupun yang lainnya.. kita adalah anak muda yang memiiki tantangan dan zaman yang berbeda.
    Jika mereka dahulu mengeraskan pegangan tangan pada “bambu runcing”, maka kita sekarang sudah seharusnya menghujamkan jari di keyboard komputer.
    yah itulah .. dan tentunya dengan semangat mutidimensional, katakanlah seorang memiliki disiplin ilmu kedokteran, teknik mesin, Fisika, T.Sipil, dan lainya.. tapi setidaknya jangan lupa melirik sastra, filsafat , ekonomi.
    Hatta membacca Adam Smith, Thomas Khun, Ghandi.. Soearno mengenal baik prinsip Voltaire, Marx, T.Aquinas dan para pemikir2 lainnya.. Sehingga dia daat melihat cakrawala dunia dalam segala bidang jika menggambil keputusan.
    ~salam kenal bang, dari ujung bumi hehh.. mauliate

  14. Syahrul Hanafi Simanjuntak S.15 Says:

    @ pro Ito Novita Lumbantobing

    Iya ya Ito…emang HARUS ditambah KEMANUSIAAN dan juga Cinta Tanah Airnya, apa guna pintar tapi merusak n mambodo-bodohin rakyat,oke Ito Thanks.
    Horas…!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: