Facebook Menautkan Kembali Persahabatan Lama

“Bangsa ini mengalami kebangkrutan intelektual dan kreativitas adalah lantaran Dwifungsi ABRI. Karena kalian tentara itu mendominasi kehidupan sipil. Dan, Soeharto terlalu paranoid, sehingga berusaha melanggengkan situasi darurat, yang membuat bangsa ini kehilangan momentum untuk mandiri,”ujarku ketika itu. Pak Marno menangkis dengan argumentasi yang cerdas, runtut, dan dengan wawasan strategis yang mumpuni.

Oleh : Robert Manurung

BARU SEMINGGU ini aku menjadi warga Facebook, tapi jumlah kenalan baruku sudah mencapai 529 orang! Aku sempat chatting dengan “calon presiden independen” Fadjroel Rahman dan artis monolog Butet Kertaredjasa.

Namun, yang paling mengesankan adalah, ketika pada suatu malam, aku melihat nama Tanya Soemarno-Nielsen di dashboardku, di antara beberapa nama yang “melamar” jadi temanku (add friend). Benar-benar surprise, setelah 10 tahun tak bertemu, tidak pernah kontak sama sekali, dan ternyata dia sudah menikah serta dikarunia Tuhan anak-anak yang manis.

Nama Tanya Soemarno cukup terkenal di kalangan penggemar olahraga tenis di Tanah Air, meski sudah gantung raket pada akhir tahun 90-an. Prestasinya memang tidak secemerlang ibunya, Yolanda Soemarno, juara nasional pada awal tahun 80-an. Namun, Tanya telah mempersembahkan medali perunggu bagi Indonesia di arena SEA Games.

Tanya sudah kuanggap sebagai adikku, a sister that I never have. Kami sangat akrab selama kurun waktu 10 tahun, sejak akhir tahun 80-an hingga akhir 90-an. Kami tak pernah bertemu lagi dan kehilangan kontak sama sekali sejak tahun 1998, meski sama-sama tinggal di Jakarta.

Aku memang “mengasingkan diri secara total” , termasuk dari teman-teman di dunia pers, setelah merampungkan “tugas” sebagai manajer petenis kelas dunia Yayuk Basuki pada 1998.

* * *

AKU sungguh senang dan bersyukur “ditemukan” oleh Tanya di jagat Facebook, dan kemudian merembet ke “anak-anak” tenis yang lain : Aga Soemarno, Agustina Wibisono, Lamsriati Moerid, Vinca Rampen, Yoke Virliana, Marieke Gunawan, Januar Mangitung, Wynne Prakusya.

Nia, panggian akrab Tanya, pasti tidak tahu, dia telah menolongku untuk “berdamai” dan reuni dengan masa laluku; yang merupakan golden years dalam perjalanan hidupku. Dulu, aku meninggalkan Nia dan komunitas tenis yang sudah seperti keluargaku, karena kecewa pada diri sendiri, lantaran tidak berhasil membantu Yayuk menjadi petenis “10 terbaik dunia”.

Dunia tenis pada dekade 80 sampai 90-an adalah panggung penting di Indonesia, yang melibatkan orang-orang politik dan para konglomerat. Di sanalah aku bergaul akrab dan bahkan bersahabat dengan “musuh-musuh politikku” ( karena aku anti Soeharto dan rezim Orde Barunya), yaitu Moerdiono, Aburizal Bakrie, Ponco Sutowo, Arifin Panigoro, Rachmat Witoelar, Soemitro Djojohadikusumo, Soeparjo Rustam, Ginandjar Kartasasmita, Sarwono Kusumaatmadja, Cosmas Batubara, Tanri Abeng, Akbar Tanjung, Fadel Muhammad, Soemarno Soedarsono.

Di lingkungan itu pula aku berkenalan dan kemudian menjadi sahabat dengan Wimar Witoelar, serta sejumlah wartawan yang kini sedang di puncak karir, antara lain Suryopratomo (mantan Pemred Kompas), Arbain Rambey (fotografer Kompas), Jimmy S Haryanto (Kompas), Ian Situmorang (Pemred Tabloid Bola), Hendry Ch Bangun (Wapemred Warta Kota).

* * *

SOEMARNO Soedarsono, ayahnya Tanya, adalah satu-satunya perwira tinggi Aangkatan Darat yang kukenal secara pribadi dengan sangat akrab, pada masa itu. Sebenarnya, waktu bekerja sebagai wartawan di harian Merdeka, sering juga aku ditugaskan meliput acara-acara di lingkungan ABRI atau mewawancarai para pejabat militer. Namun, semuanya itu kukerjakan karena terpaksa, sebab sesungguhnya aku alergi dengan hal-hal yang berkaitan dengan militer, ketika itu.

Pak Marno, demikian aku biasa memanggilnya, seorang tentara dan nasionalis yang bangga dengan panggilan tugasnya sebagai penjaga republik ini. Tubuhnya tinggi besar, suaranya pun besar, dan bicara blak-blakan persis seperti orang Batak. Saat itu pangkatnya Brigjen, dan menjabat Wakil Gubernur Lemhanas.

Jika dibandingkan dengan para jenderal TNI AD lainnya waktu itu, yang umumnya arogan dan sangar, Pak Marno jauh lebih manusiawi. Tidak bersikap mentang-mentang tentara! Sikap moderatnya itulah yang membuat kami bisa bersahabat, meski dia tahu persis aku ini anti Dwifungsi ABRI, dan pandangan kami sangat bertolak belakang mengenai rezim Soeharto.

“Bangsa ini mengalami kebangkrutan intelektual dan kreativitas adalah lantaran Dwifungsi ABRI. Karena kalian tentara itu mendominasi kehidupan sipil. Dan, Soeharto terlalu paranoid, sehingga berusaha melanggengkan situasi darurat, yang membuat bangsa ini kehilangan momentum untuk mandiri,”ujarku ketika itu. Pak Marno menangkis dengan argumentasi yang cerdas, runtut, dan dengan wawasan strategis yang mumpuni.

Kami sering berdebat berjam-jam di rumahnya, sampai kemudian istrinya, Yolanda, menengahi “pertengkaran” itu dengan lelucon gaya Menado, yang memang ampuh mencairkan ketegangan. Aku dan Pak Marno diajaknya berkaraoke, lalu ditertawakannya habis-habisan : karena suara kami berdua sama-sama fals.

* * *

RUMAH pasangan Soemarno-Yolanda sudah seperti rumah kedua bagiku. Aku akrab dengan ketiga anak mereka, Vita, Aga, dan Tanya. Vita menikah dengan lelaki Batak semargaku : Batara Manurung. Dan di rumah itulah, di daerah Cipete, Jakarta Selatan, kami menjalin persahabatan, dan merancang acara-acara kecil untuk kepentingan masyarakat.

Yang sungguh tak terlupakan, ketika aku dan Ibu Yolanda sama-sama menjadi social worker, mendampingi 52 anak-anak penyandang cacat mental dalam event Special Olympic di Connecticut, Amerika Serikat, dan mengikuti seminar tentang mental retarded di PBB di New York, pada 1995.

Di sana, aku sempat makan siang dengan Ted Kennedy, dan berbincang dengan Eunice Shriver (kakak kandung Presiden Jhon Fitzgerald Kennedy, dan juga mertua aktor laga Arnod Schwarzenegger). Aku juga sempat piknik ke menara kembar World Trade Centre di New York, yang beberapa tahun kemudian runtuh akibat serangan teroris.

Tahun-tahun yang manis dan penuh warna itu rasanya tidak akan kembali lagi, karena kami semua sudah berubah, dan pasangan Soemarno-Yolanda sudah sepuh. Tapi, rasa terima kasihku kepada mereka masih tetap sama; karena keluarga itu mau menerima seorang wartawan muda yang kucel, bokek, rada eksentrik, resah dan ultra kritis; menjadi sahabat mereka.

Sekarang, masih dalam suasana surprise dan senang karena bertemu kembali dengan Nia, aku sedang mengecek waktu luangku untuk menjenguk Pak Marno dan Ibu Yolanda. Kalau dengan Nia dan Aga rasanya lebih gampang bertemunya, karena mereka lebih dinamis dan oke-oke saja bertemu di kedai kopi semacam Starbucks.

Terima kasih Facebook.

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

3 Tanggapan to “Facebook Menautkan Kembali Persahabatan Lama”

  1. Syahrul Hanafi Simanjuntak S.15 Says:

    Salam Olahraga, Bung RH !

  2. novita Says:

    facebook tempat nongkrong mantap sekaligus rendezvous.

    tapi ito manurung, saya pernah baca artikel tentang seorang Ilmuwan di University of Georgia yang menyebarkan tes kuesioner kepribadian ke sekitar 130 pengguna Facebook dan menganalisa konten profil mereka. dan dia berkesimpulan bahwa Profil Facebook bisa mencerminkan seberapa narsisnya pemiliknya.
    kadang saya jadi bertanya seberapa gamblang saya membuka diri di facebook sehingga orang bisa mengukur tingkat kenarsisanku?

  3. bambang haryanto Says:

    Bung Robert, horas.
    Salut untuk artikel yang menarik. saya lagi cari akun FB-nya Bung Ian Situmorang/BOLA, malah ketemu blog Anda. Syukurlah.
    Sukses selalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: