Kenapa Perbedaan Sering Berlumur Kekerasan ?

mana mungkin ada harmoni tanpa perbedaan ?

mana mungkin ada harmoni tanpa perbedaan ?

Oleh : Nirwan Dewanto

POTRET yang terdapat dalam lukisan ini manis, namun sang lukisan lebih manis lagi. Kita mengenal potret dari dokumentasi IPPHOS itu: Sukarno, Hatta, Sjahrir—tiga pemimpin puncak dari republik yang baru berdiri—duduk di kursi rotan panjang, di Jakarta, 1946. Tak tampak ketegangan pada wajah ketiganya, bahkan momen itu terasa sebagai jeda dari sebuah obrolan ringan belaka.

Mungkin saja ini semacam potret propaganda yang halus: ketiganya mesti mengatasi perbedaan mendasar tentang bagaimana bersiasat membawa sang republik muda menghadapi kekuatan penjajah lama yang hendak menancapkan diri kembali. Potret ini manis, seakan memperlawankan diri dengan revolusi kemerdekaan yang pahit dan berdarah di sebaliknya.

Pada lukisan karya S. Malela Mahargasarie ini, dinding kembang di latar belakang seperti menegaskan bahwa ketiganya memang hidup dalam perayaan perbedaan; ya, perayaan, sesuatu yang memberkati, membuka jalan. Bukan perpecahan, bukan perseteruan.

Kembang-kembang besar dengan warna mahacerah itu tak memungkinkah kita menyarikan rasa pahit-getir atau muram-dukana dari kehadiran ketiga pemimpin. Bahkan sejumlah kuntum kembang mengambang di atas, atau tumbuh di antara, mereka: demikianlah lukisan ini sengaja berindah-indah, memperindah—atau mengindahkan—diri. Jangan lupa, kata “mengindahkan” (misalnya, dalam “mengindahkan perkataan guru”) berarti pula memperhatikan dengan saksama, atau meresapkan ke dalam diri.

Mengindahkan pengalaman sang tiga serangkai di awal revolusi kemerdekaan itu adalah memetik pelajaran untuk hari ini, di mana perbedaan sering menjadi kutukan.

Di hadapan lukisan, terdapat sebuah sofa rotan di atas dasaran hitam persegi panjang berjerami. Sofa ini, yang serupa dengan sofa dalam lukisan, hangus sebagian besar habis terbakar. Demikianlah, gambaran dwimatra memperlawankan diri dengan instalasi trimatra di depannya.

Bukan saja warna bunga-bunga kian terasa menyala di hadapan warna hitam gosong. Bukan saja putih pakaian tiga tokoh seperti melambangkan apa-apa yang suci murni ketika kita merasa getir memandang rotan yang sudah terbakar itu. Tiga tokoh dari masa lalu, sebuah kursi rotan dari masa kini: apakah sofa nyata itu warisan ketiganya, warisan yang tak mampu kita pelihara?

Kini, kenapa perbedaan sering berlumur kekerasan? Tentu saja, kita bisa menduduki sofa itu jika mau, sebab ia memang ada di depan kita, di antara kita, sementara sang lukisan hanya kita pandang belaka, seperti zaman harum yang tak tersentuh. Atau mungkin kita sekadar bertanya siapakah yang telah membakarnya, sementara kita merasa telah mengindahkan cerita sejarah kita, rasa kebangsaan kita?

Tuan-tuan dan puan-puan, marilah kita belajar kembali apa itu mengindahkan. Maka sang tiga serangkai, latar kembang-kinembang, dan sofa rotan hangus dalam karya yang kita tatap ini bukan lagi sekadar pelambangan, melainkan pengalaman.

sumber teks & foto : facebook-Nirwan Dewanto

Judul asli : TIGA SERANGKAI

Iklan

Tag: , , , , , , , , , , ,

15 Tanggapan to “Kenapa Perbedaan Sering Berlumur Kekerasan ?”

  1. Singal Says:

    benar bang, perbedaan itu kalau dikelola dengan baik akan menjadi harmoni dan enak dilihat (spt sepak bola) dan didengar seperti simphony.
    Mengelola perbedaan perlu pelatih dan dirigen yang hebat dan kuat, hehehe…

  2. miqdad Says:

    hebat benar orang dahulu dalam persahabatan. Mengapa hari ini kian lupus budi pekertinya.

  3. Syahrul Hanafi Simanjuntak S.15 Says:

    Aku bersyukur sekali sebagai anak desa diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa bersekolah di ibukota Jakarta, karena sahabat-sahabatku datang dari seluruh Indonesia dan dari semua agama.
    Ada satu peristiwa yang hingga saat ini berbekas di benakku ketika sahabatku di Jakarta namanya Parhimpunan Simatupang-seorang Kristen Protestan yang taat orang Siantar selalu tak lupa mengingatkan aku saat waktu sholat Jumat, pun ketika ada rapat2 senat mahasiswa dia akan men-skor rapat ketika waktu-waktu sholat datang.
    Hmmmmm INDAH SEKALI BUKAN?
    Makanya aku langsung ingat dia saat membaca tulisan Raja Huta tentang ucapan Selamat Idul Fitri.

  4. Sawali Tuhusetya Says:

    sudah banyak kajian yang mendedahkan betapa perbedaan akan membawa suasana hidup dan kehidupan menjadi lebih dinamis. namun, agaknya fakta juga tak terbantahkan, betapa sulitnya orang menrima perbedaan itu, bung robert. selalu saja ada alasan2 primordial berbasis sara yang dikedepankan sehingga perbedaan begitu sulit diterima, bahkan tak jarang sampai berdarah-darah, haks. semoga saja bangsa dan negeriku bisa belajar untuk menerima perbedaan.

  5. Nad Says:

    Tentang lukisan di atas, saya cuma ingin katakan: things are often not what they seem.

    Nad’s axiom #1: Kebenaran cukup sederhana: dia tidak bisa hadir sekaligus dalam dua hal yang kontradiktif. (Berlaku bagi hukum alam ibarat air tidak bisa menyatu dengan minyak, dan hukum sosial intramanusia ibarat seorang pembunuh tidak bisa mengatakan secara maknawi bahwa dia penyayang manusia.)

    Tentang judul, kenapa perbedaan sering berlumur kekerasan, jawabannya bisa dicari di doktrin-doktrin relijius/sekuler yang mengajarkan kekerasan, revolusi, penggulingan kekuasaan. Nad’s axiom#2: What happens in reality, happens in mind first.

  6. togi sianipar Says:

    Permisi, mau nebeng info penting bang 🙂 .

    IKATAN ALUMNI DEL mengadakan kegiatan penggalangan dana untuk Tobasa, yakni:
    “IA DEL GIVES BACK”.
    http://nataldel2008.wordpress.com

    Mari kita bersama-sama memberikan yang terbaik untuk sesama, dan untuk kemuliaan Tuhan.
    Tuhan memberkati.

    regards
    togi sianipar

  7. indratopklik Says:

    saya salah satu orang yang sangat sedih bila hanya karena beda pendapat muncul kekerasan. semoga bangsa ini menjadi bangsa yang santun

  8. Ajaran Says:

    Pertanyaan simple, jawabannya juga simple…
    Karena ada agama yang tidak bisa menerima perbedaan 🙂

  9. tempo Says:

    Jika tidak ada perbedaan, tidak akan ada kehidupan.. Jika semua sama dan seragam, tidak ada dinamika yang terjadi, berarti kita sudah mati..

  10. Arki Rifazka Says:

    Hidup Kemerdekaan Berekspresi!!!

    Indonesia adalah negara kesatuan, bahkan TNI mengatakan itu sebagai harga mati. Karena memang persatuan nasional itu lebih penting dari sekedar perbedaan kepentingan. Saya setuju sepenuhnya dengan apa yang digambarkan bang RM di tulisan ini. Betapa perbedaan itu sesungguhnya harus saling melengkapi, bukan malah dikotori dengan kepentingan elit atau kekerasan.

    Alam demokrasi adalah alam yang menjawab segala tantangan akan adanya pluralitas dalam masyarakat. Siapapun berhak hidup layak dan mengemukakan pendapatnya di Alam Demokrasi, tanpa terkecuali. Karena Alam demokrasi telah menjamin keberadaan kedua hak yang paling asasi tersebut.

    Perbedaan bukanlah alasan yang tepat untuk memulai kekerasan. Tapi yakinlah banyak orang yang mengungkit perbedaan untuk membenarkan tindak tanduknya. Tinggal sekarang bagaimana kita menentukan sikap, mana jalan yang kita pilih, menjadi catatan kelam sejarah akan kerasnya perbedaan, atau membuat sejarah dimana perbedaan dapat hidup bersama dalam satu zaman di Indonesia kita tercinta ini.

    Kita bertanah, berbangsa, dan berbahasa satu Indonesia

  11. novita Says:

    Kenapa Perbedaan Sering Berlumur Kekerasan ?

    karena minimnya manusia berjiwa besar, legowo untuk menerima perbedaan sebagai pewarna hidup.

  12. Nyante Aza Lae Says:

    klo g ada perbedaan…jg2 salah gandeng istri orang bang?? Horas!

  13. santos Says:

    aduh..merdeka padahal udah dicanangkan sjk th ’45 tp masih ada bnyk saudara kita yang masih menjadikan prt sbg budak…

  14. santos Says:

    kadang perbedaan malah selalu bermasalah…

  15. rotyyu Says:

    Main musik lebih enak kalau alat musiknya tidak sejenis (beraneka ragam), lihat saja orkestra, tapi pemimpinnya memang harus mantap…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: