Archive for the ‘merdeka’ Category

Video Bung Karno, Pidato Mengenai Pembebasan Irian Barat

2 Agustus, 2009

Bulan Agustus telah tiba. Dan Bung Karno, The Man of Character yang tiada duanya sepanjang sejarah Republik Indonesia, seperti hidup lagi dalam ingatan bangsa yang pelupa ini.

Untuk lebih menghidupkan lagi ingatan Anda terhadapnya, silakan klik link di bawah ini. Tonton videonya dan bandingkan bobot nasionalisme serta kepemimpinan Bung Karno dengan para pemimpin Indonesia yang ada sekarang ini : (more…)

Iklan

Munir, Cahaya Yang Tak Pernah Padam (3)

12 November, 2008

munir1

Oleh : Suciwati**

SERANGKAIAN persidangan kasus pembunuhan Munir begitu melelahkan. Tak hanya secara fisik tetapi juga secara mental. Betapa tidak, pada tingkat Mahkamah Agung, Pollycarpus hanya dihukum dua tahun. Polly hanya dinyatakan bersalah melakukan pemalsuan surat, bukan pembunuhan. Semua ini tentu merupakan pukulan sendiri buatku.

Jantungku sakit sekali ketika aku mendengar putusan untuk Polly. Aku merasa kehilangan untuk yang kedua kalinya, kehilangan Munir dan kehilangan keadilan itu sendiri. (more…)

Munir, Cahaya Yang Tak Pernah Padam (2)

12 November, 2008


Pagi itu aku menghadapi kenyataan yang menyakitkan. Benarlah dugaanku bahwa ada yang aneh pada kematian Munir. Hasil otopsi itu menjelaskan dengan gamblang bahwa kematian almarhum adalah lantaran racun arsenik. Racun itu ditemukan di lambung, urine, dan darahnya.

Ternyata dia memang dibunuh…!

Oleh: Suciwati**

DUA bulan kemudian, tepatnya 11 November 2004, Rachland dari Imparsial menghubungiku. Dia mengabarkan ada wartawan dari Belanda ingin mewawancarai. Dia juga bertanya, apakah aku sudah mengetahui hasil otopsi yang dilakukan pihak Belanda terhadap almarhum Munir. Hasil otopsi itu kabarnya diserahkan kepada pemerintah Indonesia melalui Departemen Luar Negeri.

Aku berharap teman-teman memiliki jaringan ke Departemen Luar Negeri. Tapi, rupanya tidak. Aku pun menelepon 108 –nomor informasi—untuk meminta nomer telepon kantor Departemen Luar Negeri. Teleponku ditanggapi seperti ping-pong. Dioper sana-sini. (more…)

Munir, Cahaya Yang Tak Pernah Padam (1)

12 November, 2008
Suciwati (istri alm.Munir) bersama dua buah hati mereka, Allenda & Suukiy

Suciwati (istri alm.Munir) bersama dua buah hati mereka, Allf & Diva

Oleh : Suciwati**

“Kenapa Abah dibunuh, Bu?” Mulut mungil itu tiba-tiba bersuara bak godam menghantam ulu hatiku. Gadis kecilku, Diva Suukyi, saat itu masih 2 tahun, menatap penuh harap. Menuntut penjelasan.

Suaraku mendadak menghilang. Airmataku jatuh. Sungguh, seandainya boleh memilih, aku akan pergi jauh. Tak kuasa aku menatap mata tanpa dosa yang menuntut jawaban itu. Terlalu dini, sayang. Belum saatnya kau mengetahui kekejian di balik meninggalnya ayahmu, suamiku, Munir. (more…)

Kenapa Perbedaan Sering Berlumur Kekerasan ?

23 Oktober, 2008
mana mungkin ada harmoni tanpa perbedaan ?

mana mungkin ada harmoni tanpa perbedaan ?

Oleh : Nirwan Dewanto

POTRET yang terdapat dalam lukisan ini manis, namun sang lukisan lebih manis lagi. Kita mengenal potret dari dokumentasi IPPHOS itu: Sukarno, Hatta, Sjahrir—tiga pemimpin puncak dari republik yang baru berdiri—duduk di kursi rotan panjang, di Jakarta, 1946. Tak tampak ketegangan pada wajah ketiganya, bahkan momen itu terasa sebagai jeda dari sebuah obrolan ringan belaka.

Mungkin saja ini semacam potret propaganda yang halus: ketiganya mesti mengatasi perbedaan mendasar tentang bagaimana bersiasat membawa sang republik muda menghadapi kekuatan penjajah lama yang hendak menancapkan diri kembali. Potret ini manis, seakan memperlawankan diri dengan revolusi kemerdekaan yang pahit dan berdarah di sebaliknya.

Pada lukisan karya S. Malela Mahargasarie ini, dinding kembang di latar belakang seperti menegaskan bahwa ketiganya memang hidup dalam perayaan perbedaan; ya, perayaan, sesuatu yang memberkati, membuka jalan. Bukan perpecahan, bukan perseteruan. (more…)

TOLAK RUU PORNOGRAFI! Karena Garuda Pancasila Bukan Burung Onta…

18 Oktober, 2008

Karena Garuda Pancasila bukan burung onta; yang menyembunyikan kepalanya di pasir ketika bahaya datang; yang menyangkal realitas dengan eskapisme; maka Indonesia harus dijaga dari imperialisme budaya asing–yang puritan, hipokrit, dan merendahkan martabat manusia.

Karena Garuda Pancasila bukan burung onta; melainkan simbol keberanian, kejujuran, dan integritas; maka Indonesia tak boleh berubah menjadi tempat persemaian budaya asing yang membenarkan kekerasan demi kekerasan itu sendiri, gigi ganti gigi, mata ganti mata, dan merendahkan kaum perempuan, (more…)

Mengapa Soeharto Menolak Nasionalisasi Caltex ?

4 Oktober, 2008

Asvi menambahkan, dalam sejumlah arsip bahkan disebutkan Soeharto juga menolak rencana nasionalisasi terhadap PT Caltex. Rencana nasionalisas itu sendiri dibahas dalam pertemuan pada 15 Desember 1965. Pemerintah Indonesia saat itu dipimpin oleh wakil perdana menteri (waperdam) ekonomi Chaerul Saleh.

Namun, ketika pertemuan masih berlangsung, Soeharto datang menggunakan helikopter. “AD tidak setuju Caltex dinasionalisasi,” ujarnya. (more…)

“Haram” Hukumnya Terima CSR dari Korporat Perusak Lingkungan dan Pelanggar HAM (2)

25 Agustus, 2008

Mulyadi (2004), peneliti PSKK-UGM menyebutkan, walaupun sulit mengidentifikasi kapan perusahaan-perusahaan lain, seperti PT Kaltim Prima Coal (KPC), memulai program CSR. Namun, fakta menunjukkan bahwa perusahaan milik Aburisal Bakrie ini merealisasi program-program tersebut secara lebih intensif pada tahun-tahun setelah diberlakukannya otonomi daerah. Kebijakan yang telah memberi kebebasan yang lebih besar kepada masyarakat untuk menyuarakan aspirasinya. (more…)

“Haram” Hukumnya Terima CSR dari Korporat Perusak Lingkungan dan Pelanggar HAM (1)

25 Agustus, 2008

Di daerah tetangga, Dairi, khususnya di Sopo Komil juga demikian. Kehadiran PT Dairi Prima Minerals (1998 ) yang saat ini memasuki tahap konstruksi perumahan dan infrastruktur juga berdampak lingkungan dan sosial yang kompleks dan problematis.

Kehadiran perusahaan Australia ini menimbulkan keresahan sosial dan potensi konflik horisontal antara dua subetnis Batak di sana, karena saling klaim hak atas tanah. (more…)

Tepuk Tangan Untuk Presiden Yang Ingkar Janji

21 Agustus, 2008

Kesimpulannya : SBY masih konsisten berpihak pada pemodal, sambil melalaikan tanggung jawab konstitusionalnya untuk melindungi keselamatan dan kesejahteraan rakyat Indonesia. (more…)

Wawancara Kompas Dengan “Presidennya Orang Miskin”

20 Agustus, 2008

ISTANA UNTUK KAUM MISKIN

Kaki saya sudah berdiri untuk kaum miskin. Tidak mungkin kaki yang sama berdiri untuk dua tempat berbeda. Kalau saya berada di istana kepresidenan, posisi berdiri saya tetap untuk kaum miskin. (more…)

Batas-batas Iklan Politik

13 Agustus, 2008

Untung, wajah demokrasi di Indonesia sudah bersih dari cacat ini. Saya sudah menonton puluhan iklan politik, dari tahun 1999 hingga kini, dan belum pernah melihat iklan negatif yang menyerang seorang calon atau tokoh partai secara pribadi. Dalam hal ini, mungkin ada sesuatu yang AS bisa pelajari dari pengalaman Indonesia.

Oleh : R.William Riddle**

MESKI belum ada calon presiden Amerika Serikat yang diresmikan konvensi partai, baik Republik maupun Demokrat, perang iklan sudah dimulai. (more…)

Ratapan Bangsa Merdeka dari Leo Kristi (5)

12 Agustus, 2008

NYANYIAN TANAH MERDEKA

Seperti satu meriam kala meledak
Seribu bedil adakah berarti
Kalau laras laras sudah berbalik
Apalagi kau tunggu saudara
Ayo nyalakan api hatimu
Seribu letupan pecah suara
Sambut dengan satu kata “ Merdeka ! “
(more…)